31.3.15

Yang Tertinggal di Saku Celana - tabloid Cempaka



Setiap kali aku akan mencuci pakaian kotormu, aku selalu menjelajahi saku baju dan celanamu. Kalau-kalau ada yang tertinggal di sana, kalau-kalau nota bensin yang harus kau setor pada juragan angkot di desa kita, yang super pelit itu. Empat tahun lebih kau bekerja padanya, seperti hampir usia pernikahan kita.
Di pagi yang tak sengaja, pada jam yang biasa kulakukan untuk mencuci pakaian kotormu, aku menemukan sebuah koin di saku celanamu. Aku rasa itu bukan mata uang rupiah, itu mata uang asing yang bisa kubaca dari negara mana. Dadaku tiba-tiba saja merasa tidak enak. Sepulangmu dari bekerja, aku diam saja tidak membahas. Biar kamu saja, dan aku pura-pura tidak tahu apa-apa.
Di hari setelah aku menemukan koin asing itu, kutemukan kembali selembar kertas yang tertulis rapi seperti sebuah surat. Apa-apaan ini, apakah kamu sudah mulai bermain hati dengan perempuan lain, Mas? Deru di hatiku menggumam, lalu mendadak pilu. Ada sebagian hatiku yang mencelos, gigitan nyamuk pagi yang berseliweran kuabaikan karena, tanganku penuh busa dan perasaanku sedang mendadak tak enak.
+++
            Masih seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi. Aku menyambutmu pulang bekerja, menyiapkan makan dan menyediakan baju ganti selepas kau mandi. Kutemani kau makan dengan pelan, tetapi kau tampak diam seperti biasanya. Sesekali menanyakan kabarku, dan matamu kembali fokus menonton tayangan televisi.
            Bagaimana aku harus memulai membicaraka perihal, benda-benda yang akhir-akhir ini ada di saku celanamu? Aku tidak berkenan, dan takut memicu pertengkaran di antara kita. Aku merasa belum sempurna sebagai seorang wanita. Tuhan belum menganugerahi kita anak, aku tidak ingin todongan dugaanku selama ini mengakibatkan keluarga kecil kita meretak. Tapi jika tidak kutanyakan, hati ini selalu tidak merasa tenang. Maka, kuberanikan diriku akhirnya, bertanya padamu.
            Aku menarik salah satu laci meja, mengambil beberapa benda. Lalu kuperlihatkan padamu, “Mas, aku menemukannya di saku celanamu.”
            Kamu lantas tersenyum, mendekat duduk pada tubuhku tanpa sekat. Lalu kamu mulai bercerita perihal tentang koin itu. “Sayang. Ada seorang kakak-nenek yang sudah tua naik angkotku. Mereka tidak memiliki uang untuk membayarku, lantas mereka memberikan koin tersebut sebagai gantinya. Mereka bilang itu koin keberuntungan, padahal aku sudah bilang tidak mengapa, tidak usah bayar. Mereka turun di depan kantor pos, mungkin untuk mengambil gaji pensiun, atau anak-anaknya yang mengirimi mereka uang.”
            “Kamu mengejekku, Mas?” kataku memburu dengan muka setengah pias.
            “Bagian mana yang kamu lihat aku mengejekmu, sayang?”
            “Ya, bagian mereka berdua yang sudah renta namun tetap berdua. Tanpa anak, seperti kita?” kataku membela. Lantas kamu tersenyum, kamu menggeleng.
            “Koin itu mengajariku banyak hal, sayang. Dua sisi yang saling berseberangan pada koin, apabila salah satunya menghilang maka koin itu tidak berarti apa-apa lagi. Dua sisi dalam satu lingkaran itu bertautan, nggak terpisahkan,” jelasmu, “seperti aku dan kamu. Tanpa kamu, aku nggak berarti apa-apa. Sekalipun kita belum dikaruniai keturunan, tidak mengapa asal kamu selalu di sampingku. Menemani hidupku, melengkapi kekuranganku.”
            Kali ini aku yang tergugu, beberapa air mata bergulir jatuh meluncur turun ke pipi. Kamu mengusapnya, dan memelukku dengan penuh kasih sayang. “Maafkan aku, Mas.” Kamu mengelus rambutku, lantas menciumnya dengan takzim. “Lalu bagaimana dengan lembaran puisi-puisi itu, Mas?”
            “Cemburu?” katamu menggoda.
            Tentu saja. Bagaimana tidak, sebelum kita menikah dan selepas kita menikah sebait puisi pun tidak pernah kau buat untukku, Mas. Balasku mengeram dalam hati, namun aku harus menahan gejolakku kembali yang meletup di dada.
            “Itu puisi khusus untuk kamu, istriku tercinta,” jawabmu, sementara aku terpana. Tidak biasanya kamu berlaku seromantis ini padaku mas. “Apa sudah kamu baca?”
            Aku menggeleng. Masih takjub.
            “Kalau begitu, biar aku yang membacakan untukmu, ya. Sayang.”
+++
Teruntuk Istriku Terkasih
Selamat, mencuci baju dan merogoh saku-saku celanaku

Sayang, terima kasih telah menemaniku hingga empat tahun belakangan ini.
Menjadi selimut malam ketika aku kediginan, menjadi ibu rumah tanga yang baik ketika aku kelaparan dan menjadi peri yang cantik menyulap isi rumah.
Sayang, aku tahu kamu lelah, tapi dengan cintamu kau mengesampingkan lelahmu. Hingga beban itu terasa menyenangkan bagimu. Begitu juga denganku.
Sayang, aku tahu. Kamu, aku dan keluarga kita sangat menginginkan benih tumbuh dari rahimmu, dan kita menjadi seorang yang bereproduksi secara sempurna. Akan ada waktunya sayang, mungkin bukan sekarang-sekaang ini. Tapi aku yakin, sebentar lagi. Ketika kita melupakannya dan menjalani hari kembali seperti adanya.
Tetaplah mencintaiku, istriku yang cantik.
Seperti hari kemarin, seperti hari pertama kita berjumpa dan berlangsung cinta yang melimpah ruah setelahnya.

Dari, suami yang selalu merindukanmu.
+++
            Kini, aku selalu suka hal yang awalnya membuatku jadi takut dan was-was. Aku selalu menemukan kejutan-kejutan kecil di saku celanamu. Hal-hal yang dulu kukira susah kini menjadi lebih mudah. Sekalipun desas-desus tetangga selalu menggiringku pada pikiran negatif, tetapi aku lebih percaya pada suamiku. Bukan mereka yang berhak menghakimi keluargaku.
            Ketika bunyi pintu diketuk-ketuk, aku tersadar dari tidurku yang masih memeluk celanamu. Kenapa waktu menjadi lebih singkat, apakah aku tertidur begitu lama. Aku belum memasak makan siang, kenapa jadi linglung begini. Aku bergegas turun dari ranjang dan menuju ruang depan, membuka pintu dan wajahmu menyembul dengan senyum dikulum. Tanganmu mengulurkan sebuah mawar merah. Pipiku lantas ikut-ikutan merona merah seketika. Saat akan kucium baunya, perutku bergejolak, kepalaku tiba-tiba pening dan mual.  Mawar itu kuberikan padamu lagi, aku berlari menuju kamar mandi. Oh ... suamiku, kejutan apa lagi ini. (*)

No comments: