16.3.16

Pohon di Atas Makam - Harian Pikiran Rakyat Maret 2016



Kamu menatap pohon yang tumbuh di atas tanah makam, di lereng bukit tepat di belakang rumahmu. Akar-akarnya bertonjolan keluar, seperti otot-otot seorang tua yang menghabiskan waktunya untuk bekerja di bawah terik matahari. Kulit batangnya pecah-pecah digerus musim dan waktu. Daunnya merah kehitaman, sewarna dengan darah yang mulai mengering. Saat kemarau, daun-daun itu akan berguguran terbawa angin ke segala penjuru. Dulu, kamu sangat ingin menebang pohon itu, tapi bapakmu melarangnya.

Pada setiap batang pohon itu ada sebuah kehidupan. Entah pohon itu menghasilkan buah atau tidak, tetapi biarkanlah ia tetap tumbuh. Biar Tuhan sendiri yang memutuskan kalau memang umur pohon itu sudah sampai pada waktunya. Demikian selalu yang diucapkan bapakmu yang lantas diaminkan oleh ibumu.
Menurut ibumu, pohon itu bisa tumbuh subur karena pupuk alami dari daging dan tulang yang tertimbun di bawahnya. Daging dan tulang yang diisap oleh akar-akarnya, lalu dibawa naik sampai ke pucuk daun. Tak heran kalau kamu sering mencium bau langu yang aneh, menguar dari pohon itu. Bau layon (jenazah) manusia yang pasti berbeda dengan bau bangkai binatang yang membusuk.

Kamu sering mengirup bau langu itu terbawa angin, lalu tercium lamat-lamat oleh hidungmu. Kamu mulai niteni (menangkap pertanda), bahwa kalau tercium bau seperti itu, berarti sebentar lagi akan ada jasad yang harus dikebumikan. Waktu kamu masih kecil, kamu akan tersenyum gembira saat mencium bau itu. Bau langu itu berarti rejeki bagi bapakmu. Karena tak berapa lama kemudian, pasti akan ada orang yang menyuruhnya menggali kubur.

Itu berarti rejeki juga bagimu, karena kamu akan mendapat uang recehan yang ditebarkan ahli waris di sepanjang jalan menuju makam. Uang recehan yang jatuh bersama kembang telon dan irisan daun pandan, pengantar jasad orang mati menuju alam kelanggengan. Tak banyak anak kecil yang berani mengiringkan jenazah sampai ke pemakaman. Dan kamu adalah salah satu dari pemberani itu.

Ibumu juga turut merasa senang, karena untuk beberapa hari, ia tak perlu memasak. Beras di tandon akan utuh. Keluarga si mayat akan mengadakan selamatan 7 hari 7 malam. Setiap kali bapakmu pulang dari acara selamatan, pasti dibawanya dua besekan berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Satu besek merupakan jatah bapakmu sebagai tetangga yang turut mendoakan sang arwah. Sedangkan satu besek lagi merupakan jatah bapakmu sebagai penggali kubur bagi si jenazah.

Semakin kamu dewasa, kemampuanmu mencium aroma kematian - lewat bau langu pohon di atas makam - itu, kamu rasakan semakin mengganggumu. Kamu seolah menjadi pembawa kabar kematian, sebelum malaikat maut melaksanakan tugasnya. Setiap kali kamu menceritakan bau langu itu, maka penduduk desamu mulai kasak kusuk, mengira-ira, ruh siapakah yang bakal dijemput selanjutnya.

Pernah suatu ketika, kamu mencium bau langu pohon itu sampai berminggu-minggu, tetapi tak juga ada kabar seseorang meninggal. Penduduk desa mulai menyangsikan kemampuanmu dan keajaiban pohon itu. Namun bulan berikutnya, sebuah peti mati datang dari timur tengah. Sutini yang lama pergi bekerja di Arab, pulang-pulang sudah dalam keadaan terbaring di dalam peti mati. Kamu mulai resah. Bau langu itu lama-lama menerormu dengan bayangan-bayangan buruk tentang kematian.

Mak Hindun - orang tua yang sudah lama terserang lumpuh - sering memanggilmu hanya untuk menanyakan kepadamu, apakah kamu sudah mencium bau itu. Rupanya mak Hindun ingin segera dijemput ajal. Rasa bosan hidup mulai melandanya, karena terus menerus menjadi beban bagi keluarganya. Namun keinginannya belum juga terkabul. Setiap kali, kamu melaporkan bau langu itu kepadanya, justru anak-anak atau bayi yang baru berumur beberapa hari, dipanggil terlebih dahulu. Umur bukan menjadi penentu datangnya ajal bukan? Dan saat kamu menatap raut kecewa di wajah mak Hindun, kamu semakin menyesali kemampuan yang kamu miliki.

Sudah beberapa bulan, pohon itu tidak menguarkan bau langu lagi. Hal itu cukup melegakanmu. Dan semakin memperkuat keinginan dalam benakmu untuk menebang pohon itu. Agar bau langu layon itu tidak lagi menerormu, dan kamu bisa hidup sebagai  manusia biasa. Tetapi keinginanmu tak pernah mendapat persetujuan, baik oleh ibumu sendiri, lebih-lebih bapakmu.

Kalau pohon di atas makam itu tidak boleh untuk dienyahkan, maka kamu sendirilah yang harus pergi dari kampung halamanmu. Itu sudah menjadi keputusanmu. Bapakmu tak bisa mencegah kepergianmu dan ibumu mengurai kesedihan atas kepergian anak semata wayangnya.
Berbilang tahun kamu meninggalkan kampung halamanmu dan menjadi perantau yang sukses. Kamu mulai melupakan langu yang menguar dari pohon di atas makam itu. Meskipun sesekali kerimbunan pohon di atas makam itu hadir dalam mimpi-mimpimu, namun bau langu itu tak pernah kau rasakan lagi. Ia hanya tinggal menetap, mengendap dalam dasar palung ingatanmu. 

Kamu sangat rindu kepada orang tuamu, tapi tidak pernah terbersit keinginan untuk pulang. Kamu sangat takut bau langu itu akan kembali menyerangmu. Kamu mulai membujuk orang tuamu untuk mau tinggal bersamamu. Namun bapakmu punya pendapat yang berbeda. Baginya, bekerja adalah sebuah bakti. Dan pohon itu sudah seperti sahabat bagi bapakmu. Ia telah berjanji tak akan meninggalkan pohon itu, sampai jasadnya sendiri yang diundang, untuk memeluk akar-akar pohon. Merelakan sari pati tubuhnya diisap oleh pohon.
Biarlah, kalau hidup dan matiku memang harus bersama pohon itu. Mungkin sudah suratan takdirku harus menjadi seorang penggali kubur seumur hidupku. Demikian kepasrahan bapakmu, yang menghadirkan ngilu dalam hatimu.

Suatu hari, setelah bertahun-tahun kamu melupakan bau langu pohon itu, tiba-tiba hidungmu menangkap bau itu lagi. Bau yang mulai mengganggumu. Itu terjadi sore hari, sepulang kamu dari bekerja, saat kamu sedang duduk-duduk di teras rumahmu. Cuping hidungmu sampai bergerak-gerak beberapa saat, macam tak percaya. Bagaimana mungkin, jarak ribuan kilo meter bisa dilampaui oleh sebuah bau?
Kamu mulai gelisah. Apalagi setelah berhari-hari, dan bau itu tak juga hilang dari indra penciumanmu. Istrimu juga ikut resah. Ia mengajakmu untuk membersihkan seluruh ruangan dalam rumahmu. Kolong-kolong tempat tidur kamu bersihkan. Loteng dan ruangan di atas langit-langit kamu tengok. Barangkali ada bangkai tikus atau bangkai binatang yang lainnya, ada di sana tanpa sepengetahuanmu. Kamu menyadari bahwa tindakanmu itu sia-sia belaka. Karena kamu tahu, bau langu dari layon manusia itu jelas berbeda dengan bau bangkai binatang yang membusuk.

Kamu mulai dilanda rasa ketakutan luar biasa saat mengingat usia bapakmu yang mulai renta. Mungkinkan bau langu itu pertanda bahwa sang pohon telah menginginkan jasad bapakmu? Di saat kamu merasa belum berbuat apa-apa untuk bapakmu, dan pohon itu justru menginginkan jasad bapakmu. Lantas siapa yang akan menggali kubur bagi bapakmu, sedangkan bapakmu adalah satu-satunya penggali kubur di desamu? Berbagai pertanyaan berdentam-dentam memenuhi kepalamu. Membawamu kepada sebuah keputusan. Pulang.

Pagi itu, dengan kereta yang pertama kamu gegas pulang ke desamu. Peluit kereta, bagai peluit kematian yang menyentakkan kesadaranmu akan bau langu yang telah memanggilmu untuk pulang. Bahkan bapakmu sendiri tak bisa memaksamu untuk pulang, tetapi bau yang diuarkan pohon itu mampu membawamu kembali ke desamu.
Turun dari kereta, kau sambung perjalananmu dengan naik bus antar kabupaten. Turun di sebuah pertigaan, kamu lalu mencari tukang ojek yang biasa mangkal untuk mencari penumpang. Angin pegunungan membelai wajahmu, menghapuskan bintik-bintik keringat kecemasan yang memenuhi wajahmu. Dan bau langu layon itu terus menemanimu sepanjang perjalanan pulang. Semakin lama semakin menyengat dan menusuk.

Lalu kamu mulai bertanya-tanya dengan penuh cemas tentang kabar bapakmu. Jawaban dari tukang ojek, cukup melegakanmu, karena ternyata bapakmu baik-baik saja. Hanya saja, tanah makam di belakang rumahmu di mana di atasnya tumbuh sebatang pohon itu, sebentar lagi akan digusur. Seorang pengusaha di bidang properti telah berhasil mendapatkan ijin dari pemerintah daerah. Ia akan membangun sebuah resort di atas makam itu. Desamu ternyata sudah menjadi desa wisata. Rumah-rumah menjelma home stay, kebun dan sawah menjadi sarana field trip bagi para pelajar, sungai yang membelah desa telah menjadi wahana arung jeram.

Tanah makam itu memang berada di tempat yang agak tinggi, tepatnya di lereng bukit. Orang-orang akan bisa menyaksikan view kota yang bagus, bila saja makam itu dipugar untuk dibangun menjadi sebuah resort. Tapi bapakmu tidak rela jika makam itu dipugar dan pohon itu harus ditebang. Kamu mulai menyadari ‘pesan’ dari bau langu yang telah mendatangimu beberapa hari yang lalu.
Kamu memutuskan untuk pergi ke kantor kecamatan, kantor kabupaten, bahkan mungkin sampai ke dinas pariwisata. Kamu yang dulunya sangat ingin menebang pohon itu, kini berkeinginan sebaliknya. Kamu ingin pohon dan makam itu dipertahankan, karena pohon dan makam itulah sumber kebahagiaan bagi bapakmu.

Malam gelap pekat diguyur hujan yang sangat deras. Pagi itu kamu harus pulang membawa kekalahan. Segala usahamu ternyata mengalami kegagalan. Namun berita di televisi telah menyentakkanmu. Membawamu kepada sebuah kesedihan dan makna baru dari bau langu yang telah membawamu pulang ke desamu. Bukit di belakang makam itu telah runtuh, menimbun pohon, makam dan seluruh penduduk desa. Maka tak diperlukan lagi seorang penggali kubur. Janji telah dibayarkan. Bapakmu kini telah berbaring bersama pohon itu.

Dan bau langu itu kini semakin menusuk indra penciumanmu. Mungkin bibit pohon yang sama kini telah tumbuh di hatimu.

No comments: