27.7.17

Gerhana Dua Pekan - Taman Fiksi

Luna menunda langkah untuk memasuki lobby demi mengamati laki-laki yang tengah lekat menatap dinding kaca itu.  Kedua tangannya kaku menghujam ke dalam saku celana.  Mata laki-laki itu menyimpan mendung.  Seperti kompak dengan cucuran hujan di luar sana.
Dari film-film romantis yang pernah dilihatnya, ada semacam gelombang hawa hangat yang terkirim dalam sebuah tatapan yang membuat si objek cepat atau lambat akan sadar.  Dan Luna terlambat untuk mengalihkan pandangannya.  Laki-laki itu sudah memutar badan tepat menghadap padanya.
“Hai.”
Sapaan itu nyaris bersamaan saling mereka lontarkan.
“Mau jemput Ara?  Dia tidak bilang kalau sedang kunjungan ke klien?”
Gerakan jari menggaruk ikal di belakang telinga itu terlihat klise bagi Luna.  Kilas seringai malu di wajah Sanya justru lebih mewakili isi hati laki-laki itu.  Luna menikmati gerak-gerik canggung yang tersaji di hadapannya.
“Aku pikir mungkin Ara balik dulu ke kantor.”
Luna menunjuk jam dinding di atas pintu masuk.  Jarum pendeknya bertengger tepat di angka sembilan.
“Sudah selarut ini.  Hanya manusia bodoh yang lebih memilih berada di kantor daripada tidur nyaman di rumah.”
Satir kalimat itu sebetulnya Luna tujukan untuk dirinya sendiri.  Dia bermaksud menghibur Sanya dengan gurau menyedihkan itu.
Berhasil.  Wajah Sanya sedikit lebih cerah dengan seulas senyum hasil pancingan canda Luna.
“Kalau begitu, aku antar pulang?  Masih hujan di luar.”
Luna menggeleng cepat.
“Kamu kan, sudah tahu di mana rumahku.  Hanya 15 menit jalan kaki dari sini.  Aku bawa payung.  Lagipula mobilmu juga hanya bisa sampai ujung gang.  Tawaran menumpang yang tanggung.”
Sanya terkekeh.  Lagi-lagi Luna menikmatinya.  Suara tawa renyah yang begitu dia rindukan.
“Kalau begitu temani aku makan, bagaimana?  Kafe sebelah  masih buka.  Sekalian kamu menunggu hujan sedikit mereda.”
“Kamu masih penggila pasta, kan?”  Sanya melancarkan godaan untuk menghilangkan ragu yang tersirat di kerut kedua alis Luna.
Kepalang tanggung buat Luna.  Apa salahnya menjalankan peran sebagai manusia bodoh?  Label yang belum lama tadi dia sematkan di dahinya sendiri.  Dan apa salahnya sedikit mengulang masa lalu?
“Baiklah, kalau begitu.”
Kakinya pun bergerak mendahului Sanya.
***
Ketukan jari pada mejanya membuat Luna mengangkat wajahnya.  Entah sudah sejak kapan Ara berdiri bersandar pada pagar kubikel yang mengitari meja Luna.
Luna tidak menyadari keberadaan segelas jus di ujung mejanya kalau saja Luna tidak menunjukkannya.
“Makasih ya, sudah menemani Sanya semalam.”
Luna menurunkan headset dari telinganya.  Ada secuil kecewa karena Sanya menceritakan peristiwa semalam pada kekasihnya.  Jika tidak ada rahasia, tidak ada lagi yang istimewa.
“Eh, iya.  Sama-sama.  Makasih juga sudah ditraktir sama cowok kamu.”
Luna mengamati sosok Ara yang selalu terlihat cantik, chic, dan menganut gaya mode yang berlawanan dengannya.  Sepatu berhak stiletto yang tidak akan pernah sanggup dipakainya.  Setelan blazer yang membuatnya sesak hanya dengan melihatnya.  Juga tas tangan yang tidak akan mampu memuat segala peralatan tempur yang biasa Luna bawa.
“Kamu baru datang, atau baru mau pergi?”
Ara memutar bola matanya.  Bahunya terangkat dan terhempas seiring hembusan napas panjangnya.
“Baru mau berangkat.  Makanya aku buru-buru makan siang, dan masih sempat belikan kamu ini.”  Ara mendorong gelas jus dengan ujung jarinya.  “Jeruk kiwi.  Kesukaan kamu, kan?”
Ara tersenyum menggoda dengan melambai-lambaikan jemarinya dan menghilang di balik pintu.
Luna tertegun.  Jus yang sama dengan yang dia pesan semalam, saat menemani Sanya.
Tiba-tiba sudut matanya menangkap kedip pada pesawat telepon mejanya.  Sengaja Luna mematikan deringnya diwaktu-waktu genting diakhir bulan seperti ini.  Terlanjur melihat, mau tidak mau Luna mengangkat gagang sewarna gading itu.
“Luna, minta tolong ya, temani Sanya ke pameran buku di Gelora.  Kamu suka berburu buku, kan?”
“Eh, ya.”
Rupanya Ara yang menelponnya dari meja resepsionis di lobby.  Dia sedang menunggu jemputan mobil kantor.
“Kalau begitu kamu akan lebih betah menemani Sanya ketimbang aku.”
Berikutnya hanya ‘eh, ya’ yang keluar dari mulut Luna.  Kata Ara, Sanya sudah setuju, dan akan menjemput kapan saja Luna siap.
Luna hanya tidak cukup yakin, akan sejauh mana dia bisa menjaga rasa di hatinya.
***
Luna bergegas dan nyaris melompati setiap genangan air di setapak beton yang membawanya ke ujung gang.  Celetuk menggoda dari mulut sekawanan pemuda di pos ronda di mulut gang tidak diindahkannya.
“Beginilah nasib jomblo paling tenar sekampung.  Memang kenapa kalau sekali-kali malam minggu keluar rumah?”  Gerutu Luna bercampur geram lembut aliran udara dari lubang AC.
“Mungkin mereka iri.  Teman kencanmu ganteng begini,” kelakar Sanya memancing tawa ragu Luna.
Kencan?  Begitukah Sanya menganggap ‘hangout’ berdua mereka beberapa hari ini?  Luna mengenal kencan sebagai bentuk dari suatu hubungan spesial.  Bolehkan aku menganggap hubunganku dengan Sanya ini istimewa?  Luna menyimpan dialog penuh tanya dalam benaknya.
“Hey,” sentuhan jari Sanya pada punggung tangan Luna jelas membuat jantungnya memompa darah lebih cepat.
Kening Sanya berkerut saat menangkap kejut di bahu Luna.  Pandangannya bergantian antara kemacetan malam minggu dan Luna.
“Jangan melamun.  Ayo, tunjukan arah warung steak andalan kamu itu.”
Luna mengulas senyum tipis.  Semburat merah jambu di pipinya terselamatkan oleh minimnya cahaya yang masuk ke dalam mobil.  Dia malu sendiri, saat menyadari romansa yang dia harapkan mungkin hanya sebatas khayalannya saja.
***
“Luna, sesibuk itukah Ara?  Sampai akhir minggu pun dia harus keluar kota  untuk kunjungan nasabah?”
Luna masih ingat roman muka itu meski sudah bertahun berlalu.  Raut wajah kesal dan tidak sabaran yang dulu sering Sanya perlihatkan tiap kali Luna membuatnya kecewa.
“Setahuku ada orang baru di unit Ara.  Sepertinya Ara yang diminta Pak Bos untuk mengenalkan orang baru itu ke klien-klien.  Terutama klien besar.”
Mungkin Sanya bisa menerima penjelasan Luna.  Meskipun rahangnya masih mengeras dan geliginya menggigit bibir seakan geram.
“San, Ara tahu, kalau malam ini kamu keluar sama aku?”
Seperti tersengat sesuatu, tiba-tiba saja warna wajah Sanya berubah.  Seringai bibirnya mengiringi tatapan mata yang bersinar bengal.
“Tidak.”
Hanya ‘Oh’ yang keluar dari mulut Luna.  Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.  Mungkin Luna sudah boleh merasa senang karena akhirnya ada satu rahasia lagi yang menyenangkan untuk disembunyikan.
“Kamu tahu?  Dua bulan yang lalu aku melamar Ara.”
“Oh, selamat ya.”  Cih, Luna sebal dengan basa-basi spontan yang meluncur begitu saja.  Padahal kesenangannya sedang menguap perlahan.
Tak disangka Sanya menggeleng.  Garpu di tangan kirinya mengetuk piringan hotplate membentuk irama yang aneh.
“Ara belum menjawab apa-apa, Luna.  Dia hanya meminta supaya aku menunggu.”
Jauh di dalam dada Luna seperti tercubit.  Heran.  Dia seperti bisa merasakan gemuruh di dada Sanya sekarang ini.  Seorang laki-laki mapan dengan tampang lumayan diminta menunggu saat melayangkan pinangan.  Sudah gilakah kamu, Ara?
Kalau saja Ara tahu.  Sesal yang yang harus Luna tanggung karena ceroboh telah melepaskan Sanya dulu.  Saat mereka masih berseragam putih abu.
“Lalu, kamu merahasiakan ini dari Ara, karena ingin membalasnya?”
Sanya memincingkan mata sebelum melepaskan tawa.
“Kamu juga main rahasia, kan?  Ara tidak tahu kan, kalau kita pernah pacaran waktu SMA?”
Luna bisa merasakan wajahnya menghangat.
“Informasi tentang kita pernah pacaran waktu masih abg tidak terlalu penting.”
Tawa Sanya semakin gelak.
“Aku masih ingat waktu kita bertemu lagi.”
Ya, Luna juga tidak bisa lupa bagaimana dia nyaris gagal menghembuskan udara yang keluar dari paru-parunya.  Mungkin seperti itu rasanya menderita asma, pikir Luna.
Waktu itu Luna terpaksa menjadi penerima tamu di acara Gala Dinner yang diadakan perusahaannya.  Semua staff back office bertugas di acara tersebut, tanpa kecuali.  Lalu Ara, sebagai staff marketing, menjadi tamu yang datang bersama lelakinya, Sanya.
“Padahal kamu cukup bilang kalau kita pernah satu sekolah.  Jadi kita tidak perlu pura-pura belum saling kenal.”  Akhirnya tawa Sanya berhenti juga.
“Lalu, kalau Ara tanya-tanya tentang kamu waktu SMA dulu, bagaimana?  Aku akan lebih sulit lagi menutup-nutupi…”
Sanya memotong.  “Ya, mukamu memang terlalu jujur.  Masih seperti dulu.”
“Jadi, lebih baik seperti ini, kan?”  Luna melepaskan napasnya perlahan untuk menenangkan degup aneh di dalam dadanya.
Luna menganggap diamnya Sanya sebagai suatu penerimaan.  Dia tidak ingin menyiksa diri dengan menebak-nebak apa yang sedang bermain dalam benak Sanya. 
“Berbeda denganmu dulu.  Menjalin hubungan dengan Ara seperti naik roller coaster dengan  mata tertutup.  Kamu tidak akan pernah tahu apakah di depan sana kamu akan terbalik, atau menanjak tajam hingga terengah, atau bahkan terjun bebas tanpa persiapan.  Adrenalinmu memang akan meningkat, tapi sungguh kadang rasanya begitu memualkan.”
Luna menatap bahu Sanya yang luruh.  Dia ragu apakah saat ini dia berada di waktu dan tempat yang tepat?  Jika ada yang bisa disebut sebagai suatu kesalahan, mungkin malam itu.  Malam saat Ara tanpa sengaja mempertemukan kekasihnya dengan cinta masa remajanya.
Tapi mau tidak mau Luna tergoda untuk bertanya.  “Denganku dulu bagaimana?”
Jawaban Sanya membuat Luna menyesal telah bertanya.
“Denganmu dulu, aku selalu tahu.”
Kemudian genderang di dada Luna semakin riuh bertalu.
***
“Luna,” Ara berdiri setengah merunduk di samping meja Luna.  Dia tidak ingin terlihat dari dalam ruangan Pak Bos.
Luna memutar bangkunya dan mendapati sebuah buku mendarat di pangkuannya.
“Apa ini?  Buat aku?”
“Buat Sanya.”  Jawab Ara dengan setengah berbisik.
Lalu cerita Ara mengalir dengan cepat.  Sanya tidak menjawab panggilan telepon dan tidak membalas pesan darinya.  Ara berkesimpulan kekasihnya itu marah.  Dan buku sebagai usaha untuk menawar hatinya.
Luna tidak tahu harus bagaimana menanggapi cerita Ara.  Mana mungkin Luna bilang kalau seharian kemarin dia bersama Sanya mengunjungi hampir semua museum yang ada di Jakarta?
Justru Luna merasa sangat buruk karena kemarin dia merasa tersanjung tiap kali Sanya mengacuhkan dering telepon selulernya.  Dan semakin besar kepala ketika akhirnya Sanya bahkan mematikan teleponnya.  Berbeda dengan detik ini, sehari yang lalu Luna merasa istimewa.
“Kamu mau aku yang berikan buku ini ke Sanya?”
Ara menggeleng.
“Hanya ingin tahu.  Dia suka tidak buku sejenis ini?”
Sekilas Luna sudah membaca sampul bukunya dan sekali lagi dia mengamatinya.  Biografi seorang tokoh ekonomi dunia.  Ara benar-benar seorang marketing sejati.  Sayangnya dia kurang mengenali selera baca kekasihnya.
Luna tersenyum.  “Dia akan suka buku apapun yang kamu beri.”
***
“Justru kemajuan buat Ara.  Sebelum-sebelumnya dia selalu memberi benda-benda yang hanya menempel di badan.  Bukan benda-benda yang meninggalkan kesan.  Seperti buku, misalnya.”
“Kamu sekarang suka biografi?” ujar Luna menyela.
Di tempat yang berbeda Sanya menggeleng.  Lalu menjawab, ‘tidak’, saat sadar lawan bicaranya tidak bisa melihat gelengan kepalanya.
“Tapi aku menghargai usaha Ara.”
Luna menyimpan tanggapannya dalam hati.  Ada sedikit sebal mendengar kesan nada membela dalam ucapan Sanya.
“Lalu, kamu memang marah pada Ara?”
Hela napas tertahan tertangkap oleh telinga Luna.
“Bukan marah.  Hanya butuh waktu untuk berasa dan berpikir.”
Apakah ada aku dalam alam pikirmu?  Tentu saja Luna hanya melabuhkan pertanyaannya dalam angan.
“Tidak menjawab telepon dari Ara juga bukan marah namanya?”
“Itu karena aku sedang bersama kamu, Luna.”
Mungkin kemudian Sanya sadar kalau ucapannya keliru.  Karena setelah itu keduanya terdiam.
Luna memainkan ikal kabel telepon dengan gelisah.  Pandangannya lepas membentur daun pintu ruangan Pak Bos.  Sedang ada meeting di balik pintu itu.  Ada Ara juga di situ.
Kalau saja dulu Luna tidak berkeras mengakhiri hubungannya dengan Sanya setelah lulus SMA, mungkin tidak akan pernah ada Ara yang satu kantor dengannya, ataupun Ara-Ara yang lain.  Luna begitu mengenal hati Sanya, seperti dia memahami betul hatinya sendiri.
“Luna.”
Luna terhenyak saat Sanya mengulangi panggilannya.
“Andai boleh berandai-andai.  Kalau saja dulu aku lebih berkeras dan tidak menyerah begitu saja dengan kemauan kamu.  Mungkin cerita kita akan berbeda.”
Hey…, Luna jengah saat menyadari ucapan Sanya yang sewarna dengan suara dalam benaknya.  Namun, berandai-andai adalah godaan setan.  Dia harus menyingkir sekarang.
“San, Ara sudah selesai meeting.  Jemput dia sekarang.”
***
“Aku bakal kangen sama kamu, Na.”
“Kita masih bisa janjian ketemu, kapan saja, Ra.”
Luna merasakan telapak tangannya mulai basah dalam genggaman Ara.  Tidak, dia tidak sedang gelisah.  Bahkan dari seluruh staff di departemennya, hanya Luna yang tidak terkejut dengan berita pengunduran diri Ara.  Semalam Sanya memberitahunya.
“Bersama Ara memang penuh kejutan.  Rupanya dia sibuk belakangan ini untuk mempersiapkan penggantinya.”  Bara bahagia dalam kata-kata Sanya tidak menyisakan apapun di dada Luna.
“Tanpa berbicara denganku, dia sudah memikirkan semuanya.  Dia ingin fokus mempersiapkan pernikahan kami.  Dia menjawab ‘ya’ atas lamaranku tanpa berkata ‘ya’, Na.”
Luna tidak dapat mengingat gumam klise apa yang dia katakan pada Sanya.  Dia hanya merasa gerhana itu sudah beranjak pergi.  Dua pekan berperan sebagai bayangan, kini dia tidak lagi menghalangi sang matahari.

*****

No comments: