30.11.15

Sahabat Sejati - Solo Pos


“Kamu ikut futsal saja Ngga,” usul Hilal saat Angga bingung mau memilih ekskul.
“Kamu sendiri bagaimana? Masih setia dengan melukis?” Hilal tersenyum dan Angga sudah tahu pilihan Hilal. Sejak kecil, Hilal memang pintar menggambar. Angga pun sering minta dibuatkan gambar untuk dipajang di tembok kamarnya.
Sejak saat  itu Angga sibuk berlatih futsal. Dan akhir-akhir ini, Angga sering pulang bersama Edo. Tak ada lagi yang menemaninya berjalan kaki saat pulang sekolah.
“Coba lihat saat Angga bertanding. Kalian bisa pulang bersama-sama,” usul ibu saat Hilal mengeluhkan pertemanan mereka yang mulai renggang. Dan Hilal menuruti saran ibu.
***
Siang yang terik tak menyurutkan penonton untuk berjejal di tengah lapangan. Sorak sorai penonton mengalahkan suara komentator pertandingan. Hilal memilih berteduh di bawah pohon flamboyan sambil memandang ke tengah lapangan. Beberapa kali Angga melempar senyum dari tengah lapangan. Hilal menjadi lega dibuatnya.
“Selamat ya, tim kalian menang lagi.” Hilal mengulurkan tangannya pada Angga. Angga terdiam beberapa saat lalu tertawa.
“Ini kemenangan sekolah kita Hilal.” Hilal mengangguk lalu meringis. Angga merangkulnya lalu mengenalkan Hilal pada seseorang.
“Edo, kenalkan ini sahabatku sejak kecil, namanya Hilal.” Seorang anak laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit putih yang menjadi penyerang menengok ke arah Hilal.
“Edo,” sapanya sambil mengulurkan tangan. Hilal menyambutnya dengan antusias. Edo adalah murid baru. Prestasinya di bidang olahraga futsal membuatnya langsung diajak bergabung ke klub futsal oleh Pak Rudi.
“Jadi kita bisa pulang sekarang?” tanya Hilal pada Angga. Angga tampak kaget lalu buru-buru menoleh pada Edo.
“Hilal, sore ini kami mau pergi ke toko untuk membeli perlengkapan tim.” Mendengar jawaban Edo, Hilal mencoba menarik kedua ujung bibirnya agar bisa tersenyum. Setelah melihat Angga diam saja, Hilal langsung berlalu sambil melambaikan tangan pada Angga dan Edo.
***
            Di tengah jalan, hujan turun. Hilal mengeluarkan payungnya tapi urung membukanya. Tangannya sibuk membungkus payung dan tasnya dengan kantung plastik. Hilal memutuskan untuk hujan-hujanan di sepanjang jalan.
“Coba kamu ikut hujan-hujanan, Ngga…” gumam Hilal lirih. Tiba-tiba ada yang terasa kosong di dadanya.  Tak lama kemudian mobil Edo lewat dan sopirnya mengklakson. Hilal pura-pura tidak mendengar dan makin asyik bermain air hujan. Hilal berpikir buat apa memikirkan Angga yang sudah memilih pergi bersama teman barunya.
“Boleh aku temani?”
“Loh, bukannya kamu sama Edo, Ngga?” tanya Hilal dengan kaget. Kepalanya celingukan mencari mobil Edo tapi di sekitar mereka hanya ada gardu tempat Angga menunggu Hilal.
“Aku mau main hujan bareng kamu Lal.”
“Oh, aku kira kamu sudah lupa sama aku. Kamu kan sudah punya teman yang keren,” sungut Hilal tanpa melihat Angga.
“Begitu saja marah. Kamu juga keren kok, jago menggambar.” Hilal malu ketahuan kesal saat Angga memilih pergi dengan Edo.  
“Begini-begini aku setia kawan lho. Sibuk boleh tapi dilarang keras melupakan sahabat.” Angga mencipratkan air hujan ke muka Hilal dan Hilal membalasnya. Berikutnya mereka saling lempar tanah basah. Siapa yang tidak pandai berkelit, bajunya akan kotor.
“Maaf ya aku sudah mengira kamu nggak mau berteman sama aku lagi. Ayo main ke rumahku. Hari ini mama masak soto ayam,” ucap Hilal kemudian.
“Wah, itu makanan kesukaanku. Pas juga dimakan saat hujan begini.” Setelah tertawa bersama, keduanya langsung berlari menuju rumah Hilal. Keakraban mereka berdua mampu menghadirkan kehangatan di tengah dinginnya udara akibat hujan.


No comments: