21.8.14

Ongkos Kirim - Harian Kedaulatan Rakyat


Mama sibuk menata madu mongso di dalam kardus. Sebentar lagi hari raya. Mama seperti biasa mengirimkan beberapa makanan khas Solo pada Eyang di Jakarta. Buat menjamu tamu-tamu waktu Lebaran nanti.
“Zen, tolong paketin ini ke Eyang, ya,” Mama menggunting plester cokelat.
“Di tempat Pak Bandi?” Pak Bandi adalah agen Ekspedisi Kita. Tempatnya tak jauh dari rumah Zen.
“Iya.” Mama menulis alamat Eyang dengan spidol hitam. “Hati-hati bawanya, ya.”
Zen segera mengeluarkan sepedanya. Mama mengikat kardus di boncengan. “Ini uangnya.” Mama memberikan tiga lembar uang kertas sepuluh ribu.
Sampai di tempat pengiriman, Pak Bandi membantu Zen membuka ikatan kardusnya lalu menimbangnya.
“Ini nota resinya, ini kembaliannya. Terima kasih, Zen.” Pak Bandi mengulurkan uang.
Zen mengayuh sepedanya menuju arah pulang. Di jalan dia bertemu Miko, tetangganya. Miko sedang duduk di teras rumahnya. Wajahnya terlihat lesu. Sepeda birunya tergeletak di sampingnya.
“Hai, Mik?” sapa Zen, sambil menghentikan sepedanya. “Ibumu belum pulang?”
“Iya, nih,” jawab Miko. “Mana haus, lagi.”  Keringat Miko membasahi baju seragamnya. Udara memang sangat panas.
Tiba-tiba teriakan penjual es dawet cincau terdengar bersama deru mesin motornya. Pasti sangat segar minum es cincau panas-panas begini.
“Kamu mau beli?” tanya Zen melihat Miko melongok dari pagar.
“Tapi, uangku sudah habis,” Miko mengelap tenggorokannya.
“Pakai uangku saja.” Zen langsung memanggil penjual es. Dengan cekatan, penjual itu menyendok cincau, sirup gula merah, dan santan, serta mutiara putih merah. Terakhir dua sendok es batu dituangkan di masing-masing gelas. Miko dan Zen segera menyeruput es mereka. Segarnya!
***                                                              
“Berapa ongkos kirimnya, Zen?” tanya Mama saat Zen pulang. “Ada kembalian, nggak?”
“Enggak, Ma.” Zen buru-buru ke kamar mandi.
“Mahal juga, ya?” suara Mama terdengar dari kamar mandi. “Padahal Mama mau kirim lagi buat Tante Ida. Mending pakai Pos aja, deh.”
“Biar Papa yang bawa nanti. Sekalian mau bulutangkis,” celetuk Papa. “Siapin barangnya, Ma.”
Mama segera mengepak pesanan Tante Ida.
Sore hari, saat Papa usai mandi. “Tadi Papa nggak jadi pakai Pos. Lupa, tahu-tahu sudah sampai gedung olahraga. Papa pakai Kita Eskpedisi. Ongkos kirim yang ke Eyang 25 ribu, kok, Ma. Kata Pak Bandi segitu tadi.”
“Mama tadi kasih 30 ribu, dan Zen bilang nggak ada kembalian.” Mama mengernyit. “Mama tanya Zen, deh.”
Mama menghampiri Zen yang sedang mengutak-atik sepedanya di teras. “Zen, mana nota dari Pak Bandi tadi?”
“Eh … Zen lupa naruhnya, Ma.” Zen menggaruk kepalanya.
“Tapi, beneran ongkosnya 30 ribu?” tanya Mama meyakinkan. “Papa tadi tanya Pak Bandi, katanya cuma dua lima. Keliru, kali.”
Zen menggaruk kepalanya makin keras. “Itu … Ma. Zen tadi kasihan sama Miko. Dia kehausan dan ibunya belum pulang. Rumahnya masih dikunci.” Zen salah tingkah.
“Terus?” kejar Mama.
“Zen beliin dia es dawet cincau.” Kaki Zen bergerak-gerak gelisah. “Emm … buat Zen juga, sih.”
Mama tersenyum lalu menepuk kepala Zen. “Peduli sama teman itu memang bagus, Zen. Menolong teman juga harus. Tapi, ada aturannya. Itu, kan, uang Mama. Mestinya, kamu minta izin Mama dan bilang dengan jujur. Lagi pula, Mama jadi salah sangka, kan, sama Kita Ekspedisi.”
Zen mengangguk. “Maafkan, Zen, Ma.”
Mama menepuk kepala Zen lagi. “Jangan ulangi, ya.”
Zen pun mengangguk. Kali ini lebih keras.


2 comments:

Alfian Nugroho said...

mas, minta tolong bisa disebutkan alamat emailnya untuk mengirim cerita anak ke redaksi KR?

khulatul mubarokah said...

Keren. Ikut belajar, ya?