14.9.14

Petualangan di Danau Dendam - Lampung Post



 “Pernah naik sampan?” tanya Randa. Een memandangi Randa sambil menggeleng.
“Belum, seru nggak?” Een balik bertanya.
“Tentu saja seru, kita bisa sambil memengang airnya,” ujar Randa.
“Ah, aku malah pernah naik perahu arum jeram, lebih seru,” kata Randa cemberut.
“Tapi, naik sampan jelas beda!” Randa tak mau kalah.
“Di pinggir Danau Dendam juga kita bisa asik menikmati es degan dan jagung bakar loh,” kata Ririn sepupunya yang lain.
“Betul. Apalagi bawa pancingan,” usul Randa.
“Kamu bisa mendayung?” tanya Een mulai tertarik naik sampan. Een seumuran dengan Randa, sama-sama kelas 4 SD.
“Nggak,”
“Lalu, kita ke sana sama siapa?” tanya Een.
“Ajak Dang Aji aja bagaimana?” jawab Randa. Dang Aji adalah sepupunya yang paling tua.
“Sip, besok kita ajak Dang Aji ya,” Kata Een tersenyum lebar.
“Yup! Mumpung musim kemarau, kalau musim hujan susah naik sampan,” Randa tersenyum lebar.
Liburan kenaikan kelas kali ini Een sekeluarga ke Bengkulu. Kota kelahiran Ayahnya. Kebetulan keluarga besar Ayah sedang ada hajatan. Een dengan gembira membayangkan pertualangan liburannya kali ini.
**

 “Bu, aku mau naik sampan di Danau Dendam”
“Sama siapa?” tanya Ibu.
Dang Aji dan sepupu lainnya, Bu.”
“Tapi di rumah Andung lagi ramai sayang. Semua orang sibuk.” Ibu menunjuk ke arah para tetangga yang sedang menata meja, memasang janur dan menghias kamar pengantin.
“Apalagi berangkatnya dengan Dang Aji, Ibu kuatir.”
“Kenapa, Bu?”
“Ya sebaiknya dengan Ayah saja, tapi sepertinya Ayah juga lagi sibuk. “ jawab ibu. Een menatap Ibu dengan muram. Harapannya untuk naik sampan di Danau Dendam jadi ciut. Ya, sejak kemarin Ayah pergi ke rumah saudara-saudara untuk
mengantarkan undangan.
"Besok saja ya, semoga Ayah bisa menemani kalian," tawar Ibu.
“Tapi... besok janji ya, Bu? Een sudah sangat penasaran bagaimana rasanya naik sampan. Apa Ayah bisa mendayung, Bu?”
“Oh tentu. Ayah bisa mendayung. Dulu ibu dan ayah juga pernah naik sampan di Danau Dendam. Pemandangannya indah sekali.”
“Wah, Een jadi tak sabar menanti hari esok, Bu."

***

Pagi-pagi sekali Een sudah mandi dan sarapan. Randa, Ririn, dan Dang Aji telah siap dengan ransel masing-masing. Ririn membawa pancing dan umpan. Pukul tujuh, mereka menuju Danau Dendam salah satu objek wisata di Bengkulu. Tak lupa, ditemani Ayah yang sudah berdiri gagah dengan topi warna hitam.
“Wah, ternyata ramai ya orang ke sini,” seru Een takjub. Di depannya terhampar sebuah Danau yang namanya cukup aneh di dengar, Danau Dendam Tak Sudah.
“Ya, kalau hari Minggu dan menjelang ramadhan begini pasti ramai,” ujar Ririn.
“Oh begitu, kenapa?”
“Sudah tradisi sih," kata Ririn. Ya, Danau Dendam selalu ramai setiap Minggu pagi dan setelah subuh di bulan Ramadhan. Ayah meminta mereka naik sampan. Een heran mengapa Ayah menyewa hanya satu sampan padahal mereka berlima.
"Kamu saja yang naik sampan, aku dan Dang Aji di sini saja," kata Ririn.
“Kamu benaran nggak ikutan?” tanya Een.
“Ya, aku mancing aja deh. Sambil makan jagung bakar dan es degan. Aku takut naik sampan," Ririn tersipu malu.
“Ok deh kalo begitu, kalian di sini saja ya,” Ujar Ayah.
Ayah, Randa dan Een bersampan ke tengah Danau Dendam. Riak air mengikuti arah sampan. Tak jauh dari mereka terlihat seorang Bapak tua sedang menebar jaring dengan menancapkan bambu panjang ke dalam Danau. Tak hanya jaring, tapi Bapak tua juga memasang bubu dari bambu untuk menangkap ikan.


***

Een memandang air danau dengan takjub. Menurut Ayah, dulu pernah terjadi banjir besar. Air meluap hingga ke jalan. Nama danau ini juga terkesan aneh dan unik. Danau Dendam Tak Sudah. Dari yang Een baca di internet. Ada beberapa versi mengenai nama danau ini. Ada yang mengatakan danau ini dulunya bekas Dam penampungan air yang tak selesai-selesai, tiba-tiba banjir datang, jadilah namanya Dam Tak Sudah.
"Mau tahu cerita lain yang Ayah dengar soal danau ini?" tanya Ayah pada Een . Een menganggukkan kepalanya. Mendengarkan Ayah bercerita soal ibu yang hendak mencuci di danau, ia menaruh anak bayinya di sebuah tikar di sampingnya. Tak lama anaknya hilang. Ternyata tikar itu jelmaan ular tikar. Si Ibu dendam dengan ular itu, makanya namanya Danau Dendam Tak Sudah.
"Wah, sejarah dibalik nama Danau ini sungguh unik ya!" Seru Een.
"Eh, kenapa ini?" Teriak Een panik. Tiba-tiba sampan sedikit oleng.
"Sampannya kemasukan air! Ayo segera kita buang dengan batok kelapa ini," ujar Randa sambil menyodorkan batok kelapa. Mereka segera membuang air yang masuk ke sampan. Ayah terus mendayung hingga ketepian. Dari kejauhan Ririn melihatkan hasil pancingannya.
"Aku dapat ikan!" Teriak Ririn.
Mereka saling melambaikan tangan. Een senang sekali dapat pengalaman baru hari ini. Ternyata naik sampan di Danau Dendam Tak Sudah sungguh menyenangkan.

Keterangan :
Dang : Kakak laki-laki.

2 comments:

Utami panca dewi said...

Pengen banget berkunjung ke Danau Dendam Tak Sudah. Itu anau kan dekat rumahnya Kakakku.

Naqiyyah Syam said...

Rumahnya kakak mbk Utami di mana?