6.1.15

Dahyang - Majalah Esquire



1. Perempuan dengan Dua Wajah
            Lelaki itu mulai memikirkan kembali perempuan di rumah batu. Ia akan pergi ke sana tanpa seijin Ibu. Ia tahu bahwa ia adalah satu-satunya obat bagi Ibunya. Ibu bisa membangun mimpinya sendiri lewat dirinya. Namun yang ada di setiap lokus otaknya, hanyalah belantara dengan lekukan magis menggiurkan milik perempuan itu.
            Ibunya telah lelah mengisahkan cerita itu. Dan ia mulai mencari jalannya sendiri. Jalan yang akan membawanya ke sebuah lorong, yang berujung pada sebuah rumah batu. Milik perempuan dengan dua wajah yang selalu mengganggu malam-malamnya dengan mimpi.
            Sendirian, lelaki muda itu mendatangi tembok makam tua. Seperti pernah dilakukannya beberapa tahun lalu. Mencakar-cakar lumut dengan kuku-kukunya. Saat cacing-cacing berkepala ular itu muncul dan bergerak ke satu arah, ia mulai mengikuti jejaknya. Melesapkan tubuhnya ke dalam lubang di dalam tanah, lalu muncul kembali di sebelah utara makam. Di rumah batu itu seseorang telah menunggunya. Seorang perempuan dengan kulit pualam, mata yang bercahaya, dan sepasang kaki belalang. Belantara dalam tubuhnya siap untuk dijamah.
            Setelah sampai, ular-ular itu hilang di balik belantara. Menyelusup di celah-celah lekuk lembah dan jurang. Sekarang, ia mulai berani menentang mata perempuan itu. Mata yang menyimpan pijar bintang jatuh.
            Perempuan itu tersenyum sesaat sebelum ia bertanya kepadanya.
            “Apakah engkau sudah cukup berani?”
            “Berani untuk apa?
            “Berani untuk mengambil resiko.”
            “Berapa ratus lelaki yang telah engkau takhlukkan?”
            Perempuan itu hanya tertawa. Membuat tubuh lelakinya gemetar. Namun matanya tetap nyalang menikmati tubuh pualam yang sebentar kemudian telah berganti rupa menjadi belantara. Bukitnya menunggu untuk didaki, lembahnya melambai untuk di rebahi dan yang paling mencekamnya dalam seribu ketakutan adalah jurangnya. Menganga dengan ratusan ular yang mendesis-desis.
            Lalu kedua tubuh itu mulai saling mendekat. Angin utara berputar-putar menyatukan mereka. Pusaran angin terus menderu saat tubuh lelakinya mulai menjelajahi belantara itu. Mendaki setiap bukit dan menjelajah lembah yang melenakan. Tetapi tiba-tiba dari jurangnya bermunculan ular-ular kecil. Ular-ular yang menghisap tenaga sang lelaki hingga habis. Tubuhnya kini lunglai bagai kapas, tapi ia tidak mati. Perempuan yang sesaat berwajah belantara, kini kembali berwajah pualam.

2. Perempuan-perempuan yang Terpasung
            Dulu Egordion pernah berkhayal untuk bisa menikah dengan perempuan itu. Tidak ada perempuan semenarik Dahyang. Tidak juga perempuan-perempuan di kampungnya. Yang sangat tunduk kepada setiap lelaki yang telah meminangnya, untuk memenjarakannya di dalam rumah bertembok beton. Seolah mereka sudah terbeli, tidak hanya raganya, bahkan jiwanya lengkap dengan mimpi-mimpi yang mengisi setiap lokus otaknya.
            Ibunya adalah salah satu perempuan itu. Perempuan yang jiwanya telah terbeli, dan mimpi-mimpinya sudah direnggut paksa oleh Ayahnya. Ibu terpasung di rumahya sendiri. Memintal benang kesunyiannya sendiri. Bahkan ketika benang itu kusut, Ibu tidak bisa meminta tolong kepada sesiapa, kecuali kepada dirinya sendiri.
            Suatu saat, Ibu berusaha membangun kembali satu mimpi. Ia kumpulkan potongan-potongan benang kesunyian, serpihan-serpihan rindu yang dicampur dengan lenguhan-lenguhan keterpaksaan saat melayani Ayah. Tetapi mata Ayah yang jeli segera tahu bahwa Ibu tengah membangun mimpi. Bagi Ayah, di rumahnya tidak boleh ada bangunan bernama mimpi. Karena mimpi akan menarik Ibu keluar dari rumah, menjauhkan diri dari pasung yang telah dibuat oleh Ayah.
            Egordion pernah mengenal satu perempuan bernama Bibi Awui. Seperti juga Ibu, Bibi Awui berusaha membangun mimpi. Saat itu, suaminya tengah pergi jauh, sehingga Bibi leluasa membangun mimpi. Setelah jadi, mimpi itu seperti kereta yang segera meluncur keluar sesaat setelah pintu rumahnya terbuka. Dan Bibi Awui tidak pernah kembali lagi.
            Sejak saat itu para lelaki mulai memperketat pengawasan mereka. Potongan-potongan   kesunyian mulai dikusutkan dengan lenguhan-lenguhan yang semakin bertambah keras. Karena para lelaki mulai menunjukkan kedigdayaan cambuk mereka. Lalu perempuan-perempuan akan mencoba mengurai kekusutan itu, sehingga tidak pernah sempat berpikir untuk membangun mimpi. Serpihan-serpihan rindu telah dibakar dengan amarah, hingga hanya menyisakan abu kebencian.

3. Perempuan Pemasung
            “Menikahlah denganku,” bisik Dahyang dengan mata setengah terpejam.
            Sulit untuk tidak terpaku pada belantara itu. Belantara yang menawarkan lekuk lembah, jurang dan gunung. Hingga Egordion lalu bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri, yang terpana dalam keterpesonaan dan ketakutan.
            “Siapa, dengan siapa kamu akan menikah?”
            “Setiap lelaki yang sudah datang ke rumah batu ini, berarti dialah mempelaiku.”
            Egordion terpaku antara pesona dengan rasa takut yang luar biasa. Ia turunkan sedikit pandangan matanya karena tak biasa melihat pijar bintang itu. Pijar bintang jatuh yang keluar dari sepasang mata di depannya. Egordion hampir bertelut dan menekuk lututnya kalau saja perempuan itu tidak memekik dan mengusirnya.
            “Pergilah bocah! Datanglah beberapa tahun lagi, aku akan menunggumu di sini!”
            Sejak saat itu Egordion terus membayangkan rumah batu itu. Dan penghuni satu-satunya yang tidak pernah terkena kutukan saat tinggal di sebelah utara makam.
            Kisah-kisah yang dituliskan Ibunya selalu dibacanya setiap malam. Namun semakin dibacanya, semakin pula ia menjadi terikat dengan kenang-kenangan akan perempuan itu. Kenang-kenangan tentang rumah batu dan seribu kunang-kunang yang mengelilinginya. Kulit pualam, mata yang bercahaya, dan sepasang kaki belalang. Tiga hal itu telah menutupi sekian banyak ketakutan yang dituangkan oleh Ibu dengan paksa ke dalam mulutnya
            Kisah tentang lelaki yang selalu mati setelah menikahi perempuan itu. Lelaki yang datang dengan punggung membungkuk karena diberati oleh nafsunya sendiri. Lalu melampiaskan segalanya di tubuh belantara itu. Kemudian muncul ular-ular. mengerubuti sang lelaki. Menghisap habis seluruh tenaganya.
            Tubuhnya bagai magnet dengan dua kutub. Satu kutub menjanjikan kenikmatan yang siap disesap oleh lelaki yang jiwanya terperangkap oleh nafsu. Satu kutub lagi berisi ketakutan yang mencekam. Bagai lorong paling gelap di suatu belantara yang tak pernah terjamah oleh sinar matahari maupun rembulan
            Untuk sesaat Egordion takut. Hanya sesaat saja. Tapi ketakutan itu segera berubah menjadi minyak yang justru memperbesar nyala keinginannya untuk menemui perempuan itu lagi suatu saat. Raga, jiwa, bahkan mimpi-mimpi di dalam lokus otaknya telah dipasung oleh perempuan itu.

4. Laki-laki yang terpasung
            Dengan malu-malu ia melamarnya. Setelah sekian puluh lelaki. Atau bahkan sekian ratus? Tidak ada yang pernah tahu bilangan tahun yang telah dilalui oleh perempuan itu. Sebagaimana tidak ada yang tahu bilangan lelaki yang telah takhluk. Menekuk lutut di bawah sepasang kakinya yang seelok kaki belalang. Dan kini Egordion ingin menakhlukkam perempuan itu. Menakhlukkan seluruh tubuhnya yang bagai hamparan belantara, dengan lembah dan gunung yang memabukkan puluhan lelaki. Dan jurang yang siap menelan tubuh-tubuh yang mencoba menjamahnya dengan rakus.
            Ibu sudah berulang kali medesiskan dongeng itu di telinganya. Sampai kering mulut karena ludahnya dihisap oleh angin pegunungan yang menyelusup di sela-sela pohon mahoni. Lihatlah! Betapa angin pun berpihak kepada perempuan itu. Perempuan yang hidup sendirian di sebelah utara perkampungan, berbataskan sebuah pemakaman yang dikeramatkan.
            Bahkan  Ibu lalu menulis. Ya, menulis banyak-banyak tentang kisah yang tidak berani lagi dilisankannya. Meski angin mencoba menerbangkan kertas yang sedang dipegangnya, Ibu tetap menulis. Ia tak ingin anak lelakinya tersesat lebih jauh.
            Tidak ada yang tahu berapa umur pemakaman itu. Tembok luarnya yang berlumut dan berhiaskan tanaman paku-pakuan selalu menarik perhatian anak-anak kecil untuk mendekatinya. Bangunan beton dan cat-cat tembok yang bersih menyuguhkan peradaban yang membosankan. Rupanya tangan-tangan kecil itu tertarik untuk mengelupas lumut-lumut. Untuk mencari cacing-cacing kecil yang menggeliat di sebaliknya. Sampai orang tua mereka melarang dan menuliskan cerita tentang asal muasal pemakaman itu.
            Kata Ibu, salah satu makam yang paling besar di dalam pemakaman itu adalah milik seorang Rahib. Orang suci yang tak mengenal hawa nafsu. Nyaris mendekati sifat malaikat. Ia adalah milik penduduk kampung. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah dogma yang tak terbantahkan.
            Setahun sekali, Sang Rahib akan memilih seorang perawan yang masih suci. Perawan suci itu akan membantunya memberikan layanan kepada orang-orang yang berdatangan kepadanya. Memercikkan air suci, membawa bunga-bunga, membantu menyiapkan altar. Perawan yang terpilih pastilah gadis yang tercantik. Dan itu merupakan ujian tersendiri bagi Sang Rahib.
            Suatu hari Rahib itu tergoda oleh seorang gadis cantik, yang datang kepadanya dengan suka rela. Tubuhnya molek bagai patung pualam. Matanya yang redup kemudian menjadi bercahaya setelah Sang Rahib menangkap bintang jatuh untuk disematkan di bola matanya. Serpihan-serpihan bintang jatuh itu menjelma kunang-kunang yang mengitari rumah Sang Rahib. Berkuntum-kuntum kembang telah diambil sarinya, untuk dibalurkan di tubuh pualam itu, sehingga senantiasa wangi.
             Sejak ada perempuan itu, Sang Rahib tidak pernah keluar rumah untuk melayani penduduk yang membutuhkan pertolongannya. Ia hanya melayani perempuan itu dari hari ke hari. Sampai suatu hari, Rahib itu tiba-tiba sekarat, dan perempuan itu menghilang. Sebelum dikuburkan, Rahib itu menitip pesan. Jangan sekali-kali membangun rumah bahkan sampai menetap di sebelah utara makam. Bahkan angin selatan yang panas pun tidak berani menyeberangi pemakaman itu. Hanya angin utara dari pegunungan yang dingin, berani berputar-putar di sana.
            Konon ada beberapa dari sekian banyak penduduk yang mencoba membangun rumah dan menetap di utara makam. Yah, beberapa orang yang berani. Namun semuanya berakhir dengan kematian. Demikian kepercayaan itu tumbuh bertahun-tahun, mengendap pada bagian dasar batas kesadaran mereka.
            Suatu hari Egordion kecil berjalan mengendap mendekati tanah makam. Ia terpesona oleh lumut-lumut yang menempel di tembok sebelah luar makam. Lumut-lumut itu tetap hijau meski kemarau telah menyerang perkampungan mereka. Bahkan ketika daun-daun mulai meranggas dan berguguran. Egordion mulai memasukkan kuku-kuku jarinya ke balik lumut-lumut tebal yang bagai potongan permadani itu. Mencakar dan mulai mengambil lumut-lumut tebal itu hingga beberapa centimeter. Ia menemukan cacing-cacing berlindung di sebalik lumut. Cacing-cacing yang mulutnya mendesis-desis dan menjulurkan lidahnya. Mirip kepala anak-anak ular.
            Ada alur kecil yang mirip lorong yang dilalui cacing-cacing berkepala ular itu. Sebuah lorong di tanah yang semakin melebar, sehingga Egordion bisa menyelusup masuk dan melewatinya. Saat ujung lorong menjadi lebih terang, Egordion menemukan dirinya telah berada di sana. Di rumah batu dengan seorang perempuan yang memiliki kulit bagai pualam. Perempuan itu menyebut dirinya Dahyang.

5. Membuka Pasungan
            Egordion bukan satu-satunya lelaki yang terperangkap dalam rumah batu itu. Telah puluhan bahkan ratusan jiwa. Yang terperangkap dalam belenggu nafsunya sendiri.  Bagai Ibunya yang telah terpasung di dalam rumah sendiri. Egordion terpasung dan ia tak pernah kembali ke rumah Ibunya. Tetapi ia tidak mati.
            Lalu perempuan di kampung itu mulai kasak-kusuk. Mereka membicarakan tentang keganjilan itu. Egordion yang tidak mati setelah menikahi perempuan di rumah batu. Tinggallah Sang Ibu. Ia mulai merindu sesuatu yang sejak lama seolah mustahil. Melenyapkan pasung yang selama ini mengungkung jiwa, raga dan mimpi-mimpinya. Ibu ingin menjadi Dahyang. Tidak terpasung, bahkan memasung. Maka setiap malam Ibu menatap ke langit, berharap ada bintang jatuh. Kalau ada satu saja, pasti bulatan terangnya yang memijar berjuta cahaya bisa diambil, untuk dipasang di bola matanya.
            Berbulan-bulan Ibu terus menunggu. Bintang di langit tak juga jatuh. Bintang-bintang tetap cemerlang di angkasa. Ibu mulai menyiapkan berbagai alat untuk menjaring bintang yang akan jatuh. Lalu Ibu mulai berpikir untuk mencari galah yang terpanjang. Dengan menaiki atap rumah yang paling tinggi, seorang perempuan mulai menengadahkan wajahnya ke langit. Di kedua tangannya tergenggam galah yang paling panjang. Sesekali kedua tangannya terangkat ke atas. Sampai ketika kedua kakinya terhumbalang ke atas dengan kemampuan lompatan yang paling tinggi. Namun bintang tak juga tergapai.
            Siang hari, Ibu pun mulai meramu berkuntum-kuntum kembang. Untuk dibalurkan di tubuhnya. Sampai kuntum bunga di kampung itu hampir habis tak bersisa. Wangi mulai merebak di pintu masuk rumahnya yang terbuka.
            Pada malam  di mana purnama hanya serupa sabit, peristiwa yang sudah lama ditunggu-tunggu Ibu pun datanglah. Ada bintang jatuh. Bumi menjadi terang benderang seketika. Namun karena kuatnya benturan dengan permukaan bumi, bintang yang jatuh itu pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Serpihan-serpihan yang bertebaran di tanah, cahayanya berpendaran menyilaukan mata sesiapa yang kebetulan melihatnya. Dengan rakus Ibu meraup serpihan-serpihan itu. Memasangkannya di kedua bola matanya 
            Bola mata Ibu sudah berganti dengan serpihan bintang. Saat itu,  mulailah terlihat pendar cahaya dari sela-sela atap rumah. Ketika bau wangi mulai menguar dari tubuh belantaranya, lelaki itu mulai menekuk lutut. Bertelut di tengah sepasang kaki belalang yang mengangkang. Memohon untuk bisa menjelajahi belantara itu, mendaki gunungnya dan merebahi lembahnya. Lelaki itu menghilangkan kenangan atas satu hal. Yakni jurang yang di dalamnya tersembunyi ratusan ular yang mendesis-desis. Maka pasung itu pun terbukalah. Dan Egordion kembali menjelajahi belantara itu.

No comments: