21.7.16

Kertas Buram - majalah HAI


“Milik siapa ini?” tanya Pak Togar sambil mengacungkan temuannya saat ulangan matematika berlangsung.
Seisi kelas terdiam. Kepala-kepala yang tadinya sibuk menunduk, memecahkan soal ulangan matematika, terangkat.
“Kertas buram ini, milik siapa?” tanya Pak Togar sekali lagi.
Kertas buram dalam genggaman Pak Togar itu tidak berwarna buram, melainkan ungu keabuan. Agak kusut, namun tulisan yang tertera di atasnya masih bisa terbaca dengan jelas. Pada sudut bawah sebelah kanan terdapat gambar sekuntum bunga mimosa pudica.
Kertas buram itu seharusnya berfungsi sebagaimana kertas buram lainnya, untuk membantu menghitung soal-soal ulangan matematika. Namun sayangnya, kertas buram itu berisi beberapa rumus yang tidak muncul pada soal ulangan matematika kali ini. Karena itulah, Pak Togar menganggap kertas itu sebagai perbuatan curang seseorang.
Ketika Pak Togar menunjukkannya dalam keadaan terbuka, semua mata memandang ke satu arah, Gita. Begitu juga dengan Leo yang duduk bersebelahan dengan gadis itu. Dia memandang gadis yang duduk berbagi meja dengannya itu setengah tidak percaya. Yang dipandang menundukkan kepala dalam-dalam. Itu memang salah satu kertasnya. Dia masih punya banyak yang persis sama. Tapi dia tidak pernah melakukan itu, dia tidak pernah mencontek.
“Gita, benar ini kertasmu?” tanya Pak Togar.
“I-iya, Pak.” Gita mengangguk takut-takut. Tangannya merogoh tas, mengeluarkan kertas yang sama yang masih terjilid rapi.
“Tapi...” Gita baru saja hendak mengatakan sesuatu ketika suara menggelegar Pak Togar kembali terdengar.
“Ulangan kali ini, nilaimu nol, Gita.” Pak Togar mengambil kertas ulangan yang baru sebagian dikerjakan Gita.
Gadis itu diam saja. Tak ada gunanya membantah Pak Togar. Malah akan semakin membuat beliau marah. Masalah nilai, dia akan berusaha lebih keras di ulangan berikutnya.
Hingga bel istirahat berbunyi, Gita tetap duduk diam di samping Leo. Dia sibuk mencoret-coret kertas yang sama seperti yang tadi di temukan Pak Togar. Membuat garis-garis absurd, hanya untuk menghabiskan waktu dan mengusir rasa kesal di hatinya.
“Jadi, bukan kamu yang bikin rumus contekan itu?” tanya Leo pada Gita, ketika Pak Togar melangkah meninggalkan kelas mereka.
Yang di tanya mengangguk sambil tetap menundukkan kepala.
“Iya sih. Enggak mungkin kamu bikin seperti itu.” gumam Leo.
Gadis di hadapannya ini cukup pintar. Tidak ada kesulitan dalam menghapal rumus matematika.
“Mau menemui Pak Togar?” tanya Leo saat Gita beranjak. Gadis itu menggeleng. Tidak saat ini. Pak Togar masih marah. Jadi, apa pun pembelaannya tak akan berguna. Gita bangkit, melangkah keluar kelas.
Setelah Gita pergi, Leo kembali berpikir. Mungkin saja dia ingat sesuatu yang berguna untuk melepaskan Gita dari hukuman Pak Togar. Nilai nol untuk ulangan matematika itu bencana namanya. Apalagi karena dianggap berbuat curang.
Oke, oke, batin Leo, mari kita coba memutar kembali kejadian hari ini.
Pagi ini, kelas masih kinclong ketika Leo datang. Masih sepi. Hanya ada Merry and the gank di sudut kelas yang asik berhaha-hihi sambil membuka buku FISIKA. Pasti mereka lupa mengerjakan PR FISIKA kemarin. Setelah Leo datang, ada Rudi Chairudin. Namanya memang diambil dari nama chef yang terkernal. Itu karena mama Rudi ngefans berat sama Om Rudi yang jago masak. Rudi yang ini mah, jago bolos.
Leo ngobrol sebentar dengan Rudi. Tidak penting. Hanya membicarakan kakak kelas yang sebentar lagi lulus dan pensi yang segera di gelar. Maklumlah, mereka adalah anggota MPK alias Majelis Permusyawaratan Kelas.
Tak lama, Asep, ketua kelas mereka bergabung. Cowok alim satu ini hanya sebentar bergabung dengan mereka, untuk mengingatkan akan ada tamu istimewa pada kajian minggu depan.
“Pokoknya harus datang,” asep mengacungkan telunjuknya sebelum pergi meninggalkan Leo dan Rudi.
“Beres!” Leo ganti mengacungkan ibu jarinya pada Asep. Rudi hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Setelah Asep berlalu, sosok lain datang tergesa menghampiri Leo dan Rudi. “Lihat PR matematika kalian, dong.” Katanya. Sosok ini agak sedikit berbeda. Cowok yang sedikin feminin, menyukai barang-barang feminin berwarna pink, menyukai film-film romantis, tapi sesekali jiwa machonya akan muncul ketika dibutuhkan. Jiwa Macho yang lebih garang dari Pak Sut, Satpam sekolah. Namanya Natan.
Leo dan Rudi saling pandang, memangnya ada PR matematika? Kalau PR FISIKA memang ada, dan Leo sudah mengerjakannya. Tapi...
“Pasti lupa juga ya?” Natan kembali bersuara sembari gaduh mengeluarkan berbagai peralatan kiyut dari tasnya. Kotak pensil berwarna pink segera menghiasi mejanya, membuat Leo dan Rudi berjengit.
“Memangnya ada ya, Tan?” tanya Leo sembari mengintip Natan yang sibuk membuka lembar demi lembar LKS matematika.
“Niiih...” Natan menunjukkan satu halaman yang sudah dia tandai dengan sticky-note warna pink bertuliskan PR. Padahal sudah ditandai, tapi Natan sendiri lupa mengerjakannya. Leo dan Rudi segera kembali ke bangku masing-masing dan mulai sibuk mengerjakan PR. Pak Togar super galak. Siapa yang tidak mengerjakan PR akan mendapatkan hukuman yang enggak lucu, berdiri depan kelas ala anak SD. Enggak lucu banget, kan?
Saat sedang sibuk berkutat dengan PR matematika, teman sebangku Leo tiba. Gita, gadis pindahan dari Surabaya yang rambutnya selalu dikuncir kuda. Leo mendongakkan kepala, tersenyum pada Gita yang segera membalas senyumnya.
“PR matematika, ya?” tanya Gita sambil duduk di samping Leo. Tas selempangnya ia letakkan diatas meja.
Leo menganggukkan kepala. “Sudah bikin?” tanyanya.
Gita mengangguk, “Sudah, dong.” Jawabnya.
Gita menarik buku tulis dan LKS yang sedang Leo tekuni, memeriksa jawaban Leo sejenak.
“Ini masih salah,” Gita menunjuk bagian yang salah dan mulai mengoreksi. Leo mendengarkan. Leo memang lemah pada wanita, eh, matematika. Itu sebabnya ketika Gita menjelaskan, dia dengan senang hati akan mendengarkan. Penjelasan Gita lumayan, kok.
“Paham?” tanya Gita.
Leo menggeleng. Benar, dia belum paham. Bukan karena ingin mendengar suara merdu Gita yang langka. Gita dikenal pendiam di kelas, jarang bersuara.
“Kalau Cuma mendengarkan saja, susah mengertinya. Coba kita kerjakan, ya?” saran Gita. Leo setuju.
Gita mengeluarkan sebuah note berwarna ungu keabuan, bergambar bunga mimosa pudica di salah satu sudutnya. Dia merobek dua lembar kertas. Selembar untuknya, dan selembar lagi untuk Leo.
“Coba kerjakan nomor 2 dulu, yang lebih mudah.” Katanya.
Leo menurut. Dia mulai mengerjakan soal sesuai instruksi Gita.
“Bisa kan?” Gita mengakhiri sesi belajar mereka setelah bel masuk berbunyi. Sebagian soal sudah terjawab. Itu jauh lebih baik daripada tidak mengerjakan sama sekali.
“Gita, aku minta lagi ya?” Leo menunjuk note yang tergeletak di meja. Gita menganggukkan kepala.
Leo menyobek selembar dan mulai mengerjakan soal-soal berikutnya. Kalau sudah paham rumusnya, ternyata memang gampang, batin Leo. Tangannya sibuk mencoret-coret kertas buram hingga tak menyadari Guru FISIKA mereka sudah hadir di kelas.
Sampai di sini, lamunan Leo terhenti. Tidak ada yang aneh. Dan tidak ada petunjuk untuk kertas buram kusut yang kini di tangan Pak Togar itu. Kepalanya mulai pusing.
Sepanjang pelajaran FISIKA berlangsung, tidak ada yang aneh. Leo tidak melihat Gita melakukan tindakan mencurigakan seperti membuat contekan. Sudah pasti Gita tidak akan melakukannya. Sekali lagi, Gita tidak kesulitan menghapal rumus matematika, tidak seperti dirinya.
“Woooii... bengong aja.” Teriak Asep di telinga Leo.
Lamunan Leo buyar seketika.
“Apaan, sih, Sep?” tanya Leo.
“Daritadi dipanggilin malah ngelamun. Mana PR Matematika kamu?” tanya Asep.
Leo meraba lacinya, mengeluarkan LKS Matematika, tapi tidak segera ia serahkan pada Asep.
“Buat apaan? Kamu mau nyontek ya?” tanya Leo curiga.
“Sembarangan! Pak Togar tadi bilang, setelah ulangan, kumpulkan PR yang kemarin.” Asep gondok.
Leo terkekeh. Dia menyempatkan diri memeriksa kembali PR-nya. Eh, tapi kok ada yang aneh? Sebagian jawaban di LKS enggak ada. Padahal dia tadi yakin sudah mengerjakannya di...
Leo menepuk dahinya. Kertas itu, kertas yang ditemukan Pak Togar. Akhirnya dia tahu siapa pemiliknya. Itu kertasnya. Berisi jawaban PR matematika yang tadi ia kerjakan. Sepertinya kertas itu terjatuh ketika dia terburu-buru menyisipkan bukunya ke dalam laci.
“Leoo... mau kemana? PR kamu mana?” teriak Asep.
Tapi Leo sudah terlanjur lari menuju satu tempat. Ruangan Pak Togar. Dia harus bertanggungjawab untuk memperbaiki kesalahan yang ia buat. Nilai nol untuk ulangan matematika itu bencana memang. Sungguh. Tapi dia akan berusaha lebih keras di ulangan selanjutnya.

***

No comments: