31.3.15

Reno Mencari Cita-Cita - Kompas Anak



‘’Jadi pilot? Ah, naik jet plane saja kamu sudah gemetaran minta diturunkan. Memangnya kamu berani berada di ketinggian dalampesawat berjam-jam?’’komentarKak Mira ketika Reno menyebutkan cita-citanya. Reno yang saat ituakan tidur siangjadi sulit memejamkan mata. Ia membalikkan badannya ke kanan dan ke kiri sambil berpikir keras. Rupanya tugas bercerita tentang cita-cita dari Pak Sardi membuatnya sangat gelisah.
‘’Kalau begitu aku mau jadi penyanyi saja,’’ katanya bangkit dari tempat tidur.Karena yang terlintas di benaknya lagu Burung Hantu maka langsung ia nyanyikan lagu itu. ‘’Matahari terbenam. Hari mulai malam.Terdengar burunghantu ….’’
‘’Stop!’’ Kak Mira merapatkan tangannya ke telinga.‘’Benar-benar seperti suara hantu!’’
‘’Jelek, ya, Kak?’’ tanyanya kecewa.Padahal Reno sudah berusaha bernyanyi dengan sebaik-baiknya.
‘’Kurang nyaman didengar,’’ jawabnya acuh tak acuh.
            Reno tersenyum kecut. Seketika ia hapus cita-cita itu. ‘’Aku akan mencari cita-cita yang lainny asaja,‘’gumamnya meninggalkan Kak  Mira.
***
            Sekarang ia duduk santai di atas ayunan rajutmiliknya. Ayunan itu diikatkan pada duabatang pohon akasia yang rindang di halaman. Duduk di sana, kata Ayah bisa membuat pikiran segar. Ya, semoga saja begitu agar ia bisa menemuka ncita-cita yang pas. Reno tidak mau seperti Alisa yang latah cita-cita. Anton ingin jadi tentara, Alisa juga bilang ingin jadi tentara. Ririn ingin jadi pramugari, eh, Alisa ganti ingin jadi pramugari.Reno inginnya punya cita-cita sendiri.Tapi jad iapa, ya?
Reno memejamkan mata.Digoyangkanny apantatnya agar ayunan bergerak. Pada saat itu seorang perempuan datang menghampirinya.  ‘’Duar!’’Perempuan itumengagetkannya. Sadar itu orang gila sontak Reno berjingkat dan naik ke atas dahan akasia.
‘’Turun, anakku.Ayo turun,’’ ujar perempuan itu melambaikan tangan.‘’Ini ada hadiah untukmu,’’ tambahnya sambil mengangkat dua buntalan plastik berisi sampah.
Reno berteriak-teriak minta tolong.Untun gsaja ada WakHasyim pedagang buah melintas di depanrumahnya. Berkat WakHasyim perempuan itu dapat dibujuk pergi. Aduh, membuat jantung Reno dag dig dug saja.
***
Dag, dig, dug. Dag, dig, dug …! Pagi hari saat berangkat sekolahbersama Anton,  Reno kembali merasakanjantungnya berdebar. Ah, tugas dari  Pak Sarditerus mengganggu pikirannya.
‘’Aku sudah tidak sabar ingin bercerita di depan teman-teman. Aku mengganti cita-citaku, lho. Ini lebih hebat,’’ Anton menjajari langkah Reno.
‘’Oh, ya?’’ jawab Reno singkat.Ia tidak tertarik mengetahui apa cita-cita hebat Anton. Seseorang yang  tidur di pinggir jalan di depannya lebih menarik perhatiannya. Lihat, kakinya menjulur kejalan aspal.Kalau pengendara  motor  tidak awas, bisa saja menabraknya.
‘’Stt! Itu orang gila,’’ bisik Anton.‘’Kemarin sore pas akulewat di sini, aku lihat dia sedang mengais makanan di tempat sampah.Temannya tidak hanya satu.Tuh,di emperan toko sana ada lagi.’’
Reno mengangguk. Heran juga kenapa dalam waktu sehari semalam ia dapat menjumpai beberapa orang gila. Mungkin ini seperti yang pernah diceritakan ibunya.Orang gila itu kena razia.Dinaikkan dalam truk lalu diturunkan di perkampungan agar ada orang yang memberinyamakan.Tapi kalau tidak? Kasihan sekali.Mereka akan kelaparan. Andai saja ada yang mau mengobati mungkin merekaakan sembuh, pikir Reno sepanjang perjalanan hingga masuk dalam kelasnya.
***
Di kelas, Reno gelisah. Dadanya berdebar-debar. Wajahnya tampak pucat.
‘’Anak-anak, silakan ambil kertas undian untuk menentukan urutan kalian bercerita,’’ Pak Sardi berkeliling menyodorkan gulungan kertaskecil dalam cangkir.‘’Baik, silakan maju nomor satu,’’ suruh Pak Sardi kemudian.
Anton melonjak kegirangan.‘’Siap, Pak,’’ ujarnya bergaya layaknya polisi. Reno sudah menduga ia bakal berceritatentang cita-citanya jadi polisi. Seperti katanya tadi. Cita-citanyamemanghebat. Tapi, aku? batin Reno galau.
‘’Nomorselanjutnya?’’ kata Pak Sardi.
Anak-anak saling menengok.Tangan Reno mulai berkeringat. Badannya panas dingin.Nomor dua dan tiga adalah Intan dan Ani. Tapi mereka sedangizin ke toilet. Artinya ...?
‘’Kita loncati nomor dua dan tiga.Selanjutnya …,’’ sengaja Pak Sardi membuat nada panjang.‘’Nomor empat!’’
Dag, dig, dug. Dag, dig, dug. Reno terkesiap.Ia pemilik nomoritu. Gilirannya maju. Anak-anak bertepuk tangan. Tak tahu betapa kakinya terasa berat.
‘’Terimakasih teman-teman. Cita-citaku adalah jadi ….’’Reno mengambil napas sebentar.‘dokter ...jiwa ...,’’ ujarnya.Seisi kelas seakan meledak oleh tawa teman-temannya. Reno malu sekali.
‘’Hii, kokdokterjiwa, sih.Nggak banget,’’ ejek Anton terang-terangan. Hanya Alisa yang bengongsaja.
‘’Stt, stt, sttt!’’ Pak Sardi menyentuhkan telunjuknya di bibir. Lalu memandang kearah Reno denganserius. ‘’Boleh Bapak tahu kenapa kamu  ingin jadi dokte rjiwa?’’
‘’Saya ingin membantu menyembuhkan orang hilang ingatan, Pak. Saya ingin punya klinik gratis sehingga orang-orang gilatidak berkeliaran di jalan-jalan seperti yang saya temui tadi,’’ Wajah Reno tertunduk, siap ditertawakan lagi. Tapi kelas tetap tenang.
‘’Saya kelak akan jadi penyumbang klinikmu, Ren!’’ Alisa tiba-tiba berseru dari bangkunya. ‘’Saya ingin jadi pengusaha. Doakan saya berhasil dan punya uang yang banyak, ya.’’
Reno menoleh pada Alisa. Tumben kali ini ia tidak latah cita-cita.
Pak Sardi berdiri. Diacungkannya kedua jempolnya. ‘’Bagus,anak-anak. Hebat! Hebat! Siapa bilang dokter jiwa nggak banget. Dokter jiwa itu sekeren cita-cita yang lain. Sama mulianya. Semangat Reno!’’ pekik Pak Sardi membesarkan hati Reno.
  Reno tersenyum lega ketika melihat teman-teman bertepuk tangan.

No comments: