11.11.14

Alisa Belajar Zakat - Analisa Medan


Tak terasa, Ramadhan sudah berjalan tiga pekan lamanya. Itu artinya, tak lama lagi Idul Fitri akan tiba. Sore itu, Alisa melihat sebuah becak berhenti di depan rumahnya.
“Bang Adin? Bawa apa?” Alisa mendekati Bang Adin, si penarik becak. Bang Adin adalah tetangga Alisa. Ia juga tukang becak langganan ibu. Di dalam becak, Alisa melihat ada dua karung besar berwarna putih.
“Eh, Non Alisa. Baru pulang mengaji, ya?” Bang Adin balik bertanya. Ia turun dari atas kemudi becak dan mengganjal roda-roda becak dengan batu.
Alisa mengangguk. “Iya, Bang. Itu apa?” ulangnya, menunjuk sebuah karung yang siap dibawa oleh Bang Adin.
“Oh, ini beras pesanan Ibu,” sahut Bang Adin. “Tadi Bang Adin ambil dari toko kelontong Pak Abu. Katanya Ibu sudah pesan dari kemarin, tapi baru bisa diantar hari ini.”
Alisa bergegas menuju rumah dan membukakan pintu untuk Bang Adin. Lalu mengikuti Bang Adin yang masuk dapur dengan karung beras di punggungnya. Wah, Bang Adin hebat. Bisa bawa karung seberat itu. Padahal sedang puasa, pikir Alisa.
Di dapur, ibu menyambut kedatangan Bang Adin dan beras pesanannya. Setelah semua beras selesai diangkut dan upah dibayarkan, Bang Adin pamit.
Ibu bilang, itu beras untuk persiapan zakat fitrah. Sebelum dibagikan, harus ditimbang dulu. Dalam satu kantong plastik berisi sekitar 3,5 liter beras.
Alisa lalu memandang buku yang sedang ditulisi oleh ibu.
“Ini data para penerima zakat,” kata Ibu menatap Alisa. “Alisa mau bantu menuliskan? Nanti Ibu absen nama-namanya. Ibu mau nyambi menyiangi sayur buat buka.”
Alisa mengangguk patuh. “Tapi Alisa taruh Al Qurannya dulu, ya?”
***
Alisa sudah pulang shalat tarawih. Sekarang, ia sedang menikmati kolak pisang buatan ibu sambil menonton tivi. Di sampingnya, ayah sedang memeriksa buku data penerima zakat.
“Yah, kenapa kita harus berzakat?” tanya Alisa pada ayah. Kolak pisang dalam mangkuk sudah tandas sejak tadi.
Ayah meletakkan buku zakat dan tersenyum. “Karena di dalam harta yang kita punya, ada hak fakir miskin,” jelas Ayah singkat.
Alisa menautkan kedua alisnya yang hitam tebal. Saat menuliskan nama para penerima zakat tadi sore, ia juga menuliskan nama guru mengajinya. Ustadzah Fatimah. Bukankah Ustadzah Fatimah bukan fakir miskin? Suaminya, kan, pegawai negeri. Kenapa beliau juga terdaftar?
“Kalau Ustadzah Fatimah?” tanya Alisa penasaran.
“Karena beliau guru mengaji kamu. Selain fakir miskin, ada juga beberapa golongan yang berhak menerima zakat. Seperti amil atau para pengurus zakat, muallaf, juga fisabilillah. Nah, Ustadzah Fatimah termasuk yang….”
“Fisabilillah. Kan mengajari Alisa supaya pintar dan benar membaca Al Quran,” jawab Alisa girang. Bisa meneruskan kata-kata ayah. Ayah mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar.
***
Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… Laa ilaaha illallahu Allahu akbar. Allahu akbar, wa lillahil hamdu….
Malam ini, gema takbir terdengar di mana-mana. Dada Alisa berdegup cukup kencang. Rasanya senang dan haru karena bisa menyelesaikan puasa sebulan penuh. Dan besok, ia akan merayakan hari kemenangan.
Di teras rumah Alisa, sudah ada Bang Adin dan ayah ibunya. Bang Adin diminta oleh ayah dan ibu untuk membagikan zakat pada yang berhak.
“Bu, Alisa pikir orang-orang akan mengambil sendiri zakatnya ke sini.”
“Iya, biasanya juga begitu. Tetapi, diantar lebih baik. Kan, mereka tidak minta. Kita yang berniat memberi, kan?” Ibu menerangkan sembari membetulkan kerudung Alisa yang bergeser.
Betul juga, batin Alisa. Ia kemudian teringat Mak Ijah yang tinggal sendiri di ujung gang. Kasihan memang jika malam-malam harus datang ke rumahnya.
“Bu, Alisa, kan, belum bisa berzakat sendiri. Tapi boleh, ya, Alisa ikut membantu membagikan? Yang dekat-dekat rumah saja kok,” pinta Alisa. “Juga zakat untuk Ustadzah Fatimah.”
Ayah dan ibu mengangguk bersamaan. Alisa bersorak riang. Malam itu, ia bersemangat sekali membagikan zakat pada tetangganya yang kurang mampu. Mulutnya yang mungil, tak henti-hentinya menyuarakan takbir. Alisa berharap, puasanya dan ayah ibunya makin diberkahi oleh Allah SWT.
***





No comments: