6.11.17

Tabungan Burhan - majalah Ummi

Burhan menimang-nimang buku tabungannya. Saldo terakhir sudah mencapai satu juta empat ratus empat puluh lima ribu rupiah. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang tirus. Sudah terbayang di pelupuk matanya, wajah emak yang pasti sumringah saat mendengar rencananya.
            Sampai di rumah, tangisan anaknya yang ketiga menyambut Burhan. Emak berusaha menenangkan Agil yang sedang duduk sambil menangis.
            “Kenapa lagi dengan Agil?” tanya Burhan kepada istrinya yang sedang membuat minuman. Burhan memberi nama Ragil untuk anaknya yang ketiga. Artinya adalah si bungsu. Tetapi kalau sekarang Astuti sedang hamil anaknya yang keempat, haruskah ia mengganti nama Agil? Ah... Siapa pun nama anaknya, hidup tetap harus berjalan. Mungkin nanti adiknya Agil akan ia beri nama Pungkas, yang artinya anak terakhir. Burhan berpikir sambil tersenyum.
            “Kang!” tegur Astuti sambil menyerahkan segelas kopi.
            Burhan tersentak kaget.
            “Sudah dijawab kok malah melamun loh!” Protes Astuti sambil geleng-geleng kepala.
            “Oh ya? Jadi, kenapa Agil menangis?” Bondan mengulangi pertanyaannya sebelum duduk dan mulai menyeruput kopi.
            “Agil ingin membeli es jus di warung Bu Siti, tetapi esnya habis,” jelas Astuti.
            “Kenapa harus nangis?”
            “Ya, udaranya panas begini? Kang Burhan sih, susah dibilangi. Tabungan Kang Burhan itu sudah cukup untuk membeli kulkas. Mungkin nanti aku bisa membuat es mambo untuk nambah-nambah penghasilan.”
Astuti menjelaskan secara panjang lebar. Namun ujung-unjungnya pasti sama. Selalu ingin menguras habis tabungannya. Burhan mengangkat bahu. Astuti bertambah kesal.
@@
            Burhan mengepak baju-baju yang sudah disetrika oleh Marni, ke dalam plastik-plastik besar transparan. Beberapa kali ia harus mencocokkan macam baju yang dikemasnya dengan data yang disodorkan oleh Marni. Ia tidak mau terjadi insiden seperti kemarin.  Cucian baju Bu Anita tertukar dengan milik Pak Doni. Burhan jadi kena tegur Bu Tika.
            Hari ini ia harus mengantarkan baju-baju itu ke pelanggan. Sudah 3 tahun ini Burhan bekerja di Kartika Loundry and Dry Cleaning milik Bu Tika. Sebelumnya ia selalu gonta-ganti pekerjaan. Bu Tika orangnya baik. Makanya Burhan betah bekerja di Kartika Loundry. Bu Tika selalu memberi uang lembur jika pulangnya melebihi batas jam kerja yang telah disepakati. Uang lembur itulah yang selama ini ia sisihkan untuk ditabung. Burhan memiliki sebuah rencana besar. Dan Astuti tidak pernah tahu itu.
            “Itu sprei milik Bu Manda jangan diantar dulu. Orangnya sedang ke luar kota.” Instruksi dari Bu Tika membuat Burhan sejenak menghentikan kegiatannya.
“Baik Bu,” jawab Burhan patuh. Disisihkannya bungkusan plastik berisi sprei berwarna merah jambu itu ke dalam kontainer plastik besar di sebelahnya.
“Burhan, saya ada penawaran...”
“Penawaran apa Bu?” tanya Burhan penasaran.
“Saya ingin membeli satu mesin cuci lagi untuk menggantikan salah satu mesin cuci kita. Mesin cuci kita sebetulnya masih baik, hanya daya tampungnya yang kurang banyak. Kamu  mau membeli mesin cuci yang lama? Nanti istrimu bisa membuka usaha loundry sendiri di rumah?” papar Bu Tika panjang lebar.
“Bu Tika mintanya berapa Bu?”
“Lima ratus ribu saja. Itu merk-nya bagus loh. Paten.”
Burhan berpikir keras. Seandainya tabungannya ia gunakan untuk membeli mesin cuci, berarti tabungannya akan berkurang lima ratus ribu. Itu artinya, tahun ini rencananya akan gagal lagi. Haruskah ia menunda rencananya sampai tahun depan? Akhirnya Burhan menggeleng pelan.
“Baiklah kalau begitu, mesin cucinya akan aku tawarkan kepada Marni atau Jono.”
Bu Tika berlalu. Burhan menyesali keputusannya tadi. Kenapa ia harus menolak tawaran Bu Tika? Tawaran yang datangnya belum tentu setahun sekali. Mungkin belum rejekinya. Lain kali, kalau memang sudah menjadi jatah rejekinya, pasti Bu Tika akan membeli mesin cuci baru lagi, dan menawarkan yang lama kepadanya, hiburnya pasrah.
@@
“Tidak bisa kurang Pak?”
“Itu sudah harga pas. Nanti kalau Mase membelinya pas menjelang hari raya kurban, harganya bisa naik lagi menjadi dua juta.”
Burhan berpikir keras. Kambing berumur satu setengah tahun itu memang gemuk. Cocok dan memenuhi syarat untuk menjadi hewan kurban.
“Uang saya cuma satu juta enam ratus ribu, Pak. Mbok dikurangi dikit to harganya,” rayu Burhan. Dipandangnya kambing itu sambil menelan ludah.
“Ya sudah Mas, satu tujuh lima dah. Itu laba saya sudah mepet loh!” Pak Brewok, penjual kambing itu akhirnya menyerah.
“Lah yang seratus lima puluh ribu?”
“Katanya Mase minggu ini ada lemburan?”
Burhan mengangguk mengiyakan.
“Ya kekurangannya boleh dibayar Sabtu depan, wis ra po po.”
Akhirnya Burhan jadi juga menuntun kambing pulang ke rumah. Emak menyambut dengan gembira. Sudah lama emak ingin berkurban seekor kambing seperti orang-orang di kampungnya. Ia ingat pembicaraannya dengan Emak beberapa bulan silam.
“Mak iri Le, sama Mbak Siti, Pak Haji dan Bu Atun.”
“Kenapa Mak?”
“Mereka selalu berkurban seekor kambing setiap kali hari raya Idul Adha tiba. Pak Haji malah berkurban seekor sapi.”
“Tapi mereka orang mampu Mak, sedangkan kita?” tukas Burhan.
“Tapi berkurban itu perintah Allah, Le. Ada kok dalam Al-Qur’an.” Emak tidak mau mengalah.
Emak memang sangat ingin ikut berkurban. Menjadi penerima daging kurban memang menyenangkan. Tetapi tentu lebih senang lagi kalau bisa mempersembahkan daging kurban. Mata Emak berkaca-kaca. Dan Burhan bertekad untuk mewujudkan keinginan emak itu.
@@
“Apa Kang? Tabunganmu malah kau belikan kambing? Memangnya kita orang kaya, sehingga harus...” Burhan menutup bibir Astuti dengan punggung tangannya.
“Aku ingin berkurban atas nama emak. Yah, aku ingin sekali-kali memberikan kebahagiaan kepada emak.”
“Tapi Kang...” Astuti ingin protes. Tapi Burhan segera meletakkan telunjuknya di depan mulutnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat itulah emak masuk.
“Han, kambingnya betul-betul gemuk ya?” ucap emak. Senyum tak pernah lepas dari wajah tuanya.
“Iya dong Mak. Kambing untuk berkurban memang harus yang gemuk dan sudah cukup umur. Oh ya satu lagi, kambing itu harus sehat,” jawab Burhan dengan mata berbinar-binar.
Hari Raya Idul Adha masih kurang beberapa minggu lagi. Kambing itu harus di beri makan. Astuti tidak mungkin mencarikan rumput dan daun-daunan. Apa kata tetangga nanti, kalau melihat Astuti menggendong seikat daun-daun segar, sementara perutnya sudah semakin membesar. Tidak mungkin Burhan memberi tugas kepada ank-anaknya. Sulungnya baru delapan tahun. Akhirnya emak mengalah. Emak yang akan mencari dedaunan untuk makanan kambing.
@@
Hari itu Bondan boleh pulang lebih awal. Syaratnya, ia harus membawa segulung karpet untuk dicuci di rumah. Bu Tika sangat senang dengan cara kerja Burhan yang cekatan. Oleh karena itu, kadang-kadang Bu Tika mengijinkan Burhan untuk membawa pulang cucian yang bisa dikerjakan di rumah.
Sampai di ujung gang, langkahnya terhenti. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi di rumahnya. Tetangganya berkumpul di rumah sambil berbisik-bisik. Wajah mereka satu warna. Sedih dan prihatin. Hati Burhan merasa tak enak. Ia mempercepat langkahnya dan menghambur ke dalam rumah. Di dalam bilik, ia menjumpai Astuti sedang menangis. Mak terbujur kaku di pembaringan.
“Apa yang telah terjadi Tuti? Ayo katakan, apa yang telah  terjadi dengan Emak?”
Burhan mengguncang-guncang tubuh Astuti.
“Emak, Kang. Emak terserempet mobil saat menyeberang jalan sambil menggendong dedaunan...” Astuti kembali menangis. Ketiga anaknya duduk berjejer di tepi pembaringan. Menatap kosong ke arah jasad neneknya.
“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun... Dua hari lagi Mak. Kurang dua hari lagi keinginan Mak akan terkabul. Mak bisa berkurban. Tetapi kenapa Mak pergi begitu cepat?” bisik Burhan parau.
“Istighfar ya Han. Rejeki, jodoh dan kematian itu semua sudah diatur oleh Allah. Ikhlaskanlah. Insyaallah niat Emakmu untuk berkurban sudah dicatat oleh malaikat.” Pak Haji menepuk lembut bahu Burhan. Burhan semakin tergugu.
@@


2 comments:

Dangdut Koplo said...

Templatenya diganti aja mbak biar kaya majalah padahal artikelnya bagu2 buat dibaca
Aneka Info

Wiwit Setiowati said...

Mbak masih bisa gabung penulis tangguh tidak yaa Mbak?