23.11.15

Gara-Gara Papa - majalah BOBO

Hari sudah malam tapi Maya belum bisa tidur. Maya terus membayangkan esok hari. Maya beserta papa dan mama akan mengunjungi rumah beruang madu. Beruang madu adalah maskot kota tempat Maya tinggal. Maya tinggal di Balikpapan.
          “Beruang madu itu seperti Winnie the Pooh, Ma?” Maya bertanya lagi pada mama. Maya ingat kalau Winnie the Pooh itu beruang madu yang suka makan madu.
          “Beruang madu kan banyak gambarnya, Maya. Yang seperti itu nantinya ada di KWPLH itu.” Maya mengangguk-angguk. Di Balikpapan memang sering sekali ada gambar beruang madu. Tapi maya belum pernah melihatnya secara langsung.
KWPLH itu singkatan dari Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup. Letaknya ada di kilo 23, jalan ke arah Samarinda. Maya akan berlibur ke sana besok dengan papa dan mama. Maya sudah tak sabar menanti hari esok tiba. Apalagi kata Tika yang sudah pernah ke sana, udara di sana segar sekali. Banyak pepohonan hijau di sekitarnya. Juga ada rumah kucing. Maya tambah bersemangat ingin ke sana.
“Apa kamera sudah diisi baterainya, Ma?” Maya muncul lagi di hadapan mama. Maya ingin memotret beruang madu besok.
“Sudah, Maya. Ayo cepat tidur, jadi besok segar dan enggak ngantuk.” Maya mengangguk. Dia pun ke kamar, berdoa dan tidur.
Esok harinya Maya bangun dengan semangat. Hari ini adalah hari yang dinanti Maya sejak lama. Kata papa mereka akan berangkat sekitar jam 8 pagi. Beruang madu akan diberi makan jam 9 pagi dan jam tiga sore. Ketika proses diberi makan itu bisa membuat para pengunjung melihat beruang madu keluar dari tempat persembunyiannya untuk makan.
Maya sudah siap untuk sarapan. Tapi hanya mama yang menyuguhkan nasi goreng di ruang makan.
“Papa sudah sarapan, Ma?” Maya menyendok nasi goreng dan menyuapnya. Tidak ada jawaban dari mama. Maya melirik mama yang sedang mencuci piring. Mungkin mama membereskan dapur dulu sebelum mereka berangkat.
“Papa sudah siap, Ma? Kita berangkat jam 8, kan?” Kata Maya lagi setelah menyelesaikan sarapannya. Mama duduk di samping Maya.
“Maya, ke rumah beruang madunya kita tunda, ya.” Mama berkata sambil mengelus rambut Maya. Maya kaget mendengarnya.
“Kenapa ditunda, Ma?’Maya langsung bertanya.
“Papa ada operasi penting. Kan tugas Papa menolong pasien, May. Ini kondisi darurat. Kalau enggak segera dioperasi, pasiennya bisa bahaya. Jadi, Papa minta maaf ke Maya…” Maya sudah tidak mendengarkan mama lagi. Maya berlari menuju kamarnya, langsung berbaring di tempat tidurnya dan menangis.
Maya tahu tugas papa sebagai dokter adalah menolong pasien. Tapi rencana liburan ini sudah sangat dinantikan maya. Tadi malam Maya sampai bermimpi bertemu beruang madu saking penginnya pergi ke sana. Gara-gara papa rencananya harus batal.
“Kita ke sana minggu depan ya, May.” Mama sudah duduk di sisi tempat tidur Maya.
“Kita doakan semoga operasi papa berhasil.” Mama menepuk pundak Maya. Maya mendengar langkah kaki mama yang keluar dari kamar Maya. Maya tetap menggerutu kesal. Minggu depan kan 7 hari lagi, itu masih lama. Maya ingin bilang ke mama kalau mereka bisa berangkat sore hari nanti. Tapi Maya tahu setelah operasi papa pasti butuh istirahat. Apalagi besok senin papa juga akan kembali bekerja. Maya kembali menangis dan kemudian tertidur.
“Mayaaa…” Suara teriakan Mama membuat Maya terbangun. Maya mengucek matanya dan melihat ke arah jendela. Di luar hujan deras sekali. Maya mendengar lagi suara mama memanggilnya. Dia bergegas menemui Mama.
“Gentengnya bocor, May. Selamatkan buku-buku kamu. Nanti basah.” Mata Maya terbeliak melihat tetes-tetes air di sekitar lemari bukunya. Mama menaruh ember dengan handuk di dalamnya untuk menampung tetes-tetes air hujan yang bocor. Maya segera meraih buku-bukunya. Bolak balik memindahkan buku-bukunya ke dalam kamar.
Hujan masih turun dengan deras. Maya sudah selesai memindahkan buku-bukunya ke dalam kamar. Tempias air hujan membasahi lemari buku Maya. Mama menaruh handuk juga di sekitar lemari. Agar lemari tidak rusak kena air. Maya memandangi tetes-tetes air yang jatuh ke ember sambil memikirkan kejadian hari ini.
Gara-gara papa ada operasi, mereka batal pergi ke rumah beruang madu. Jadi, Maya bisa menyelematkan buku-bukunya karena genteng yang bocor. Maya tidak bisa membayangkan kalau buku-buku kesayangannya basah kena air.
Saat papa pulang, Maya menyambut papa dengan senyum. Maya juga membikin teh hangat buat papa.
“Biar Papa tetap sehat jadi minggu depan kita bisa ke rumah beruang madu.” Papa berterimakasih pada Maya. Maya tersenyum, dia juga berterimakasih pada papa.
***



No comments: