6.1.15

Surat untuk Bunda - Majalah Gadis


Saat aku mengingat Bunda, maka aku akan menulis surat untuknya. Dengan begitu, rindu yang menjeratku akan mengurai perlahan. Dan surat itu akan menjadikan kenanganku kekal dalam ingatan.
Namun, saat Ayah mengingat Bunda, Ayah akan duduk termenung memandang langit malam yang hitam. Sendiri di halaman belakang, sementara angin dingin menyelusup membekukan tulang.
            Ah, sudah berapa tahun kenangan itu membeku? Bunda tidak pernah bertambah tua di kepalaku. Namun, kerut di wajah Ayah bertambah rapat. Rambut putihnya pun menghiasi kepalanya, cepat. Dan aku, menjulang tanpa bisa dicegah. Bukan lagi anak kecil 11 tahun yang meributkan mainan yang kuinginkan.
            Semua orang bilang, walau Bunda sudah tiada, tapi ia menjelma dalam diriku. Senyum di bibir yang penuh dengan lesung di pipi. Mata bulat cerah dengan alis tebal rapi. Hingga membuat siapa saja yang memandangku tersenyum haru, bahkan menitikkan air mata.
 “Itu karena mereka teringat Bunda. Kamu sangat mirip dengannya,” Ayah menjelaskan sambil tersenyum lembut.
Aku menatap Ayah. Menemukan sosok lelaki kesepian yang memendam rindu pada kekasihnya. Lima tahun sudah kami saling mengisi ruang kosong di hati kami, namun tidak bisa benar-benar terisi. Seperti saat kau dahaga dan hanya menemukan setetes embun. Ruang kosong itu tetap ada. Tidak bisa hilang.
*
Malam ini, aku menulis surat yang ke-137 untuk Bunda. Apakah aku jarang mengingat Bunda? Oh, aku mengingatnya sepanjang waktu. Hanya saja, kebanyakan surat itu kutulis pada udara. Dan angin akan langsung membawanya pergi, menyampaikan langsung pada Bunda. Yah, begitulah setidaknya yang kuharapkan.
Dear, Bunda.
Sedang apa Bunda sekarang? Aku sedang kangen sekali pada Bunda. Aku tahu, Ayah juga merasakan yang sama. Karena, sudah tiga malam berturut-turut Ayah duduk di bangku Bunda di halaman belakang. Dan rasanya, Ayah menyendiri semakin lama sekarang. Kadang hingga satu jam. Kadang bahkan aku tidak tahu jam berapa akhirnya Ayah masuk ke dalam rumah.
Bunda, aku harus bagaimana? Bahkan aku merasa perlu bertanya pada Mika tentang hal yang menggangguku akhir-akhir ini. Dan tadi siang di kantin, kami ngobrol cukup lama. Terkadang, kalau pikirannya sedang lurus, Mika adalah pendengar dan pemberi saran yang baik.
Aku bertanya, berapa lama cowok bisa tahan mencintai satu gadis saja?
Tampaknya Mika tidak siap dengan pertanyaanku itu. Ia mengerutkan keningnya lama, dan kemudian balik menanyakan pertanyaan yang bagiku konyol sekali. “Gebetan termasuk, nggak?”
“Gebetan nggak termasuk! Pernah nggak, sih, kamu betul-betul mencintai seseorang? Kalau kamu cinta, tidak akan ada ruang untuk orang lain di hati kamu, kan?”
Mika memperhatikan wajahku serius. Untuk sesaat, aku seperti bisa melihat matanya menyiratkan sesuatu. Tapi, ia buru-buru menoleh ke samping sambil tertawa keras. Ia menertawakanku, Bunda!
“Aku nggak nyangka kamu bisa sefilosofis ini. Kamu sakit, Brin?”
Aku menggeleng keras. Rasanya malu membahas tentang Ayah dengan Mika. Namun, aku masih tetap memerlukan pendapatnya sebagai cowok.
“Sudah jelas kamu belum pernah jatuh cinta, Mika. Sayangnya, aku memerlukan pendapat ahli.”Aku sedikit menyesal bertanya padanya. Kadang, Mika itu seperti anak kecil. Lebih kekanakan dari aku, bahkan. Tapi, dia sahabatku. Karena itu, aku percaya padanya.
Lalu aku bertanya lagi, berapa lama cowok bisa setia pada kenangan?
“Kalau kamu bertanya padaku, jawabanku: aku nggak peduli pada masa lalu. Aku hidup di masa sekarang, dan nggak punya waktu meratap yang sudah lewat. Gebetanku yang dulu-dulu, ke laut aja, deh!”
Melihatku yang diam, Mika terlihat penasaran. “Eh, tapi, sebenarnya ada apa, sih, Brin?”
Aku hanya bisa mengembuskan napas, keras. “Aku ingin tahu, berapa lama lagi Ayah sanggup mencintai Bunda.”
Maaf Bunda, aku sama sekali tidak berharap Ayah akan melupakan Bunda. Aku juga tidak bisa membayangkan ada wanita lain di samping Ayah selain Bunda.
Mika tersenyum lucu. Terkadang, ia terlihat cukup tampan dengan mimiknya itu. “Mengapa kamu ingin tahu?”
Aku menatap Mika dengan kening berkerut. “Karena Ayah terlihat sangat kesepian. Sampai-sampai aku sering memergoki Ayah berbicara sendiri pada foto Bunda di halaman belakang. Kadang, aku takut Ayah akan jadi gila karena merindukan Bunda.”
Mengertikah sekarang, Bunda? Andai Bunda dapat melihat wajah Ayah sekarang. Aku sungguh ingin Ayah bahagia.
Lalu, surat itu kumasukkan ke dalam laci meja belajarku.
*
Ayah terlihat serius dan tenang. Sesekali ia mereguk cappuccino di hadapannya, lalu kembali menatapku. Aku balas menatap Ayah, menerka apa yang dipikirkannya.
Sudah sepuluh menit kami duduk di kafe ini tanpa berbicara sepatah kata pun. Dan aku adalah tipe orang yang cukup sabar untuk menunggu.
“Bagaimana sekolahmu? Banyak tugas akhir-akhir ini?”
Aku mengedik. “Biasa saja. Sekolah adalah sekutu tugas dan makalah.”
Ayah tersenyum kecil, merapikan posisi kacamatanya yang agak turun. Sejujurnya, Ayah itu ganteng luar biasa. Tidak terhitung lirikan mata wanita ke arahnya, yang kupergoki, saat kami jalan bersama.
“Seringkah kamu mengingat Bunda, Brin?”
Aku menatap Ayah cepat. Entah mengapa, aku merasa sedikit tegang dan berdebar.
“Setiap saat, Ayah.”
“Ayah juga,” gumam Ayah seperti sedang melamun.
Kalau ada yang ingin Ayah bicarakan padaku sekarang, aku sungguh berharap Ayah segera melakukannya.
“Hmm. Ayah ingin minta pendapatmu,” Ayah mengangkat wajahnya. “Ayah rasa, Ayah tertarik pada seorang wanita.”
Aku mencengkeram pinggiran kursi yang kududuki erat. Walau rasanya pembicaraan ini sudah bisa kuperkirakan sejak lama, namun, rasanya aneh mengetahui aku seperti mendapatkan satu pukulan di dada.
Bayangan wajah Bunda menari-nari di pelupuk mataku. Memikirkannya akan tersingkir oleh wanita lain sedikit membuatku tidak rela.
Wajah Ayah tetap terlihat tenang, menanti jawabanku. Hanya saja, butir-butir keringat di dahinya pada ruangan sedingin ini, meyakinkanku kalau Ayah pun sesungguhnya gugup.
Aku teringat surat terakhirku pada Bunda. Mungkinkah ini jawaban atas segala kekhawatiranku? Bahwa kehadiran seorang wanita lain dalam hidup Ayah akan mampu mengembalikan kebahagiaannya yang terenggut saat Bunda tiada.
Ayah tersenyum melihatku yang terdiam dan seperti tidak berminat untuk bersuara.
“Kamu tahu, Brin, sampai kapan pun tidak ada yang bisa menggeser posisi Bunda di hati Ayah. Ayah teramat mencintainya. Kalaupun saat ini Ayah menyukai wanita lain, bukan berarti Ayah akan menghapus Bunda dari kehidupan Ayah.” Ayah terdiam sebentar. “Ayah tahu, Ayah tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan tempat Bunda dalam kehidupanmu. Dan, sungguh menyakitkan bagi Ayah, mengetahui kamu menyimpan sendiri segala kisah dan dukamu. Ayah pikir, kamu pun memerlukan tempat untuk berbagi. Seseorang yang nyata dalam hidup ini. Yang dapat masuk dan lebur dalam rasamu.”
Aku tertegun. Mengerjapkan mata, menahan bulir air yang mendesak turun. Entah bagaimana, keterusterangan Ayah menyentuhku. Aku sayang padanya. Sangat sayang. Bahkan, dalam setiap keputusan yang akan diambilnya, tetap diriku yang menjadi pertimbangan. Jauh di lubuk hatiku, aku tahu apa yang Ayah katakan adalah benar.
Aku tahu, hanya karena Ayah begitu menghargaiku, maka ia meminta pendapatku akan hal ini. Walau ia sesungguhnya tidak memerlukan izinku untuk mencintai wanita lain. Aku sendiri saksinya, betapa kenangan Bunda abadi selama lima tahun ini. Hidup dalam hari-hari Ayah dengan caranya sendiri. Sama sepertiku yang mengabadikan kenangan Bunda dengan surat-surat yang kutulis. Aku pikir, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk melarung kesedihan.
Maka, aku pun tersenyum lembut pada Ayah. “Aku ingin bertemu wanita itu, Ayah.”
Bisa kulihat kilat bening di mata Ayah saat ia berucap lirih. “Terima kasih, Sayang.”
*
Tidak sabar rasanya bertemu Mika di sekolah. Berita besar ini tidak sanggup kusimpan sendiri. Cowok itu ada di kelas. Asyik membaca Sherlock Holmes.
“Aku punya berita besar,” bisikku di hadapannya. Mika menengadah dari buku yang dibacanya.
“Biar kutebak, hmm, pasti tentang ayahmu. Ia, akhirnya, sudah bertemu wanita yang tepat untuk menjadi ibu putrinya.”
Aku menahan napas. “Dari mana kamu tahu?”
Mika mengangkat bahu. “Kamu sangat mudah dibaca, Brin.”
Aku duduk di hadapannya sambil menopang daguku dengan dua telapak tanganku.
“Jadi, bagaimana rasanya?” Mika menatapku.
Aku mendesah. “Tidak seperti yang kubayangkan. Lega. Sekaligus takut.”
Untuk sesaat, hanya ada kebisuan di antara kami.
“Menurutmu ibu tiri itu seperti apa?” aku menerawang. Sedetik kemudian kudengar tawa keras Mika.
“Oh, jadi semua kegilaan ini tentang dongeng ibu tiri yang kejam?”
Aku meliriknya sedikit kesal. “Memangnya aku anak kecil? Tetap saja, seorang asing yang harus kamu panggil ibu bisa menjadi mimpi burukmu.”
“Itu karena kamu memikirkannya seperti itu. Berpikir positif saja. Aku yakin, ayahmu tidak akan salah memilih. Dan kamu harus tahu, tidak ada yang tidak akan jatuh cinta padamu, Brin. Kamu, manis.”
Mendadak aku berdebar mendengar kata-kata Mika. Menjadi temannya sejak SMP, belum pernah sekali pun ia memuji aku. Walau aku tahu, ia gemar bercanda. Namun, entah mengapa, aku bisa merasakan ketulusan dari kalimat terakhirnya tadi.
“Brin, aku jadi ingat pertanyaanmu tentang berapa lama cowok bisa tahan mencintai satu gadis saja.”
Aku mendongak menatap Mika.
“Sudah lima tahun aku mencintai gadis yang sama.”
Aku membelalakkan mata. Wow, ini berita besar!
“Siapa dia, Mika?” kejarku penasaran.
Mika mengalihkan pandangannya ke jendela. “Kamu.”
*
Malam ini, aku menulis surat yang ke-138 untuk Bunda.
Dear, Bunda.
Apakah cinta bisa sesakit ini? Mengapa saat aku mulai bisa merasakan sedikit saja manis dalam hariku, begitu cepatnya ia berubah menjadi getir?
Hari ini, Ayah mengajakku bertemu seseorang. Pasti Ayah sudah memberi tahu Bunda, kan? Aku sungguh berharap Ayah bisa bahagia. Aku berdoa wanita itu dapat mencintai Ayah dan aku seperti Bunda.
Maka, saat aku duduk di dalam ruang kafe tempat pertemuan kami, pikiranku sudah banyak berkelana membayangkan sosok wanita itu. Apakah ia seseorang yang banyak bicara? Mungkinkah ia secantik Bunda? Apakah ia memiliki kesukaan yang sama dengan kami? Akankah ia, menyukaiku?
Tuhan tidak lama membuatku penasaran.
Wanita itu hadir dalam sosok yang tidak jauh dari bayanganku. Tinggi kami hampir sama. Ia terlihat anggun dan lembut. Murah senyum, walau tidak terlalu banyak bicara. Baru kuketahui, ia adalah teman SMA Ayah, dulu. Dan ia pun janda. Suaminya meninggal tujuh tahun yang lalu akibat kecelakaan lalu lintas.
Semuanya sempurna kecuali satu hal. Mika adalah anaknya.
Mungkin selama ini aku tidak pernah menyadari, bahwa Mika telah menumbuhkan perasaan manis dalam hatiku. Mungkin aku tidak akan pernah menyadari, kalau saja ia tidak mengakui perasaannya itu padaku.
Dan kini, seperti ada yang tercerabut paksa dari tubuhku. Meninggalkan luka yang perih dan air mata yang tidak bisa berhenti mengalir.
Lalu, surat itu kumasukkan ke dalam laci meja belajarku. Dan aku pun menangis sambil membenamkan wajahku di meja yang keras.
*
Mika menghampiriku yang sedang duduk di ayunan kayu di bawah pohon mangga, di halaman depan. Ia berdiri diam di hadapanku.
“Kamu sudah tahu sebelumnya, kan?” tuduhku padanya.
Mika tersenyum. “Maafkan aku, Brin.”
Aku memalingkan wajahku. “Rasanya, sulit menerimamu sebagai saudaraku.”
“Seandainya kamu tahu yang bergejolak di hatiku.”
Kata-kata Mika malah membuatku semakin merana. Kutatap ia dengan putus asa.
“Hei, bergembiralah! Menjadi adikku tidak seburuk itu. Aku kakak yang baik dan akan selalu menyayangimu.”
Bulir air mataku tidak lagi bisa kubendung. “Aku harus bagaimana, Mika?”
Mika diam tidak menjawab. Hanya matanya yang mencoba menghiburku.
“Bukankah ini lebih baik, Brin? Aku milikmu selamanya. Kau boleh menggangguku dan merecokiku sepuasmu. Sampai kamu sendiri bosan, dan memilih meninggalkanku.”
Aku mengayunkan tubuhku kencang. Angin menerbangkan rambutku. Juga air mataku. Dan kuharap juga kesedihanku.
Setelah beberapa saat, ayunan itu berhenti sendiri. Kutatap Mika dengan senyum tulus. “Yah, kau benar. Menjadi adikmu tidaklah seburuk itu.”
“Aku tahu.” Ia balas tersenyum. “Aku harus pergi sekarang. Tapi, kamu bisa menulis surat untukku. Seperti yang selama ini kamu lakukan kepada Bunda.”
Kesedihanku mengurai. Mika benar. Banyak cara untuk melarung kesedihan. Aku termenung. Dua tahun sudah berlalu sejak Mika masuk rumah sakit dan tidak pernah keluar lagi dengan berdiri. Selama ini, ia tetap setia menemaniku, walau hanya dalam pikiranku.
Rasanya, sudah tiba waktuku berziarah ke makamnya.
*

11 comments:

Gwen Ayyana said...

Kak Nurhayati, cerpen MIss Cenayang kok belum diposting?

Nia Aprilia said...

Dapat konfirmasi nggak mbak waktu cerpennya terbit?

Yulina Trihaningsih said...

Halo, Nia Aprilia,

untuk cerita Surat untuk Bunda ini, saya tidak dapat konfirmasi akan diterbitkan. Saya pun nyaris lupa, karena cerita ini dimuat setelah 13 bulan saya kirim ke Gadis :)

Salam,
Yulin

Ai No Hikari said...

Assalamualaikum... salam kenal mba

e-mail terbaru kirim cerpen ke majalah gadis apa aya? e-mail Redaksi@feminagroup.com sudah tidak aktif

Yulina Trihaningsih said...

Wa'alaikumussalam, salam kenal juga Ai No Hikari :)

Email majalah Gadis: gadis.redaksi@feminagroup.com

Ai No Hikari said...

terima kasih banyak infonya mba...

dinda padri said...

kak kalau tidak dapat konfirmasi apa yang kakak lakukan supaya tahu cerpennya dimuat ? bukankah ada hubungannya dengan masalah fee juga ?

Yulina Trihaningsih said...

Halo Dinda Padri :)

Bersinergi dengan penulis lain, atau ikut grup yang mengabarkan karya-karya penulis yang dimuat di media selama seminggu. Beberapa media ada yang mengonfirmasi naskah yang akan dimuat, tapi lebih banyak lagi media yang memberi kejutan. Biasanya teman-teman penulis siap mengabari bila ada karya penulis lain yang dimuat :)

Kalau masalah fee, banyak berdoa supaya honor turun cepat dan lancar :D

Ansar Siri said...

Keren banget.

Neo kaspara said...

Bagus mbak, suka sama ide ceritanya, apalagi endingnya

Yulina Trihaningsih said...

Terima kasih, Mas Ansar Siri dan Mbak Neo Kaspara. Yuk, kirim cerpen ke Gadis :)