19.8.15

Hanna - Majalah Good Housekeeping



Rahma tahu, menjaga Hanna yang mulai beranjak remaja bukanlah suatu hal yang mudah. Jika sewaktu TK dan SD dia masih bisa menjangkaunya karena bersekolah di daerah sekitar komplek perumahan. Kini, saat Hanna duduk di bangku SMP serta jauh dari rumah semua tidak bisa disamakan lagi. Apalagi pergaulan anaknya itu tentu semakin luas.
“Mama terlalu cerewet!” kata Hanna ketus.
Rahma menarik napas, tetap fokus pada kemudi. Meski, ya, Hanna tak pernah berkata dengan nada seperti itu sebelumnya.
“Mama nggak bisa melarangku bersahabat sama siapa dan karena hal apa. Orang tua teman-temanku juga gitu.”
“Hanna ….”
Bukan seperti itu maksud Rahma. Dia hanya terlalu khawatir anaknya salah memilih teman dan salah bergaul. Itu saja.
Lampu merah.
Dia menengok Hanna yang tampak membuang muka. Ah, anaknya benar-benar sudah berubah. Mungkin benar, dia tidak boleh over protective pada anaknya. Apabila terlalu, mungkin Hanna akan membencinya. Meski demikian, dia tetap harus mengawasi Hanna lebih dari ibu yang dulu membesarkannya. Ibu yang selalu bertutur lembut dengan segala petuah yang kini dia praktikkan satu-persatu. Dia hanya takut mengulangi kejadian yang telah lalu.
Rahma sontak tersadar begitu mendapati klakson kendaraan di belakangnya berbunyi berulang-ulang. Dia juga baru menyadari apabila Hanna tidak menegurnya sama sekali. Acuh tak acuh.
Rahma menghela napas berat, lalu melajukan mobilnya kembali. Sedangkan Hanna masih melempar muka ke samping kiri, sibuk bermain HP.
“Nanti Hanna ada pelajaran tambahan, Ma. Jadi pulangnya agak sorean.”
“Pelajaran tambahan?” Setahu Rahma tidak ada pelajaran tambahan selain Senin dan Sabtu. “Huh, Mama selalu seperti itu! Sedikit-sedikit tanya, sedikit-sedikit curiga. Aku juga pengin kali, Ma, hidup normal seperti teman-teman yang lain.”
Sekali lagi Rahma tidak bermaksud demikian, dan Hanna selalu salah pengertian dengan apa yang diucapkannya.
“Jangan menghawatirkanku berlebihan, Ma, karena aku bisa menjaga diri. Aku ikut ekstrakurikuler karate.”
Mobil belok ke kiri.
Rahma tersenyum kaku. Baru seminggu yang lalu, Hanna. Itu kalimat yang ingin diucapkan Rahma, namun urung dikatakan. Takut, Hanna akan tersinggung lagi.
*
Menjadi single parent bukanlah pilihan Rahma. Membesarkan Hanna seorang diri dari kecil hingga sekarang tumbuh menjadi gadis cantik dengan rambut sepunggung, berkulit kuning langsat, persis seperti perwujudan dirinya di usia dua belas tahun.
Seandainya saja dulu dia mendengar ucapan ibu, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Dia menikah dengan laki-laki baik, bukan laki-laki yang hanya berakhir di ranjang penuh kata cinta lantas pergi dan memilih perempuan lain. Namun, hal yang paling menyedihkan adalah ketika laki-laki itu memintanya untuk menggugurkan kandungan. Tapi semuanya sudah berlalu, tiga belas tahun silam. Dan dia tidak menyesal melahirkan Hanna. Pun, dia menyayangi anaknya itu dengan sepenuh hati. Sepenuh jiwa. Dia hanya merasa bingung harus menjawab apa ketika Hanna bertanya siapa papanya.
Rahma menyelipkan anak rambutnya di sela daun telinga. Hari ini dia benar-benar tidak fokus dengan pekerjaannya. Dimulai saat menerima telepon dari pelanggan toko kue miliknya, lalu salah mengirimkan barang. Kemudian berlanjut ketika dia tak sengaja menyenggol adonan kue yang dibuatnya hingga tumpah ruah ke lantai. Rasanya sungguh kacau.
Rahma meletakkan bulpoin yang sedari tadi diputarnya di udara. Matanya tak bisa berhenti menatap jam di pergelangan tangannya. Cemas. Sudah pukul tiga sore dan Hanna belum juga mengirimkan sms untuknya. Tadi pagi, mungkin lupa atau bisa jadi ngambek, Hanna tidak mencium tangannya seperti biasa. Dan saat dia mencoba mengontak nomer Hanna, tidak diangkat. Sementara wali kelas Hanna mengatakan apabila hari ini tidak ada pelajaran tambahan.
Lalu, di mana Hanna sekarang?
Pikiran-pikiran aneh kini menggelayuti benak Rahma. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpa anaknya. Ketika panggilan dari Hanna masuk ke handphone-nya, Rahma segera mengangkatnya.
“Hanna, kamu di mana?”
“Ma …, aku—” Itu suara Hanna, menangis. “Jemput aku di sekolah!”
Telepon ditutup. Rahma terpaku dengan tangan gemetar. Detik berikutnya dia bangkit, meraih jaket, tas dan kunci mobil gegas menjemput Hanna.
Secepatnya!
*
Melihat Hanna tidak sendiri di depan gerbang sekolah membuat Rahma segera turun dari mobil dengan gelisah. Mungkin sama seperti kecemasan ibu dulu saat mendapati dirinya tengah bersama dengan seorang pemuda.
Rahma menatap sekilas pemuda di samping Hanna. Wajah pemuda dengan beberapa lebam di bibir dan pelipis itu terasa tidak asing baginya. Apa mungkin sebelumnya mereka pernah bertemu? Rahma menggeleng, pemuda ini terlihat seperti bocah nakal.
“Ma …, kenalkan ini Lambang. Dia tadi—”
“Masuk mobil!”
“Ma ….”
Rahma menggenggam pergelangan tangan Hanna dan berkata, “Ayo kita pulang!”
“Tapi Lambang?”
Rahma tidak menjawab.
*
Hening.
Rahma meneguk air putih yang terasa hambar di lidah. Dia menatap Hanna yang sedari tadi diam menunduk tanpa ingin mencicipi makanan buatannya. Ya, seperti ada jarak tak kasat mata yang memisahkan mereka saat ini.
Mendadak Rahma merindukan kebawelan Hanna, cerita di sekolah, mimpi semalam, dan semua tentang Hanna. Dia rindu semua momen itu. Benar, sudah lama sekali dan sekarang semua tampak lebih buruk ketika tahu anaknya mulai sering berbohong. Mulai menjadi tidak akrab lagi dengannya.
“Bagaimana sekolahmu hari ini?”
Hanna menatapnya. Sedikit melunak dari pada raut yang ditunjukkan Hanna selama perjalanan pulang dari sekolah tadi.
“Baik,” hanya itu. Tidak ada kalimat lanjutan dari bibir Hanna.
Rahma mengangguk. Dia lalu berkata kembali, “Anak itu …, maksud mama Lambang. Bagaimana kalau kamu mencari teman selain dia?”
Rahma memejamkan mata, menggigit bibir, sepertinya dia salah memilih kosa kata.
“Hah?” Hanna terkejut mendengarnya. “Kenapa?”
Rahma diam.
“Dia teman yang baik, Ma. Kalau saja tidak ada dia tadi, mungkin handphone Hanna akan hilang diambil ….”
“Dan sejak kapan mama mengajari Hanna untuk berbohong? Hari ini tidak ada les, bukan?”
Hanna menunduk. Lama. Sampai akhirnya dia mengatakan, “Tyas dan Ning sudah nggak mau lagi bersahabat denganku. Ini karena mama. Mama nggak mengizinkanku jalan besama mereka sebulan lalu ke Mall. Dan mereka menganggapku makhluk aneh.”
Kali ini suara Hanna terdengar bergetar.
“Julia mempermalukanku di depan kelas, Ma. Dia tahu jika selama ini yang membalas semua sms mereka sewaktu aku tidur adalah mama. Tyas dan Ning yang memberitahunya.”
Rahma menatap Hanna. Dia ingin bersuara, namun kata-katanya seakan tertelan kembali.
“Mama membawakanku bekal setiap hari agar aku nggak jajan sembarang. Aku senang mama selalu memerhatikanku, sayangnya teman-temanku nggak bisa menerima itu.”
Hanna menarik napas dalam-dalam, lalu tangisnya pecah. “Sekarang hanya Lambang yang mau berteman denganku, Ma. Dia juga membawa bekal ke sekolah. Dan barusan, mama memintaku untuk meninggalkan satu-satunya sahabat yang mau menerimaku apa adanya?”
Hanna berdiri, sebelum meninggalkan ruang makan dia berkata, “Mama jahat!”
Rahma membeku seketika, dadanya terasa begitu sesak. Dia merenungi kembali kata-kata yang dilontarkan Hanna barusan.
Jadi selama ini dialah yang menyakiti Hanna?
*
Rahma mengetuk pintu di depannya. “Hanna, sarapannya sudah siap. Kamu belum bangun?”
Ini Minggu. Hanna biasa bangun lebih siang, seusai sarapan dan mandi biasanya anak itu akan ikut dengannya ke toko buku membeli beberapa novel. Dia mengetuknya sekali lagi. Tidak ada jawaban.
Rahma pun berinisiatif membuka pintu kamar Hanna. Dan, gadis kecilnya itu tidak ada di kamar.
“Hanna!” Dia mulai panik, mencari di kamar mandi dan beberapa tempat di rumahnya. Hasilnya, Hanna tidak ada.
Rahma berniat menelepon teman Hanna. Namun urung dilakukan karena dia baru sadar, apabila Tyas dan Ning sudah tidak lagi beteman dengan Hanna. Lambang. Ya, nama itu muncul di benaknya. Tapi dia tidak punya nomer pemuda itu, juga sebelumnya Hanna tidak pernah menceritakan Lambang sama sekali.
Rahma mendesah. Frustasi. Dia pun memutuskan mencari Hanna menggunakan mobil. Sesekali dia mengedarkan pandangan ke pinggir jalan dan tetap fokus mengemudi.
Tak lama Handphone Rahma berdering. Dia segera mengangkat telepon dari nomer asing tersebut.
“Iya, siapa?”
“Apa benar ini mamanya Hanna?”
Rahma sedikit bingung. “Eng, ya, benar.”
“Ini mamanya Lambang. Hanna ada di rumah saya, Jeng. Tadi bawa tas dan katanya mau menginap di sini. Haduh, saya bingung. Bukannya tidak boleh, tapi saya khawatir dia belum izin sama, Jeng. Apalagi menginap di rumah teman cowok.”
Rahma lega mendengarnya. “Kalau boleh tahu alamat Jeng di mana ya?”
Rahma mencatat alamat yang diberikan Mama Lambang dan segera menuju tempat tersebut. Betapa kagetnya dia saat mengetahui perempuan yang meneleponnya tadi adalah Winna, teman se-SMAnya dulu. Mereka kehilangan kontak karena Rahma harus pindah ke Magelang, dua tahun kemudian dia kembali lagi ke Jakarta.
“Pantas saja aku seperti mengenal Lambang, ternyata dia anakmu.”
Winna mengangguk. “Hanna setiap hari ke sini kecuali Minggu. Tapi anehnya, dia memutuskan kembali lagi ke sekolah dan Lambang selalu mengantarnya.”
Dia lalu mengajak Rahma menemui Hanna yang tengah bermain game di ruang televisi bersama Lambang.
“Hanna ayo kita pulang.”
Rahma bernapas lega karena Hanna segera mengangguk dan mengambil tasnya. Lebih lega lagi begitu mendengar Hanna meminta maaf atas apa yang dilakukannya saat ini. Keluar rumah tanpa izin, apalagi kabur dan tentu berjanji tidak akan mengulanginya kembali.
“Hanna janji ….”
Begitu akan pamit terdengar suara lantang, yang membuat Rahma menolehkan pandangan.
“Kue pai-nya sudah matang!” Laki-laki jangkung berkumis tipis muncul dari arah dapur dengan membawa nampan bundar. Dan laki-laki itu berhenti, terpaku, begitu mendapati perempuan yang tengah merangkul Hanna. Wajahnya langsung berubah pias. Pucat pasi.
Rahma tak kalah terkejut. Tangannya gemetar dengan senyum retak dan dadanya mendadak begitu sesak. Dia memegang kuat-kuat lengan Hanna. Itu Prass, papa biologis Hanna. Jadi perempuan yang dipilihnya dulu adalah Winna?
Hanna setiap hari ke sini ….
Mendadak Rahma takut kehilangan Hanna. Lalu, dia memutuskan pamit tanpa ingin menolehkan wajah ke belakang. Pada mimpi buruk yang tidak pernah ingin dia ingat lagi.

No comments: