8.11.15

Go Green - Percikan majalah Gadis

     “Enggak usah pakai tisu, Ma. Mulai sekarang pakai sapu tangan aja,”
Mama sudah pusing sejak seminggu lalu. Pusing dengan ceramah Mia. Dari mulai tak boleh beli tisu, ke mana-mana bawa botol minum, beli sayur bawa mangkuk sendiri alih-alih pakai plastic dari si penjual seperti biasa, 
     “Duh ribet. Itu keluh Mama dan si Jo, adik Mia.
      “Ini demi masa depan bumi kita. Sekarang bumi mulai rusak karena ulah kita. Nebang pohon sembarangan. Sekrang malah ngebakar hutan. Mereka itu memang tidak sadar kalau menghancurkan masa depan.” Ceramah Mia. Bibirnya bergerak cepat, matanya melebar, tangannya bergerak ke sana ke mari. 
     Mama dan Jo manggut-manggut.
      ‘Mulai sekarang, mama tak boleh buang plastic sembarangan. Lebih baik, sih, dibakar. Karena plastic butuh waktu 500 tahun untuk bias hancur, padahal kita pakai paling cuma 5 menit!”
Mama dan Jo berpandangan. Kening mereka berkerut. Mia tambah semangat.
      “Berita buruknya lagi, Indonesia menyumbang sampah plastic 10 % di dunia. Penyumbang terbanyak setelah China. Malu, kan, kita?”
      Mama dan Jo manggut-manggut. Lagi.
     Jadi, ceritanya sudah hampir sebulan ini Mia ikut dalam kelompok Ijoku. Kebetulan, ketua Ijoku tetangga Mia. Dana. Cowok cool, yang ke mana-mana memakai sepeda federal-nya plus helm ala orang luar negeri. Sudah lama Mia penasaran dengan kenalan. Sebetulnya Mia naksir juga, sih. Tapi      Dana tidak satu sekolah dengannya. Mau pura-pura pinjem buku atau soal, juga tak mungkin, karena Dana satu tingkat di atas Mia.
     Ketika ada brosur yang dibawa mamanya, setelah PKK, Mia tak perlu berpikir lagi. Brosur berisi perekrutan anggota baru Ijoku itu diketuai Dana. Duuh, Mia jadi semangat. Semangat ketemu Dana, sih, sebetulnya. Waktu Dana menjelaskan sejarah Ijoku, misi dan visi, serta aksi yang dilakukan, dngan antusias Mia menyimak, tapi wajah Dana yang lebih dia hafal daripada isi penjelasannya. Sampai-sampai Dana senyum-senyum setiap kali melirik Mia.
     “Aku bangga sama kamu, Mia,” puji Dana saat mereka mengadakan aksi menyebar brosur ke seluruh kompleks. Brosur ajakan menghindari pemakaian plastic. Tak hanya itu, mereka sekaligus memunguti sampah plastic di seluruh kompleks.
      “Kenapa memang?” Tanya Mia sedikit gugup karena pujian Dana, sekaligus tak bias menahan senyum. 
      “Aku piker kamu anak mama yang manja,” Dana melirik Mia sambil terkekeh.
“Ih, enak aja nuduh,” Mia melempar botol plastic bekas air mineral ke arah Dana. Pipi Mia merah. Kali ini bukan hanya karena sengatan matahari di atas tapi sengatan matahari di depannya bernama Dana.
Sudah dua kali pertemuan, Dana tak keliatan. Sebagai gantinya, Bagus, mahasiswa baru yang menggnatikan Dana.
      “Memangnya Dana ke mana, sih, Kak?” Mia tak tahan untuk tidak bertanya.
      “Lho, kamu nggak tahu? Dana sedang persiapan kuliah ke Swedia.”
      Bibir Mia melongo. Berita sepenting itu, dan Dana tak pernah membicarakannya dengan Mia. Dana memang tidak pernah mengajak Mia jadi pacarnya. Tapi, sejak bergabung dengan Ijoku, Dana dan Mia jadi akrab. Bahkan beberapa kali Dana main ke rumah Mia. Apakah itu tidak cukup bagi Mia untuk tahu berita sepenting itu dari Dana?
       Mia terpekur di kamarnya. Air mata menetes satu-satu. Gumpalan tisu bertebaran di seluruh tempat tidurnya, di lantai, di meja belajar. Dana sudah berangkat ke Swedia, bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun pada Mia. Sakitnya hati Mia.
      Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka. Mama dan Jo terbelalak melihat kondisi Mia dan kamarnya.
      “Ih, Kakak kok pakai tisu, sih? Sedih sih sedih, tapi inget dong Kakak sudah menghabiskan satu pohon. Padahal satu pohon butuh waktu 6 ta ….”
     Hmptt. Mia membekap mulut Jo lalu mendorongnya keluar kamar. Teganya, si Jo. Mia sekarang sudah tak peduli pada aksi-aksi Ijoku. Dia marah pada Dana. Dada Mia naik turun. TIba-tiba layar ponselnya menyala. Dana? Mia ragu, tapi dia segera menghidupkan layar Skype. Wajah Dana yang tampak lelah tapi penuh senyum tampak.
     “Hai Mia apa kabar? Maaaf banget ya aku baru kasih kabar sekarang. Semua memang serba mendadak. Makanya sekalian aja aku bikin surprise buat kamu. Oh ya, tolong ya, meski tak ada aku kamu tetap aktif di Ijoku. Aku sudah minta Kak Bagus supaya mengangkatmu jadi sekretaris Ijoku.         Mau, kan, Mia?” Senyum Dana lebar.
     “Em .. em … aku.” Mia kebingungan. Ternyata Dana masih ingat padanya. Tapi, dia telanjur marah. Mia melirik tebaran tisu di sekitarnya.
     “Eh Mia, itu di sampingmu apaan, sih?” Wajah Dana makin besar, berusaha melihat.
      “Oh … ini prakaryaku,” Mia cepat-cepat menyambar gumpalan-gumpalan tisu sekenanya. Di pintu kamarnya, Jo tertawa cekikikan.

2 comments:

dian nafi said...

mantap deh :)

Rien rin said...

Makasih mbak dian nafi