26.9.15

Mewarnai Sadin - majalah Gadis September 2015

Sadin ingin mewarnai tubuhnya yang putih serupa susu itu. Mungkin dengan sedikit warna cokelat yang eksotis, yang datang dari hangatnya sinar matahari pagi. Gadis itu sering berkhayal, alangkah menyenangkan bila bisa berlama-lama berjemur di halaman rumahnya. Berdiri, atau mungkin lebih nyaman duduk di bangku taman, merasakan cahaya yang menyentuh wajah dan setiap jengkal tubuhnya. Namun, ia tahu, hal itu akan sulit dilakukan.
            Meskipun demikian, Sadin tetap merasa hal itu pantas untuk diimpikan. Karenanya, ketika Bu Lanis bertanya tentang mimpinya, ia tak ragu menjawab.
            “Mewarnai tubuhmu? Bisa kamu jelaskan maksudnya?” Bu Lanis menatap Sadin penuh minat.
            Sadin terdiam sebentar. “Aku ingin kulitku semerah ceri. Aku suka membayangkan mengecat rambut, alis, dan bulu mataku, hingga mereka menjadi biru, hijau, dan kuning terang. Aku suka bila seluruh tubuhku penuh warna.”
            Suara tawa mulai terdengar memenuhi kelas. Namun, Bu Lanis tersenyum penuh pengertian, sama sekali tidak merasa terganggu dengan tawa bernada cemoohan itu.
            “Pasti sangat menyenangkan bila hal itu bisa terjadi, Sadin. Semoga kamu bisa segera menemukan caranya, ya...”
            Sadin mengangguk, samar dan ragu. Mungkin, seharusnya, mimpinya tetap menjadi rahasianya sendiri. Tapi, ketika ia mendengar satu per satu teman sekelasnya mengungkapkan impian mereka masing-masing, Sadin pikir hal itu tidak mengapa. Sekonyol apa pun impian itu, setiap orang berhak memilikinya, bukan? Dan di antara riuh pikirannya sendiri, ia mendengar Diaz bersuara di belakangnya.
            “Aku ingin menghasilkan karya yang akan dikenang orang hingga puluhan tahun yang akan datang.”
            “Kira-kira, apa yang akan kamu buat, Diaz?” Bu  Lanis bertanya serius.
            Sadin memiringkan tubuhnya, lalu menoleh ke belakang. Memangnya Diaz akan membuat apa? Menara Eiffel yang lain? Sungguh, Sadin penasaran betul dengan apa yang akan dijawab cowok itu. Pandangan mereka bertemu. Mata Diaz tertawa, dan sudut-sudut bibirnya tertarik ke samping.
            “Aku akan mewarnai Sadin, Bu Lanis. Aku akan membuatnya berwarna.”
            Sadin ternganga, tidak memercayai pendengarannya. Diaz terlihat begitu bersungguh-sungguh hingga membuat Sadin tidak bisa berkata-kata. Gadis itu lalu buru-buru membalikkan tubuhnya, sambil berusaha meredam suara riuh di sekelilingnya, yang mendadak memenuhi kepalanya. Oh, entah, semerah apa pipinya kini!
*
            Oke. Mungkin, cowok itu sedang sedikit gila. Sadin menghibur dirinya sendiri di perpustakaan yang sepi dan dingin. Tangannya sibuk mencoret-coret kertas kosong di hadapannya, mencoba mengalirkan kekesalan hatinya. Bagaimana bisa Diaz mempermalukannya di depan kelas seperti itu?
Sadin termenung, teringat kata-kata Bu Lanis di akhir pelajaran.
            “Mimpi kalian adalah proyek tugas akhir mata pelajaran ini. Buatlah nyata, sesuai dengan yang kalian bayangkan. Dan kita akan melihat wujud mimpi-mimpi itu di pentas seni sekolah, akhir Mei nanti.”
            Sadin menghela napas keras. Dari dalam ruang perpustakaan yang hening, suara tawa teman-temannya yang sedang berolahraga di lapangan begitu jelas terdengar. Di saat seperti ini, Sadin selalu merasa sendirian dan kesepian. Gadis itu menatap selembar kertas putih di hadapannya yang memuat ratusan kata yang ditulis berulang-ulang, berantakan dan tumpang tindih.
Diaz jelek. Diaz ngaco. Diaz sinting. Diaz ngeselin. Argh, Diaaazzz!!!
            “Hm, tulisan yang menarik...”
            Sadin hampir terjatuh dari kursinya ketika mendengar suara seseorang yang, tanpa disadarinya, berdiri di belakangnya. Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya, dan nyaris pingsan ketika melihat Diaz di sana. Astaga, apa Diaz membaca semua coretan asalnya?
            Cowok itu tersenyum menatap wajah Sadin yang kaku.
            “Halo, Sadin. Sudah menemukan cara untuk mewarnai tubuhmu?”
            “Kenapa kamu nggak ikut pelajaran olahraga?” Sadin balas bertanya dengan nada marah sekaligus malu.
            Diaz mengangkat alisnya, lalu tertawa. “Bosan! Sebenarnya, aku sudah izin karena sakit. Jadi, aku pikir, aku akan mencarimu saja, lalu kita akan membicarakan proyek kita bersama.”
            “Kamu nggak kelihatan sakit! Lagipula, aku nggak punya urusan proyek apa pun denganmu.”
            Diaz duduk di hadapan Sadin. Mata cowok itu melirik kertas di meja yang penuh terisi coretan namanya. Menyadari hal itu, Sadin buru-buru mengambil kertas itu, lalu meremasnya. Diaz tersenyum sambil memperhatikan Sadin yang cemberut.
            “Oke. Aku minta maaf kalau sudah membuatmu kesal. Tapi, aku serius dengan kata-kataku di kelas Bu Lanis.”
            Mata Sadin menyipit. “Mungkin bagimu mimpiku terdengar seperti lelucon, ya?” Sadin bangkit dari duduknya, sambil merapikan alat tulisnya. “Terima kasih sudah bersusah payah memikirkan mimpiku. Lebih baik, kamu pikirkan saja cara menghasilkan maha karya yang akan terkenang hingga puluhan tahun yang akan datang.”
            Gadis itu meninggalkan Diaz tanpa menoleh lagi. Tapi, ia bisa merasakan tatapan cowok itu di punggungnya.
*
            Dulu, Sadin pernah bertanya kepada ibunya, mengapa ia berbeda? Mengapa hanya ia yang diselubungi putih, sementara ibu dan ayahnya terlihat normal. Saat itu, ibunya tersenyum sambil bercerita tentang kelainan kulit bawaan yang dideritanya. Albinisme. Bahwa tubuhnya hanya sedikit menghasilkan pigmen melamin, pigmen yang membentuk warna pada kulit, rambut, dan mata, hingga tubuhnya seputih susu.
            “Ibu dan Ayah membawa gen albino, dan menurun padamu. Tapi, Sadin, kami tidak pernah melihatmu berbeda. Selamanya, kamu adalah putri Ibu dan Ayah yang manis, kritis, dan baik hati.”
            Pada kenyataannya, terbatasnya aktivitas yang bisa dilakukan Sadin di ruang terbuka sering membuatnya merasa sendirian di dunia yang penuh warna ini. Sama seperti penderita albinisme lainnya, ia pun sangat sensitif terhadap cahaya matahari. Bila terpapar terlalu lama, matanya akan memerah, dan akan timbul bercak-bercak hitam di wajahnya. Tentu saja, Sadin menghindari itu dan mencoba sesedikit mungkin tersentuh cahaya matahari.
Kini, gadis itu harus memikirkan tugas mimpi dari Bu Lanis. Ia mengingat Diaz, yang terlihat begitu yakin saat berkata akan mewarnai tubuh Sadin. Tapi, sayangnya, gadis itu telanjur marah dan tidak memberi Diaz kesempatan untuk menjelaskan caranya.
            Sedikit sesal merambati hati Sadin. Sejujurnya, hanya Diaz yang tidak pernah menatapnya ‘berbeda’ seperti kebanyakan orang lain saat pertama kali mereka bertemu. Seakan putih di seluruh tubuh Sadin bukanlah hal yang aneh di mata cowok itu.
Sadin menyadarinya ketika pertama kali mereka bertemu di acara orientasi siswa baru, pada hari pertama mereka bersekolah di SMA ini.
            “Ini kali pertama aku bertemu dengan gadis albino. Bagaimana rasanya?”
            Sadin menatap Diaz, sedikit tidak percaya. Bukan hanya karena pertanyaan spontannya yang mungkin terdengar sedikit tidak sopan untuk seseorang yang baru pertama kali bertemu, namun justru karena mata Diaz menunjukkan ketulusan dan keseriusan. Membuat Sadin merasa mereka tidak berjarak.
            “Lumayan,” jawab Sadin pendek.
Lalu, mereka mulai saling bercerita. (Mungkin, Sadin yang lebih banyak bercerita, karena Diaz yang banyak bertanya.) Tentang bahaya sinar matahari untuk tubuh Sadin, karena bisa berkembang menjadi kanker kulit. Tentang bola mata orang albino yang tidak selalu merah, tapi juga ada yang biru. Tentang keterasingan dan kesendirian yang, terkadang, Sadin rasakan dalam hari-harinya.
Mata Diaz bersinar, dan ia mengatakan sesuatu yang tidak akan Sadin lupakan.
“Kita terlahir membawa takdir kita masing-masing. Bagiku, putih adalah warna yang cantik. Kamu istimewa, Sadin.”
Sadin memejamkan matanya. Mungkin, ia tidaklah seistimewa itu. Walau cowok itu bersedia membantunya, tapi Sadin sudah menolaknya. Dan kini, ia harus mengerjakan tugasnya sendirian.
Sebuah artikel di halaman majalah yang tanpa sengaja dibacanya, memberi gadis itu ide. Sadin tersenyum, lega dan puas. Ia sudah memutuskan, akan menjadi manusia patung di acara pentas seni sekolah nanti.
*
            Wajah Diaz memerah. Keningnya berkerut, dan alis hitam tebalnya nyaris bertaut. Sadin diam, merasa tidak enak dan bertanya-tanya.
            “Kenapa kamu nggak mau percaya aku bisa membuatmu berwarna, Sadin?” Diaz tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya.
            Sadin tersenyum. “Maaf, Diaz. Aku hanya ingin mencoba dengan usahaku sendiri.”
            “Dan ini akibatnya! Kamu pikir, tubuhmu semacam kanvas yang bisa dicorat coret?”
            Sadin tertawa lirih, memandangi ruam-ruam merah yang menyebar di seluruh tubuhnya. Tiga hari yang lalu, ia mencoba membeli beberapa cat warna yang biasa digunakan untuk melukis tubuh. Ia ingin berlatih dan mencoba mewarnai tubuhnya sebelum acara pentas seni sekolah yang sesungguhnya diadakan. Gadis itu sama sekali tidak mengira kalau tubuhnya alergi dengan zat kimia yang ada di cat tersebut. Sudah dua hari Sadin tidak masuk sekolah, dan hari ini Diaz muncul di rumahnya.
            “Tolong jangan cerita ke teman-teman kalau aku alergi karena mencoba mewarnai tubuhku, ya, Diaz?”
            “Kenapa memangnya?” cowok itu masih terlihat gusar.
            “Yah... aku malu,” suara Sadin bergetar.
            Sorot mata Diaz melembut. “Dasar keras kepala,” desis Diaz, “bukankah sudah kubilang, kita punya proyek bersama untuk dikerjakan?”
            “Bagaimana bisa aku membiarkanmu mengerjakan mimpiku?”
            Diaz tertawa. “Karena kamu juga akan ikut mengerjakannya. Kita akan melukis dan mewarnai tubuhmu, Sadin!”
            Sadin menatap Diaz tak mengerti. “T... tapi, aku tidak bisa melukis, Diaz!” protes gadis itu, antara gugup dan tercerahkan.
            “Aku yang akan melukis sketsa wajahmu. Lalu, pada saat pentas seni nanti, kamu juga yang akan menjadi pemeran utamanya. Dengan tetap menjadi dirimu sendiri.”
            Sadin tertegun, menatap Diaz ragu. “Bagaimana caranya? Dan mimpimu sendiri?”
            “Kamu akan tahu nanti,” Diaz tersenyum rahasia. “Jika aku berhasil mewarnaimu, maka itulah maha karyaku. Jadi, bagaimana kalau kita namakan proyek kita ini: Mewarnai Sadin. Keren, kan?”
            Astaga. Sadin mengerutkan keningnya. Mungkin memang benar Diaz sudah menjadi sedikit gila.
                                                                          *                                                         
            Sadin berdiri sambil memandangi dinding ruang tamu Diaz yang dipenuhi sketsa lukisan dalam pigura. Gadis itu baru menyadari, betapa halusnya goresan tangan Diaz dalam lukisan. Betapa berbakatnya Diaz dalam menuangkan perasaannya di atas kertas dan kanvas. Tapi, mengapa semua lukisan itu tak berwarna?
            “Sudah siap?” suara Diaz memutus lamunan Sadin. “Ayo ke garasi. Aku biasa melukis di sana.”
            Garasi rumah Diaz luas dengan pintu yang dibiarkan terbuka. Angin yang mengalir dari halaman membuat tempat itu sejuk dan nyaman. Tempat itu dipenuhi dengan kanvas dan kaleng-kaleng cat yang sebagian besar belum dibuka.
            “Cat-cat minyak itu baru saja aku beli. Kamu pilih dan campur sendiri warna yang kamu inginkan, ya,” kata Diaz sambil duduk di kursi.
            “Kenapa bukan kamu saja, sih?” protes Sadin. “Aku tinggal bilang mau warna ini dan itu. Beres, kan?”
            Diaz tertawa lirih. “Ini, kan, mimpimu juga, Sadin! Ayo, buruan. Biar cepat selesainya.”
            “Memangnya lukisannya sudah jadi? Mana? Aku mau lihat dulu. Awas, ya, kalau nggak mirip!”
            Diaz berdiri dan berdecak gemas. Cowok itu mengambil dua buah kanvas yang tertutup kain. Dengan hati-hati, disibakkannya kain-kain itu hingga Sadin bisa melihat apa yang ada di dalamnya.
            Sadin tertegun, tak sanggup berucap. Di salah satu kanvas, terpampang sketsa wajahnya yang sedang tersenyum. Sedangkan di kanvas yang lain, ada sketsa rambutnya yang panjang dan bergelombang dari arah belakang. Sadin takjub. Bagaimana bisa Diaz melukisnya sebagus itu?
            “Sekarang, bermimpilah sepuasmu, Sadin. Bayangkan warna-warna indah yang ingin kamu sapukan pada kulitmu.”
            Sadin memejamkan matanya. Membayangkan impiannya selama ini. Perlahan, gadis itu menghampiri kaleng-kaleng cat, memilih, lalu mulai mencampur warna impiannya untuk diserahkan pada Diaz. Dan kuas Diaz mulai menari di atas kanvas.
*
Sadin berdebar-debar. Hari ini, ia dan semua teman-temannya akan saling berbagi mimpi. Setiap orang menyimpan rahasia, dan udara seakan dipenuhi aura kejutan yang manis.
            “Jangan lupa gaun putihmu,” Diaz sudah mengingatkan di telepon. Tentu saja Sadin tak akan lupa. Hari ini, ia menjelma putih, seputih-putihnya.
            Sadin berdiri di belakang panggung aula sekolahnya. Sebentar lagi, acara pentas seni akan dimulai. Semua lampu di dalam aula sudah dinyalakan. Terang dan bercahaya. Para undangan sudah mulai berdatangan dan memenuhi ruangan. Sadin mengintip ke dalam dan jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Oh, banyak sekali tamu yang datang!
            Diaz menyiapkan dua kanvas lukisannya. Sadin berdebar-debar saat dua kanvas yang disatukan dengan tali itu dikalungkan Diaz pada tubuhnya.
            “Kamu akan tampil di panggung dengan lukisan di dada dan punggungmu. Semua orang akan dapat melihat lukisan wajahmu yang berwarna di depanmu, dan lukisan rambutmu yang berwarna di belakangmu,” Diaz menjelaskan sambil menatap Sadin. “Mungkin, ini bukan ide yang baru dan istimewa. Maaf.”
            Mata Sadin berkaca-kaca. “Menjadi manusia patung juga bukan ide yang baru, dan kamu tahu betul bagaimana akhirnya.”
            Diaz tersenyum, berbarengan dengan suara Bu Lanis yang mengudara.
            “Mimpi yang akan kita saksikan kali ini datang dari dua siswa yang istimewa, Sadin dan Diaz. Bersama, mereka mengerjakan proyek mimpi mereka yang dinamakan: Mewarnai Sadin.”
            Sadin berjalan pelan memasuki panggung. Gadis itu berdiri tegak di tengah panggung yang luas. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba beradaptasi dengan cahaya lampu yang terang. Dua buah layar di kanan dan kiri panggung menampilkan Sadin dalam ukuran besar.
            Tubuh dan bajunya yang putih terlihat sangat kontras dengan lukisan yang menempel di badannya. Pada kanvas di dadanya, wajah Sadin yang sedang tersenyum berwarna merah muda segar. Bola matanya sehitam malam yang pekat, alis dan bulu matanya berwarna hijau daun yang teduh. Semburat biru mewarnai pipinya, dan bibirnya berwarna merah ceri yang samar. Sekuntum mawar kuning terselip di telinganya. Cantik sekali, persis seperti yang Sadin impikan selama ini.
            Gadis itu lalu perlahan berputar. Di punggungnya, semua orang bisa melihat lukisan rambutnya yang panjang dan bergelombang berwarna cokelat lembut dan bercahaya.
            Entah dimulai sejak kapan, suara tepukan riuh memenuhi aula. Sadin gegas menoleh ke arah belakang panggung, mencari Diaz. Cowok itu tersenyum, lalu perlahan ikut masuk ke tengah panggung, dan berdiri di samping Sadin.
            “Sadin percaya, setiap mimpi berharga untuk diwujudkan. Sementara, lukisan cantik ini lahir dari tangan Diaz, seorang monokromasi yang hanya bisa melihat hitam dan putih dengan matanya. Dan saya pikir, karya luar biasa ini layak dikenang hingga puluhan tahun yang akan datang,” Bu Lanis berkata di podium sambil bertepuk tangan.
            Jantung Sadin berdegup kencang. Dengan cepat, gadis itu menoleh ke arah Diaz. Diaz... buta warna total? Karena itu lukisan-lukisan di dinding rumahnya tak pernah berwarna? Jadi, dunia di matanya, selamanya, hanya berwarna hitam dan putih? Oh, betapa sunyinya....
            “Sudah kubilang warna putih itu cantik, dan kamu istimewa, Sadin,” Diaz berkata sambil tersenyum kepada orang-orang di hadapannya.
            Sadin merasakan dadanya sesak oleh haru. Air matanya turun, dan ia hanya bisa terisak. Gadis itu bahkan tak sanggup berterima kasih pada Diaz. Sadin tahu, seandainya dunia melupakan, ia akan tetap mengenang karya Diaz ini hingga seumur hidupnya. [*]

Pasuruan, 2015

No comments: