21.1.15

Lari - Majalah Hai

     Pemuda itu membanting pintu studio dan langsung menuju ke arah gitar yang biasa dimainkannya. Tampangnya kusut dan dia terlihat berantakan. Pun, melodi yang dimainkannya saat ini sungguh tidak karuan.
     "Hei! Berisik sekali kau!"
     Pemuda itu menghentikan petikan gitarnya. Nada-nada sember itu segera menguap di udara begitu mendengar suara protes dari arah ..., drum?Sungguh tidak lucu jika dia menganggap drum itu dapat berbicara.Tapi, dugaan konyolnya itu segera terbantahkan begitu melihat gadis bertampang innocent yang selang beberapa detik berdiri dan dia mengenalinya.
      Hei ..., bukankah itu, "Melisa? Apa yang kau lakukan di situ?"
     Gadis bernama Melisa itu merentangkan tangannya danmenguap.
      "Kau membangunkanku sebelum waktunya, Dyko!"katanya seraya melotot. "Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini? Bukankah ini Minggu? Dan kalian, maksudku kau, Joe dan juga Dru ke sini hanya setiap Sabtu sore, kan?"
     Ditanya seperti itu Dyko gelagapan. Dia sama sekalit idak pandai berbohong. Hari ini dia sungguh frustasi, dan berharap gitar dapat menghiburnya yang tengah kacau.
      Melisa, si anak pemilik studio sekaligus teman sekelas Dyko di SMA Bakti Nusa, menatapnya penuh curiga.
      "Oh iya," Melisa seperti ingat sesuatu."Bukankah sore ini kau akan mengikuti lomba lari?"
      "Ah, itu ...."
      "Kau tidak bermaksud menghindar, kan?" Melisa sengaja tidak memberikan kesempatan pemuda di depannya berbicara. "Hei! Ini masih pukul delapan dan karena kau sudah menggangguku. Bagaimana jika kita jalan-jalan dulu?"
      Dyko ingin mengatakan tidak, "Aku ..."
     Gadis itu lalu menguncir rambutnya asal. "Pagi ini udara di sekitar sangat sejuk, dan tentu saja kau juga harus mentraktirku! Oke? Jangan bilang tidak, karena aku tidak suka mendengar kata itu!"
Melisa langsung keluar dari studio tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu dari Dyko.Terdengar suara pintu tertutup.
       "Gadis itu licik sekali!" gerutu pemuda itu sambil melihat isi dompetnya. "Harusnya aku tidak datang ke sini tadi!"
Shit!
***
     "Kuperhatikan, kau diam saja dari tadi!"Melisa menengok ke samping kiri. Lalu, memakan kembali cottoncandy yang ada di tangannya. "Apa karenaaku merampokmu hari ini?"
Dyko diam, kemudian tertarik untuk duduk di kursipanjangyang tersedia di trotoar. Dia membersihkan daun yang mengotori kursiitu sebelum duduk. Melisa punmenyusulnyaduduk di samping.
      Gadis itu tidak mau berpura-pura lagi. Dia cukup tahu,Dyko bersikap seperti ini karena apa.
"Hei ..., aku tahu lomba ini sangat pentinguntukmu." Melisa diam sejenak, menepuk bahu pemuda disebelahnya. "Kau tidak akan menyia-nyiakannya bukan?"
     Dyko memasukkan kedua tangannya di saku jaket. Benarkata Melisa, udara kota Malang pagi inibenar-benar sejuk. Dia lalu memejamkanmata, mendengar suara burung dan dia masih enggan untuk berkata.
     Melisa mencomot kembali cottoncandy-nya dan menyodorkan sebagian pada Dyko."Kau mau?"
      Dyko tertawa sinis. Dia akhirnya berkata, "Hei,gadis kancil! Akuhanya tidak tahu apakah aku harus mengikuti perlombaan itu atautidak."
      Melisa membulatkan mata. Dia salah dengar?“Maksudmu?”
     "Mama dan Papa baru kembali besok dari seminar diJakarta," kata Dyko seraya mengembuskan napaskecewa. "Dan, kau tahu si kembar Joedan Dru memberikanku kabar mendadak, kalau mereka tidak bisa datangkarena ternyata hari ini mereka harus berlibur bersama kedua orangtuanya ke Solo."
    "Oh ..., hanya itu?"
    Dyko mencebik. "Aku sudah gagal dua kali!Bukankah kau tahu itu?"
     "Ya, tapi apakah hanya karena itu, sekarang kauingin menyerah?" Melisa berkata sungguh-sungguh. "Hanyaitu?"
    Dyko melempar muka, menghindarikontak mata dengan Melisa yangkini menatapnyatanpa berkedip.
      "Kenapa kau berbicara hanya itu terus?Harusnya kau tidak membuatku semakin terlihat bodoh saat ini,"Dyko menggigit bibir. Frustasi."Kau tahu, Miko? Ya, dia selalu mendapatkan yang dia inginkan.Dan tahun kemarin dia mengalahkanku! Papanya adalah temanpapaku, dan akhirnya papa selalumembandingkanku dengannya. Sialnya lagi sekarang dia berpacarandengan gadisku!"
Untuk yang terakhir, dia kelepasan berbicara. Dia baruputus dari pacarnya.
      "Konyol sekali. Siapa itu Miko? Aku tidakmengenalnya," ucap Melisa dusta. "Dan, aku kira selama inikau adalah motivatorku.Aku pernah diremehkan karena nilai bahasa inggrisku amatlah buruksemester kemarin. Aku melihatmu mengikuti lomba lari lagi, setelahsebelumnya kau pernah gagal.Dari sanalah aku mencoba juga dengan lebih giat belajar. Tapi hariini, aku melihat motivator yang salah. Ke mana Dyko yang kukenal?Ke mana kalimat ajaib yang kau ucapkan padaku waktu itu?"
     Melisa lalu beranjak dari posisi duduknya, pergi denganwajah menunduk. "Jangan ikuti aku!"
      Dyko pun hanya bisa tertegun. Bergeming,tanpa bisa mencegah kepergian gadis itu. Dan sesaat, dia merasa adasesuatu yang aneh. Mengganjal,dan dia bingung lalu memutuskanberputararah.
Mencobalaridarimasalah.
***
      "Lari Dyko! Cepat!"
     Dyko menatap jengah pada gadis yang bersorak dengan toadi barisan penonton tanpa rasa malu. Ternyatagadis itu tidak bersungguh-sungguh denganucapannya, apabilatidak mau mendukungnya. Serta, ada beberapa gadis yang memakai topengbergambar mama, papa, dan duo kembar sahabatnya. Ah, jujur,dia terharu melihatnyameskiitu tampak aneh.
       Dyko mengambil ancang-ancang. Suara tembakan segerameluncur di udara. Dia berlari. Kencang. Napasnya memburu. Dilintasan berbelok diamelakukan kesalahan, terjatuh. Dia ingat,dia pernah diremehkan.Penonton menyorakinya saat keluar dari lintasan dengan kaki tertatih.Lalu, dia bangkit. Dan tak lama ketika dia hampir menyentuh garisfinishseseorang berbuat curang padanya,tidak ada yang mengetahui hal itu, hinggamembuatnya kembali terjatuh. Dan,saat itu Miko menang.
      "Lari Dyko! Lari!"
Dyko tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum. Menatap kearah Melisa yang terus berteriak. Kaliini, dia benar-benar mengambilancang-ancang. Berlari. Bersungguh-sungguh. Seperti yang didengarnyatadi. Lari, Dyko! Cepat! Dia tidak akan menyerah.
      Seperti dulu, dia tidak percaya pada kata kalah. Kini,baik Dyko maupun Melisa berkata lirih, "Aku hanya percaya. Akuharus mencoba lagi, lagi, hingga menang."
Sore itu ada banyak jiwa yangtersenyum. Pun, tak mencobalarikenyataan.

No comments: