4.11.14

Bulan Biru di Mata Savira - Majalah Gadis

Bulan Biru di Mata Savira



Savitri baru saja menurunkan kameranya saat terdengar keributan di belakang kelas. Kepalanya menoleh dengan ragu-ragu. Lagu band pembuka sudah terdengar di kejauhan. Seharusnya Savitri harus segera ke panggung untuk melaksanakan tugasnya tapi keributan itu lebih memancing rasa penasarannya.
            “Apa, sih, masalahmu?” bentak Savira sambil membuka ikatan udeng[1] di kepalanya. Savitri yang mengintip di balik tembok terkesiap. Di sana Savira berdiri menantang Karin. Mereka berdua sudah memakai kostum lengkap penari jathil. Seharusnya mereka bersiap pentas sebab setelah band pembuka, grup reog SMA mereka akan tampil. Tapi kenapa mereka malah bertengkar di sini?
            “Bukan aku yang bermasalah Ra, tapi kamu!” sentak Karin. Nada suaranya meninggi. Belum pernah Savitri melihat Karin semarah itu. “Kenapa sih kamu tidak mendengarku? Sejak kamu pacaran sama Gilang…”
            “Ah, jadi soal itu? Sebenarnya kamu iri, kan, aku pacaran dengan Gilang?”
            “Aku tidak iri sama kamu. Buat apa?”
            “Semua orang juga tahu dulu kamu naksir Gilang,” kata Savira dengan nada suara yang menikam.
            “Ya ampun, Ra. Itu dulu.”
            Siapa tahu sekarang masih suka.” Savira tersenyum sinis.
            “Terserahlah apa katamu. Yang jelas aku bicara seperti ini juga untuk kebaikanmu.”
            “Dengar Rin, Aku tidak suka diatur-atur.” Savira melemparkan udeng miliknya ke arah Karin, “Jadi jangan atur-atur aku.” Savira melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
            “Hei, kamu mau kemana? Sebentar lagi kita pentas.”
            Peduli amat dengan pentas.”
            “Tapi bagaimana dengan formasi tarinya?”
            Savira tidak menjawab dan terus berlalu. Karin memandangnya dengan wajah marah. Savitri yang melihat percecokan itu hanya bisa menggelengkan kepala. Savira memang terkenal sangat keras kepala. Savitri tahu betul sebab Savira adalah kakak perempuannya.
@@@
            Mbak Karin tidak pernah ke sini, Mbak?” tanya Savitri sambil membersihkan lensa kameranya. Savira hanya menggeleng tanpa komentar. Dia memoles lipgloss pada bibirnya.
            Mbak Vira, mau kemana?” tanya Savitri.
            “Les,” jawabnya kesal.
            “Bukannya besok, Mbak?”
            “Les tambahan. Rese amat sih kamu.”
            Savira menyisir rambutnya. Lengannya terangkat dan Savitri sempat menangkap lebam di sana. Bentuknya bundar seperti bulan biru yang menyakitkan untuk dipandang.
            “Kenapa lengan Mbak Vira?”
            “Jatuh.” Savira membuang muka saat menjawab.
            “Akhir-akhir ini Mbak Vira sering jatuh, ya?”
            Dengan cepat Savira menyambar tas dan tidak menghiraukan adiknya. Savitri hanya menatap kakaknya dengan prihatin. Karin benar. Savira memang berubah banyak.
@@@
            Kepala para penari jathil macak gulu[2] sementara mata mereka berkedip-kedip. Tangan mereka memegang kepala jaranan dan pinggul mereka bergoyang bersamaan. Savitri beberapa kali membekukan gerakan mereka dalam jepretan-jepretannya. Senyumnya mengembang. Savitri bergerak lincah di sekitar arena panggung. Dia tidak akan melewatkan momen terbaik dalam Festival Reog Internasional di alun-alun Ponorogo. Foto-foto itu akan terpampang di majalah sekolahnya. Savitri bergerak ke arah kanan. Dia membidik ke bawah panggung. Sebuah wajah menguasai lensanya.
            “Mbak Karin,” desis Savitri.
@@@
            Karin mengambil mangkuk dawet jabung yang diacungkan penjualnya. Mangkok dawet itu dialasi tatakan. Karin mengambil mangkok sekaligus tatakannya. Terjadilah tarik-ulur dengan penjual hingga akhirnya penjualnya berkata,”Ambil mangkoknya saja, Mbak,”
            Karin mengambilnya dengan wajah bingung.
            “Memang seharusnya ambil mangkoknya saja. Aturannya begitu,” kata Savitri geli. ”Katanya kalau ada yang ambil mangkok sekaligus tatakannya itu tandanya dia masih belum berumah tangga alias masih gadis.”
            “Kan, memang begitu,” kata Karin. Savitri tertawa. “Kak Karin ini orang sini tapi nggak tahu yang beginian.”
            “Aku nggak pernah beli dawet jabung,Tri.”
            Mereka berdua lalu menikmati dawet Jabung sambil memerhatikan alun-alun yang masih riuh. Grebeg Suro setiap tahun memang selalu memikat siapa saja.
            “Mbak Karin, kenapa sekarang jarang ke rumah? Dulu malah sering nginep,” tanya Savitri. Wajah Karin berubah. Matanya berubah sendu.
            “Sebenarnya ada apa sih, Mbak?”
            “Aku bosan jadi tameng kakakmu.”
            “Tameng?”
            “Savira sering mengatasnamakan aku untuk ijin keluar rumah. Ya belajar di rumahku lah, les tambahan lah. Padahal sebenarnya dia tidak sedang bersamaku.”
            “Bersama Mas Gilang?”
            “Aku tidak ingin terus-menerus menutupi kebohongan kakakmu.”
            “Ya, kami memang belum boleh pacaran, Mbak. Bapak pasti akan marah kalau tahu Mbak Savira punya pacar. Mungkin itu sebabnya dia bohong.”
            “Sementara itu kakakmu mengira aku sebenarnya cuma cemburu. Percayalah, aku tidak kepikiran lagi nama Gilang sejak aku tahu dia bukan cowok yang baik.”
            Savitri menatap Karin lekat. Ada kesungguhan di mata Karin.
            “Maksud Mbak Karin?”
            “Aku tidak ingin menceritakannya.”
            Savitri menggelengkan kepala,”Tapi, Mbak…”
            Karin memegang lengan Savitri,”Aku tidak ingin menceritakannya sebab aku ingin kamu menyaksikannya sendiri.”
@@@
            Savitri menepuk kakinya. Nyamuk-nyamuk sedang berpesta pora di sana. Kembali dia membidikkan kamera sementara kakinya tidak bisa diam karena rasa gatal. Agak susah juga memfokuskan kameranya.
            “Mbak, sampai kapan, nih, kita di sini?”
            “Bentar lagi.”
            Karin dan Savitri berdiri di depan sebuah kafe. Mereka sedang mengintai seseorang. Sudah satu jam mereka di sana. Savitri sebenarnya sudah tidak tahan dengan ulah nyamuk-nyamuk yang rakus. Untunglah, tak lama kemudian dari pintu kafe keluar sepasang remaja.
            “Mereka keluar, Tri,” bisik Karin. Savitri terus mengikuti sepasang remaja itu dengan kameranya. Suara klik jepretannya terdengar berulangkali. Tiba-tiba dia merasakan keanehan. Kedua wajah laki-laki dan perempuan itu berubah tegang. Si cewek sepertinya mengatakan sesuatu yang membuat cowoknya marah. Cowok itu berteriak dan di luar dugaan. Plakkk!! Dia menampar cewek itu. Savitri kaget bukan main. Dia hampir saja menjatuhkan kameranya. Si cowok tanpa basa-basi langsung mengambil motor dan meninggalkan ceweknya.
            Mbak Karin lihat yang tadi nggak?”
            Karin tidak menjawab tetapi justru memberi isyarat kepada Savitri untuk mengikutinya. Mereka mendekati cewek yang masih tergugu di parkiran.
            “Res?” kata Karin. Cewek itu menoleh. Dia semakin tergugu saat melihat Karin.
            “Karin, aku sudah berusaha. Dia tidak mau putus. Dia justru menamparku,” katanya dengan terbata-bata. Karin segera memeluknya. Savitri hanya diam mematung. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Savitri mengenal cowok yang pergi tadi tapi dia tidak mengenal gadis yang berada dalam pelukan Karin.
            Mbak Karin?” ucap Savitri.
            “Savitri, kamu sudah melihat semua. Kenalkan ini Resti, sepupuku.” Savitri menatap Resti yang kelihatan rapuh dengan nanar. “Dia pacar Gilang,” lanjut Karin. Savitri membeku dalam diam.
@@@
            Savira sedang mengompres matanya dengan es. Savitri meletakkan tasnya lalu duduk di depan Savira.
            “Jatuh lagi Mbak?”
            “Ehm...bukan. Tadi mataku kejatuhan buku tebal di perpustakaan,” jawab Savira gugup. Savitri menghela napas panjang lalu mengeluarkan kameranya dari dalam tas. “Mbak Vira, aku mau curhat.”
            “Curhat apa?”
            “Mbak, aku punya teman nih. Dia punya cowok tapi sayangnya cowoknya ini posesif sekali. Kalau cowok ini mengajak keluar, temanku ini harus bisa meski dia punya jadwal lain yang lebih penting. Cowok ini tidak terima alasan apapun. Pokoknya temanku ini harus menuruti kemauannya. Temanku ini akhirnya jadi sering bohong sama orangtuanya. Dia ngaku kalau lagi belajar bareng atau les tambahan padahal sebenarnya dia keluar sama cowoknya.”
            Savira mengubah posisi duduknya dengan gelisah. “Namanya juga orang pacaran, Tri.”
            “Tapi Mbak, temanku ini juga rela menutupi kelakuan cowoknya yang kasar. Dia sering dipukul lho, Mbak. Kalau menurut Mbak Vira temanku itu harus bagaimana?”
            Savira memasang wajah bete,”Suruh putus aja kenapa? Gampang to?”
            Savitri mengacungkan kameranya pada kakaknya. “Itu hal sama yang ingin kusarankan sama Mbak Vira.”
            “Maksud kamu apa?” kata Savira dengan nada tinggi.
            “Lihat saja sendiri.”
            Savira mengambil kamera itu dan melihat-lihat foto yang ada di sana. Tangannya bergetar dan airmatanya mengalir. Savitri mendekati dan memeluknya.
            “Lebam di tubuh Mbak Vira bukan karena jatuh atau tertimpa buku tebal, kan? Nama cewek di dalam foto itu Resti. Dia mengalami apa yang Mbak Vira alami. Mas Gilang itu brengsek.”
            Savira tergugu di pelukan Savitri,”Aku nggak bisa, Tri. Aku nggak sanggup. Setiap aku minta putus, Gilang akan marah. Tak hanya mulutnya yang bicara, tangannya juga. Dia sangat temperamen.
            “Mbak Vira pasti bisa.” Savitri melepaskan pelukannya.
            “Andai bisa semudah itu.”
            Savitri menyentuh mata Savira yang lebam. Matanya sendiri ikut merasa perih. Savitri melihat bulan biru yang menyakitkan di mata kakaknya. Bulan biru yang ingin dilenyapkan untuk selamanya.
            “Sudah cukup. Mulai sekarang tidak ada lagi yang tersakiti,” kata Savitri tegas.
@@@
             
            “Bulannya bagus ya, Tri,” kata Savira sambil menatap purnama di atas alun-alun Ponorogo. Suara gamelan Reog bergemuruh di kejauhan. Savitri yang baru sibuk mengecek hasil fotonya ikut menoleh ke langit.
            “Seharusnya cahaya seperti itu yang ada di mata mbak Vira.”
            “Aku tak yakin, Tri,”
            Tak ada bulan biru di bagian manapun di tubuh Savira selama sebulan ini. Namun ini sebenarnya belum berakhir. Savira belum sepenuhnya putus dengan Gilang. Dia hanya menghindari Gilang saja. Savitri sudah berusaha membujuk kakaknya supaya bersikap tegas namun Savira merasa tak mampu. Maka selama sebulan penuh Savitri selalu menemani kemana kakaknya pergi agar bisa menjaganya. Pun saat Savira ingin melihat acara Purnaman di alun-alun. Biasanya tiap bulan purnama selalu ada pentas Reog di panggung alun-alun.
            “Gilang jadi kasar seperti itu karena sejak kecil dia melihat ayahnya memukul ibunya. Jadinya dia merasa bahwa memukul perempuan itu adalah hal yang biasa.”
            “Mas Gilang itu sudah menyakiti mbak Vira secara fisik maupun batin. Soal Resti…”
            “Aku sudah lama tahu soal Resti,” potong Mbak Vira. Savitri menoleh cepat ke arah kakaknya.
            “Sebenarnya saat aku jadian sama Gilang sudah banyak yang ngasih tahu soal Resti. Hanya saja aku mengabaikannya karena aku jatuh cinta sama Gilang. Aku brengsek ya, Tri?”
            Savitri hanya terdiam.
            “Tapi aku nggak tahu kalau Resti itu sepupu Karin. Bener.”
            Savitri menghela napas panjang. Pada saat itu bayangan bulan tiba-tiba berubah gelap. Seseorang sudah berdiri di depan mereka.
            “Ra, aku mau ngomong sama kamu,” sentaknya. Savira mendongak. Gilang sudah ada di hadapannya. Savitri langsung menghadang Gilang.
            “Nggak ada yang perlu dibicarain. Mbak Vira tidak mau ketemu kamu lagi,” sentak Savitri.
            “Heh, kamu anak kecil minggir aja deh.”
            “Tapi aku tidak takut sama kamu. Kamu itu yang pengecut. Beraninya mukul cewek.”
            “Tri,” desis Savira getir.
            Wajah Gilang berubah garang. Tangannya terangkat. Savira menjerit ketakutan. Sementara Savitri masih geming. Tiba-tiba tangan Gilang terpelintir ke belakang lalu dengan sekali sentak tubuh Gilang terjerembab. Orang-orang mulai berkerumun. Savira memeluk adiknya. Tubuh mereka bergetar. Di depan mereka Karin berdiri dengan kaki membentuk kuda-kuda. Gilang menyentuh bibirnya yang berdarah akibat benturan dengan aspal. Dia langsung berdiri menantang. Kerumunan orang semakin banyak.
            “Jangan macam-macam sama cewek. Itu balasanmu karena sudah menyakiti orang-orang yang aku sayangi,” sentak Karin. Gilang menggeram. 
            “Jangan ikut campur. Ini urusanku dengan Vira.”
            “Gilang, sudah cukup,” seru Savira. Nada suaranya masih gemetar. “Savitri dan Karin benar. Ini tidak bisa begini terus. Kita putus,” lanjutnya dengan suara lebih tegas. Gilang menatap Savira dengan nanar. Tangannya terkepal. Dia menendang kerikil di depannya lalu berlalu diiringi suara sorakan orang-orang yang bubar satu persatu.
            Savira menatap Karin tak percaya,”Aku tidak tahu kamu bisa bela diri.”
            “Semenjak Resti curhat sama aku, aku memutuskan untuk belajar bela diri. Aku pikir suatu hari nanti pasti akan berguna.”
            “Itu tadi sih berguna banget, Mbak,” seru Savitri.
            Lalu hening menyeret mereka bersama bayangan bulan. Savira merasa canggung di depan Karin.
            “Aku minta maaf, Rin,” desah Savira. Karin tersenyum,”Aku sudah lama memaafkanmu, Ra.” Savira memeluk Karin. Savitri tersenyum sambil membidikkan kameranya ke arah mereka. Dia yakin bulan biru akan tetap hilang selama mereka saling menjaga.


[1] Nama ikat kepala untuk penari jathil
[2] Gerakan tari menggerakan kepala tanpa menggerakkan leher

No comments: