19.9.14

Cita-Cita si Beni Beo - Majalah BOBO

            Beni Beo termenung di depan rumah. Hatinya gundah memikirkan PR dari sekolah. Beni Beo masih ingat kata-kata Bu Caca Rusa, sesaat sebelum bel pulang berdentang.
         “Anak-anak, kalian harus memiliki cita-cita!” 
       “Haha... asyik Bu, saya suka cerita-cerita....” sela Badu Badak.
         “Bukan cerita-cerita, Badu. Tapi cita-cita! Cita-cita adalah sesuatu yang ingin kalian capai saat kalian dewasa nanti...” tegas Bu Caca Rusa. 
            “Aha.... saya tahu Bu. Saya bercita-cita menjadi atlit lari seperti Ayah...” ucap Rio Harimau girang.         
          “Bagus, Rio. Dengan punya cita-cita, kalian akan lebih giat belajar, karena ada semangat untuk menggapainya. Nah tulis cita-cita kalian, ceritakan di depan kelas, besok!” 
             Beni Beo kebingungan. Apa yang harus diceritakannya? Ia bertambah sedih ketika mendengar celoteh teman-temannya. Mereka mengejek kekurangan yang dimilikinya.
          “Aku kasihan sama Beni Beo...” ucap Meri Merak. 
            “Kenapa?” tanya Bero Si Berang-berang. 
          “Bisa apa coba dia?” tanya Meri Merak meremehkan. 
          “Iya ya, terbangnya tidak segesit Titi Merpati...” sahut Rio Harimau. “Ia pun tidak sekuat aku....” ucap Badu Badak. 
          “Dengar-dengar sayap kirinya patah ya?” tanya Murai Batu. 
          “Dia menjadi pemurung. Kerjanya hanya membaca buku...” papar Meri Merak. 
         Air mata Beni Beo menetes. Ia merasa rendah diri di hadapan teman-temannya. “Apakah aku pantas memiliki cita-cita?” bisiknya sendu. Ditatapnya bayangan tubuhnya di kaca jendela. Tubuh kecil berparuh bengkok. Diam-diam ia iri kepada Cola Colibri yang berparuh panjang, sehingga bisa mengambil madu. Juga kepada Murai Batu yang pandai bernyanyi. 
         Dulu, saat kedua sayapnya masih sempurna, ia bisa terbang sekencang Titi Merpati. Tetapi sekarang sayap kirinya.... Sebulan lalu, pemburu jahat telah menembak sayap kirinya, sehingga tulangnya patah. Setelah sembuh pun, sayapnya tidak seindah dan sekuat dulu. Sayapnya itu membengkok ke bawah saat dibawanya untuk terbang.
           Ibu menghampiri Beni Beo sambil bertanya, “Kenapa kamu bersedih Nak?”
           “Besok aku harus menceritakan cita-citaku di depan kelas, Bu” 
        “Lalu, apa yang kau risaukan?” 
          “Aku merasa tidak bisa memiliki cita-cita sehebat teman-teman,” ucap Beni Beo lirih. 
         “Tuhan pasti memberikan kelebihan kepadamu. Kamu cuma belum menyadarinya...” 
         Sebelum tidur, Beni Beo merenungkan kata-kata Ibunya. Saat menemukan ide, ia pun tersenyum dan berteriak, “Ahaa...” Lalu ia pun mulai menulis.
  @@ 
           Pagi itu, ruang kelas sekolah rimba sedikit gaduh. Murid-murid sibuk mempersiapkan diri. Saat Bu Caca Rusa masuk, anak-anak menjadi tenang. 
            “Selamat pagi anak-anak... Kalian sudah siap?”
         “Sudah Bu....” jawab mereka serempak. Rio Harimau maju pertama kali. Ia memperlihatkan otot-otot kakinya yang kuat, saat menceritakan cita-citanya. Rupanya ia ingin menjadi atlit lari. Bero Si Berang-berang ingin menjadi sarjana teknik. Ia ingin membangun bendungan di sungai dekat rumahnya. Bedu Badak ingin menjadi seorang pegulat. Teman-temannya tertawa mendengar cita-citanya. 
         Murai Batu yang mungil ingin menjadi penyanyi. Dan.... Lihatlah Meri Merak. Langkahnya gemulai, saat maju. Dipamerkannya keindahan bulu ekornya. Rupanya ia ingin menjadi seorang foto model. Sedangkan Titi Merpati ingin menjadi pengusaha jasa antar barang. 
          Tibalah giliran Beni Beo. “Teman-teman, aku ingin menjadi seorang.... pendongeng.” Seketika kelas bergemuruh oleh suara tawa ejekan. 
         “Pendongeng? Cita-cita macam apa itu?” cibir Meri Merak sinis. Beni Beo tidak peduli. Ia pun mendongeng tentang “Katak yang Ingin menjadi Lembu”. Suaranya bisa menirukan lenguhan lembu dan teriakan Katak. Saat menirukan perut katak yang meletus, suaranya sangat mirip. Seluruh isi kelas terdiam seperti tersihir. 
         “Kata Ibuku, dengan dongeng kita bisa membagi pengetahuan kita kepada orang lain. Makanya, seorang pendongeng harus banyak-banyak membaca buku. Pamanku juga mendongeng di depan anak-anak burung yang sedang sakit. Dan Paman bisa membuat mereka bahagia.”
         Kelas hening sejenak. Tetapi sekejap kemudian telah ramai pula oleh gemuruh tepuk tangan. Diam-diam, Meri Merak menyesal karena telah mengejek Beni Beo. Ia mendekat untuk meminta maaf. Ia pun ingin belajar menjadi pendongeng yang hebat seperti Beni Beo.

No comments: