31.8.14

Cita-Cita Putri Audrey - Majalah BOBO

      Putri Audrey termenung sedih. Bibi Mariana mengundurkan diri dari pekerjaannya. Lalu, siapa yang akan menjadi gurunya? Pertanyaan Putri Audrey akhirnya terjawab. Keponakan Bibi Mariana yang akan menjadi gurunya. Namanya Willy. Tapi Putri agak kesal, oleh pertanyaan-pertanyaan Willy.
       “Apakah Tuan Putri pernah melihat tempat-tempat yang diceritakan Bibi Mariana?”
       “ Aku selalu belajar di dalam tembok istana. Mungkin laut itu sebiru mataku, gunung setinggi khayalanku dan wilayah kerajaan seluas keinginanku.” 
       “Maafkan saya, kalau saya harus mengatakan bahwa Tuan Putri itu ibarat pepatah, seperti katak yang terkurung dalam tempurung.” 
       Katak? Enak saja. Aku kan cantik, dan istanaku cukup indah, tidak seperti tempurung kelapa. Umpat Putri dalam hati.
        “Kalau saya boleh tahu, apa cita-cita Tuan Putri?” 
      “Cita-citaku pastilah menjadi Ratu, menggantikan Ayahandaku.”
      “Ampun beribu ampun, Tuan Putri. Tetapi menjadi Ratu yang seperti apa?” 
       “Aku ingin memerintah seperti laut. Kekuasaannya begitu luas tanpa batas.” 
     “Perkenankanlah saya mengiringkan Tuan Putri menyaksikan laut.” 
                                        @@ 
         Keesokan harinya, Willy membawa Putri Audrey berlayar di tengah laut. Saat angin bertiup kencang dan ombak datang bergulung, Putri Audrey ketakutan. Perahu yang mereka tumpangi terayun-ayun ke kiri dan ke kanan. Setelah angin dan ombak mereda, Willy pun bertanya, 
        “Bagaimana Tuan Putri, Apakah Tuan Putri masih ingin memerintah seperti sifat laut?” 
       “Tidak Willy. Laut begitu ganas dan menakutkan. Aku tidak ingin menjadi Ratu yang ditakuti oleh rakyatku sendiri.” 
         “Lalu Tuan Putri ingin menjadi Ratu yang seperti apa?”
          “Aku ingin memiliki kedudukan yang tinggi seperti gunung, sehingga seluruh rakyat selalu memuja dan menghormatiku.” 
         “Baiklah Tuan Putri, saya akan mengiringkan Tuan Putri untuk melihat gunung.” 
                                         @@ 
         Hari masih pagi, ketika kuda putih itu menderap cepat. Di atas punggungnya, duduklah Willy dan Putri Audrey. Gunung Blogi Spoti yang menjadi tujuan mereka. Putri Audrey keheranan menyaksikan gunung yang semula dikiranya berwarna biru, ternyata penuh dengan bongkahan-bongkahan batu. 
        “Auuuhh...” pekik Putri ketakutan. Wajahnya disembunyikan di punggung Willy. Rupanya ia melihat lahar di dalam kawah yang menggelegak dan menyemburkan uap panas. 
          “Ampun Tuan Putri. Apa yang Tuan Putri takutkan?” 
          “Aku tidak bisa menjadi Ratu yang memiliki sifat seperti gunung. Cantiknya hanya dari kejauhan. Dan cairan dalam kawah itu, seperti ramuan dalam belanga Penyihir saja. Uapnya beraroma kemarahan, kejahatan, kelicikan.” 
      “Jadi, Tuan Putri ingin menjadi Ratu yang seperti apa?” 
        “Aku bercita-cita menjadi Ratu yang seperti matahari. Bersinar... mengagumkan.” 
        “Tetapi matahari terlalu tinggi. Bagaimana kalau Tuan Putri saya ajak terbang saja bersama Burung Garuda?” 
        Putri Audrey mengangguk senang. Dari atas punggung Garuda, istana terlihat begitu kecil seperti istana boneka. 
        “Willy, titik-titik hitam itu...” Putri Audrey merasa takjub. 
       “Ampun Tuan Putri. Itu adalah rumah-rumah rakyat jelata.” 
        “Kalau begitu, aku tidak mau menjadi Ratu yang memerintah seperti matahari. Aku tidak bisa melihat rakyatku dari dekat.”
       “Kalau begitu, besok pagi saya akan mengajak Tuan Putri ke suatu tempat yang lebih menakjubkan dibandingkan dengan laut, gunung maupun angkasa.”
                                      @@ 
          Ternyata Willy mengajak Putri Audrey berjalan-jalan ke pasar. Putri Audrey merasa tersentuh dengan pengemis yang berpakaian compang-camping, lalu dikasihnya sekeping uang perak. Ia juga menegur seorang pedagang yang curang saat menimbang. Dilihatnya pula dua pemuda yang sedang berkelahi, lalu dileraikannya. “
        Seharusnya, seperti inilah Tuan Putri memerintah kerajaan Twittara. Menjadi seorang Ratu yang dekat dengan rakyatnya.” 
       “Aha... Itulah cita-citaku Willy, ingin menjadi Ratu yang dekat dengan rakyatnya.” 
       Willy tersenyum melihat Putri Audrey sudah menyadari cita-cita yang harus dimilikinya. Putri Audrey tidak tahu bahwa sesungguhnya, Willy adalah Pangeran Arthur William, tunangannya yang telah menyamar menjadi gurunya.

1 comment:

Nahlatulazhar Mardiyah said...

Suka! Keren Bunda Utami :)