29.10.16

Bros F - Percikan Majalah Gadis


“Yes. Selesai juga!” seru Deeva. Ia tersenyum melihat layar laptopnya.
“Wah, sudah selesai ya? Tidak sabar membaca kelanjutan Cerbung Lilana. Aku jadi penasaran, nih!”  Firly si kaca mata  menghampiri. Buru-buru Deeva menutup layar laptopnya.
“Stt...ini masih rahasia. Enggak seru kalau kamu baca sekarang, tauk!” Deeva pura-pura memberengut. Firly tertawa. Pipinya yang berlesung semakin manis di mata Deeva.
 “Entar juga aku baca, kan aku yang tim lay-outnya!” lelaki itu mencibir.  Deeva tertawa. Ia menepuk jidatnya. Ia lupa, kalau Firly pasti akan membaca naskahnya lebih dahulu dibanding teman-temannya. Ya, mereka satu tim buletin Cerdas. Buletin sekolah yang terbit bulanan, selalu ditunggu oleh seluruh siswa.
“Cerbungmu memang oke banget. Semua orang membicarakan dan menebak siapa yang akan dipilih Liliana. Kupikir, Lilana itu gadis yang mandiri, cantik, cerdas, mirip... ah, jangan-jangan itu emang karakter dirimu, ya?”  Firly menebak.  Hidung Deeva kembang-kempis menahan malu plus bangga.  
“Eh iya, ini untukmu,” Firly menyerahkan sebuah kotak yang terbungkus kertas kado berwarna pink. Deeva ragu menerimanya. Ruang redaksi buletin ini terasa lebih sempit. Dadanya membuncah bahagia. Uhuy, si Firly mau nembak?
“Thanks, ya!” Deeva ingin melompat, tapi ditahannya. Kotak itu disimpannya ke dalam tas.
 “Hei, kita ke kantin, yuk!” tiba-tiba Fina muncul di balik pintu.  Fina menarik tangan Deeva.  Deeva mencari bayangan Firly, tapi sudah tak ada.
**
Di kamar, Deeva tak hentinya tersenyum. Dibolak-baliknya kotak pemberian Firly. Dibukanya rekatan demi rekatan dengan hati-hati. Seakan-akan tak ingin isinya tergores atau pecah. Apa ini? Gumam Deeva. Wow, apakah Firly menyukaiku? Deeva memeluk gulingnya. Diputar-putarnya bros cantik berbentuk bunggaRafflesia. Bunga khas kota Bengkulu, kampung halaman Firly. Di belakangnya tertulis nama Deeva dan sepucuk surat bertulis, ‘Khusus Untukmu dari F’. Deeva nyaris teriak. Jadi benaran Firly nembak nih? Deeva sulit percaya. Ia tak sabar ingin menyampaikan berita ini kepada Fina sahabatnya.
Paginya, Deeva terbangun dengan wajah cerah. Ia tak sabar ingin bertemu Fina. Sampai di sekolah, Deeva segera ke ruang redaksi. Ia melihat Fina sedang merapikan buletin yang hari ini siap dibagikan. 
“Hai, Deeva, tumben datang pagi,” sapa Fina. Deeva nyengir. Ia ragu-ragu ingin cerita pada Fina.
“Ngg... Fin...aku,” Deeva duduk di sebelah Fina yang sedang sibuk merapikan buletin. Deeva kembali ragu. Cerita, enggak, cerita, enggak, cerita... jerit hatinya. Eh, apa itu? Sesuatu berkilat dibalik tas Fina. Astaga! Itu bros yang mirip dengan yang diberikan Firly! Oh tidak! Kenapa Fina juga ada? Deeva menelan ludah.
“Deeva, kau suka kadonya?” tanya Fina.
“Kado apa?” Deeva kaget.
“Yang seperti ini,” Fina melihatkan bros berbetuk Bunga Rafflesianya. “Sengaja kupesan dari Bengkulu loh, bukankah kau pernah cerita ingin sekali melihat Bungga Rafflesia mekar? Jadi, kami pesan dulu brosnya,” ujar Fina.
“Kami?” Deeva kaget.
“Iya, aku dan Firly,” jawab Fina sembari melirik Firly yang baru datang.  Firly membalas senyum Fina. Mereka berdua duduk berdampingan. Saling bertukar senyum dengan manis sekali, tapi terasa pahit dalam pandangan Deeva.
“Kamu suka?” tanya Firly.
Oh tidak! Deeva merasakan lututnya bergetar. Ia seolah-olah menjelma menjadi Bunga Rafflesia yang berbau busuk yang hidupnya menjauh di tengah hutan. Kini, Deeva  ingin berlari sejauh-jauhnya. Ia yakin, ia sudah bertepuk sebelah tangan.


No comments: