6.4.15

Naskah Lilis Wijayanti di Leisure Repbulika



Ammar, anak kedua kami yang berumur empat tahun, suka sekali dengan binatang peliharaan. Saat pulang kampung tahun lalu, tak bosan-bosannya dia mengejar ayam berikut anak-anaknya. Jika melihat ayam di halaman, Ammar selalu minta kakek untuk menangkapnya. Puas memberi makan atau mengelus-elus bulunya, dia akan mengejar ayam itu sambil tertawa girang. Kegirangannya bertambah saat melihat kalkun di rumah pakde dan budenya. Badannya yang besar, suaranya yang unik, juga ekornya yang mekar amat menarik perhatiannya.
“Mi, boleh bawa ayam nggak?” rajuk Ammar ketika kami bersiap kembali ke Depok. Saya tersenyum sambil menggeleng lemah.
“Yah…” keluhnya dengan bibir manyun.
“Bawanya susah Dek.” Akhirnya Ammar bisa menerima alasan saya namun sepanjang jalan dia masih saja berceloteh:
“Nanti beliin Dedek ayam ya, kalau udah sampai rumah?” saya dan suami hanya tersenyum mendengarnya.
            Rengekan Ammar untuk memelihara binatang kembali terdengar. Sore itu kami berkunjung ke rumah kakak. Ada satu hal yang langsung menarik perhatian Ammar. Ya, om dan tantenya memelihara burung! Selama berkunjung, dia asyik mengamati burung dalam sangkar.
“Mi, Dedek boleh bawa pulang burungnya nggak?” kami semua hanya tersenyum dan saling pandang. Meski sudah kami bujuk dengan berbagai alasan, Ammar tetap bergeming.
“Dedek bisa nggak merawatnya?” Ammar tersenyum lalu menjawab pertanyaan abinya dengan anggukan kecil.
“Ya sudah, boleh kok dibawa pulang. Tapi dirawat ya?” ujar om disambut senyum lebar Ammar.
            Sebulan berlalu sejak burung itu kami bawa ke rumah. Ammar masih terlalu kecil untuk mengerti apa makna memelihara binatang.
“Dedek udah kasih makan burung belum?” Ammar yang ditanya abinya cuma tersenyum melirik tempat makan burung yang kosong.
“Kalau punya binatang peliharaan harus dirawat dong,” ujar abinya setelah memberi makan burung.
“Kan Dedek masih kecil?” jawabnya membela diri.
“Kan Dedek bisa ingetin Abi, Umi, atau Bibi untuk kasih makan dan minum burung?” kali ini Ammar hanya diam.
            Suatu ketika pakan burung habis. Kesempatan itu digunakan oleh suami untuk menasihati Ammar.
“Dek, burungnya kita lepas saja yuk,” ajak abinya.
“Kenapa?” tanya Ammar dengan polos.
“Kasihan Dek. Burungnya jarang Dedek kasih makan. Kalau di luar kan dia bisa cari makan sendiri? Kita lepas saja ya?” Ammar diam saja.
“Dulu Om kasih ke Dedek kan supaya Dedek rawat? Kasih minum sama makan aja Dedek nggak pernah? Itu artinya Dedek belum siap untuk melihara burung,” imbuh abinya. Ammar terlihat menyesal.
“Ya udah, lepas aja.” Sahutnya pendek.
“Oke. Semoga burungnya lebih senang ya nanti?” kata abinya sambil membuka pintu sangkar. Tak berapa lama burung itupun terbang. Ammar tersenyum kembali. Semoga kamu bisa belajar arti tanggungjawab dari kejadian ini ya, Nak.

No comments: