6.1.15

Bubur Ibu - Majalah Femina


Oleh: Utami Panca Dewi
Kali ini Pram kembali terserang oleh perasaan ambivalen saat melirik wajah cantik di sebelahnya. Sementara mobil-mobil yang berjejalan di depan dan belakangnya benar-benar seperti kerumunan semut yang saling berdesakan menuju ke sumber kehidupannya. Dan sialnya, ia adalah salah satu dari semut-semut itu. Sumber kehidupannya adalah Bu’e, yang lebih memilih untuk menetap di kampung. Benarkah Bu’e adalah sumber kehidupannya? Lalu kenapa ia lebih mendengarkan pendapat Yusti, dibanding keluhan Bu’e? Ia begitu mencintai Yusti. Namun sekarang, ia jadi membenci Yusti begitu Srini memberitahu bahwa di kampung, Bu’e sedang tergolek sakit. Ah… seandainya Yusti mau sedikit mengalah…
Yusti menggeliat dan membuka matanya saat suara pengendara mobil di belakangnya membunyikan klakson beberapa kali.
“Sampai di mana Mas?”
“Indramayu.”
“Masih macet?”
“Sedikit….”
Di kursi belakang, Bilqis dan Baim masih asyik bermain dengan gadget masing-masing. Mobil hanya bergerak maju dua meter untuk kemudian macet lagi. Yusti kembali memejamkan matanya. Ingatan Pram kembali surut ke belakang, menelusuri hari-hari saat Bu’e masih tinggal di rumahnya beberapa bulan silam.
Bu’e memang tidak pernah bisa duduk diam sambil menikmati secangkir teh dan sepiring kue seperti orang-orang tua kebanyakan. Ia harus beberapa kali menitipkan pesan kepada Sumi, agar jangan pernah mengijinkan orang tua itu untuk ikut mencuci piring, mengepel lantai atau mencuci baju.
“Bu’e, aku sudah menggaji Sumi untuk semua pekerjaan itu. Jadi Bu’e tidak usah….”
“Tulang-tulang ini rasanya linu Pram, kalau cuma duduk-duduk saja. Kamu tahu kan...”
“Tapi Bu’e, ini bukan masalah…”
Bu’e menepuk pundak Pram sambil tersenyum. Bu’e memang perempuan tangguh. Sejak bapaknya meninggal dunia sewaktu Pram masih SMA, Bu’e berusaha mengelola uang pensiun bapak agar cukup sampai akhir bulan. Seberapa besar sih pensiunan seorang guru SMP? Namun Bu’e berhasil membiayai kuliahnya sampai ia bisa lulus dari Fakultas Kedokteran. Sekaranglah saatnya Pram untuk membahagiakan Bu’e.
Pram menekan klaksonnya kuat-kuat. Seorang pengendara sepeda motor yang menyeberang dengan tiba-tiba membuat Pram tersadar dari lamunan. Ia ingin memaki pemuda itu. Namun Pram segera beristighfar panjang.
“Masih jauh Pa?” Bilqis mendekatkan kepalanya ke depan. Nampaknya ia mulai bosan.
“Baru separuh perjalanan, Nak….” Bilqis kembali terduduk dengan lemas. Dan Pram mulai tenggelam lagi dalam lamunannya.
Pagi itu, Pram begitu terkejut. Sumi bersusah payah memindahkan meja kerja usang yang selama ini sengaja disimpannya di gudang.
“Apa yang akan kau lakukan dengan meja ini, Sum?” Pram berusaha membantu Sumi dengan mengangkat sisi meja yang lain.
“Ini permintaan Ibu Sepuh, Pak Pram…”
Pramono segera menemui Bu’e yang sedang sibuk di dapur. Dan ia lebih terkejut lagi melihat aneka penganan khas Jawa yang sedang dibuat Bu’e. Beberapa yang sudah matang berjajar rapi di meja. Ada opor telur, sayur rambak pedes, nasi ketan dan bakmi. Sementara Bu’e sedang mengaduk sesuatu yang terlihat mengepul di sebuah panci besar.
“Apa-apaan ini? Bu’e ingin membuatkan kami sarapan sebanyak ini?”
“Bu’e ingin jualan bubur sayur, Le… Seperti waktu kamu masih sekolah dulu.” Bu’e menjawab tanpa menoleh. Namun dari suaranya, Pram tahu bahwa bu’e sangat bahagia.
“Tapi ini Jakarta Bu’e…”
“Tetanggamu pasti senang dengan sarapan orang kampung seperti bubur sayur, ketan pendem, ketan kinca, bakmi….”
Pram menggeleng-gelengkan kepala sambil berusaha menelan kembali kalimat yang akan diucapkannya. Bilqis dan Baim lebih memilih sarapan semangkuk bubur buatan neneknya. Sereal bercampur susu buatan Yusti yang biasanya disantap dengan lahap oleh kedua anaknya, nampak masih utuh.
“Ibu sebaiknya istirahat dulu. Sudah sejak sebelum subuh kan Ibu sibuk di dapur?” Yusti memijit bahu ibu mertuanya perlahan, sebelum berangkat ke kantor.
“Aku ndak cape kok Nak…”
Sehari… dua hari, dagangan bu’e nampak banyak bersisa. Namun hari kelima, sudah banyak yang mulai tahu kalau. ibunya Dokter Pramono menjual bubur sayur di depan rumah setiap pagi. Bahkan beberapa penghuni kampung sebelah perumahan juga mulai berdatangan untuk membeli. Genap dua minggu, mulai ada bisik-bisik kurang mengenakkan dari ibu-ibu kompleks. Di pedagang sayur keliling yang biasanya mangkal di pertigaan dekat taman, juga di pos satpam dekat pintu gerbang. Bagi lingkungan perumahan semi cluster seperti di mana Pram tinggal, perempuan tua yang menjual bubur sayur di depan rumah merupakan hal yang luar biasa. Aneh dan sedikit…. ajaib.
Dan bisik-bisik itu pun sampailah ke telinga Yusti, lewat hembusan napas terengah dari mulut Sumi.
“Kamu dengar sendiri?”
“Iya, Bu. Waktu itu saya keluar menemui Mang Ujang karena kelupaan tidak membeli kelapa titipan Ibu Sepuh.”
“Apa katanya?”
“Wah, kasihan ya, ibunya Dokter Pram… Sudah tua masih harus jualan bubur. Padahal anak dan menantunya….”
“Terus apalagi kata mereka?”
“Waktu saya datang, tiba-tiba Bu Danu menggantung kalimatnya, Bu.”
“Lalu….”
“Lalu Bu Yana bilang…. Ssst….sssst… ada pembantunya datang, begitu…”
Pram hanya terdiam saat mendengar pembicaraan antara Sumi dan istrinya. Tetapi malam harinya, mereka terjebak dalam perdebatan yang tak kunjung usai. Dan akhirnya, Pram disudutkan oleh dua pilihan yang diberikan Yusti. Bu’e menghentikan kegiatannya berjualan bubur sayur, atau Pram harus mengembalikan Bu’e ke kampung.
Pram tidak pernah tega untuk mengutarakan permintaan istrinya itu. Sampai akhirnya Yusti mengambil langkah sendiri. Dikuncinya semua peralatan masaknya di dalam gudang, kecuali panci kecil dan beberapa teflon yang sehari-hari digunakan Sumi untuk memasak. Kepada Sumi, Yusti memberikan peraturan baru. Yakni tidak boleh belanja bahan makanan apapun selain yang diperintahkannya. Sumi menurut. Namun Bilqis dan Baim mulai protes. Mereka kangen bubur buatan neneknya. Yusti tak peduli.
Beberapa hari kemudian, Pram menjumpai Bu’e sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Pram mendekat. Dari raut muka anaknya, Bu’e tahu bahwa ia tak perlu menunggu Pram untuk bertanya.
“Bu’e sudah menyuruh Srini untuk menjemput.”
“Tapi kenapa Bu’e?”
“Bu’e hanya menyusahkanmu saja di sini…”
Pram tersadar oleh tepukan halus di bahunya.
“Kita berhenti untuk Ishoma dulu ya Pa…” Yusti menyuruh kedua anaknya untuk bangun.
Di Kebumen, mereka beristirahat sejenak. Namun pikiran Pram mulai tak tenang. Ia begitu takut kejadian dua tahun silam akan kembali terulang. Saat ia pulang, ada bendera kuning di sudut kampung. Pak Lik Pawiro, bapaknya Srini meninggal dunia. Bagaimana kalau itu terjadi pada Bu’e? Suara Srini waktu menelepon kemarin masih terngiang-ngiang di telinganya.
“Budhe kritis, Mas. Pokoknya Mas harus pulang sekarang!”
Pulang… pulang… kata itu terus menerus memenuhi gendang telinganya. Saat ia mencari tiket pesawat dan ternyata sudah habis. Juga saat ia mencari tiket kereta api. Sialnya, tiket kereta juga sudah habis terjual. Seolah semua penghuni Jakarta sedang bergerak ke satu arah yang sama. Ke timur. Pram pun rela terguncang-guncang 40 jam lebih di dalam mobilnya. Tapi seandainya nanti di rumah Bu’e sudah banyak orang dan…. Ah, Pram memejamkan mata berusaha menghilangkan bayangan itu. Ia merutuki Srini yang telepon genggamnya tidak aktif.
Hari sudah pagi. Tinggal satu belokan lagi dan rumah beratap limasan dengan pagar tanaman teh-tehan itu pun mulai nampak. Di depan rumah ada meja panjang dengan aneka masakan Jawa di atasnya. Bu’e nampak sedang duduk di lincak dari bambu.
Pram, Yusti dan kedua anaknya segera turun dari mobil untuk menyalami wanita tua itu.
“Bu’e… apa artinya semua ini?”
“Kata Srini, kamu hanya mau pulang kalau Bu’e sakit. Jadi….”
“Ya Allah….” Pram memijit-mijit keningnya.
“Bu’e bahagia dengan cara Bu’e sendiri. Bu’e juga tahu, kamu sudah bahagia dengan kehidupanmu sendiri. Bubur ini Bu’e gratiskan saat lebaran. Bu’e hanya ingin beramal Le…”
Tiba-tiba Bilqis dan Baim sudah merengek kepada neneknya sambil membawa mangkuk.
“Buburnya mana Nek? Bilqis dan Baim kangen bubur buatan nenek…”
Diam-diam Pram mengusap sudut matanya.

2 comments:

Novia Erwida said...

Huaaa.... Mataku basah

Delly Purnama said...

Boleh tanya, emailnya majalah femina utk kirim cerpen skarang apa ya? bagi tau donk