2.7.14

Memasak - Gado gado mbak Yuniar K



Jika melihat bagaimana lahapnya anak-anak saya menyantap semua hidangan yang saya masak untuk mereka, atau mendengar pujian suami pada masakan saya, atau menjawab teman-teman yang menanyakan resep hidangan arisan yang saya buat, tak seorangpun yang mengenal saya saat ini percaya kalau dulu saya tak bisa memasak apapun.
Suami saya salah satu saksi.Pernah dulu sebelum menikah, dia mampir ke rumah.
Karena belum sarapan, demiharga diri, saya bilang akan membuatkannya telur dadar isi bayam.
Ibu menanam sayur-sayuran di kebun belakang, jadi saya segera pergi kesana untuk memetik beberapa helai daun bayam. Setelah mendapatkan daun bayam, sayapun pergi ke dapur dan mulai mencucinya.
“Buat apa daunnya?” tanya Ibu tiba-tiba.
“Telur dadar isi bayam,” jawab saya pede.
Ibu membelalakkan mata. Tentu saja, Ibu pasti berpikir kalau anak gadisnya begitu terampil dan kreatif memikirkan isian untuk telur dadar calon suaminya, batin saya ge-er.
 “Aduh, Niar. Itu bukan daun bayam, itu daun...terong.”
Astaga. Saya hanya melongo. "Masa sih? Beneran ya ini daun terong?"
 Belum lagi tawa Ibu langsung disambar dengan semangat oleh  calon suami. “Mau ngeracun aku deh kayaknya,”  sambil  tergelak-gelak.
Malu?Sudah pasti . Tapi saya bukan jenis orang yang mudah patah hati karena ditertawakan.
Apakah setelah insiden daun terong itu saya lantas turun ke dapur untuk belajar? Oh, tidak. Sejak kecil saya diajarkan untuk belajar dari buku, jadi yang saya buka pertama kali adalah buku masak.
Saya belajar mengenali jenis-jenis minyak, jenis-jenis terigu, jenis-jenis sayuran dan cara mengolahnya, belajar tentang semua jenis lauk pauk dan cara mengolahnya, jenis-jenis masakan berbagai negara dan deskripsi mengenai rasanya, dan sebagainya.
Saya mulai belajar mengikuti resep dengan teliti dan mencobanya. Tetapi kadang karena di resep hanya disebutkan urutannya dan tidak disebutkan waktunya, saya pernah memasukkan daging ayam dengan jarak hanya 3 menit dari saya memasukkan sayuran ketika membuat sup. Dengan jengkel saya terpaksa membuang sup amatiran itu: daging ayam kampung yang masih sangat liat bercampur dengan sayuran yang telah hancur..
Jumlah minyak goreng yang dituangkan juga tak pernah disebut dengan rinci di dalam resep, sehingga saya pernah membuat nasi goreng dengan jumlah minyak yang sama seperti saya menggoreng tempe. Ya, segitu clueless-nya saya soal memasak.
Jangan ditanya kalau sedang menggoreng ikan. Pertama kali saya tahu kalau ikan dan cumi-cumi bisa meletus ketika digoreng, saya lari untuk mengambil helm dan handuk untuk melindungi wajah dan badan dari cipratan minyak. Oke, saya tahu kalau itu sangat konyol. Tapi pada dasarnya saya sangat ketakutan, dan tak seorangpun menyadari bahwa dapur adalah salah satu tempat yang sama berbahayanya dengan jalan raya, atau bahkan medan perang.
 Saya pernahmembuang kelapa yang saya parut sampai lecet-lecet karena tak tahu kalau kelapa parut tak tahan berada di suhu ruang terlalu lama.
Mungkin karena jengkel dengan ketrampilan masak yang hampir nol ini, saya mulai mencicipi bumbu-bumbu mentah untuk mengetahui rasa dasarnya, dan tanpa diduga itu sangat berguna. Suatu hari saya dan suami mampir ke warung mi ayam dan setelah beberapa suap saya mendorong mangkuknya sambil menggeleng. “Daging ayamnya dibumbui jinten terlalu banyak. Aneh. Mi ayam kok pakai jinten.” Hebat kan, ha ha  ha..
Sejak itu saya mulai mempelajari resep dengan cara baru, yaitu mencicipinya. Toh saya memang hobi mencoba berbagai jenis masakan, jadi ini kegiatan yang asyik buat saya.
Dari rasa bumbu-bumbu yang tertangkap dan ditebak oleh lidah saya, saya mulai mengkonfirmasi melalui resep, lalu mencoba memasaknya. Dengan mengingat rasa bumbu, saya mulai mengkombinasi bahan makanan dengan bumbu yang saya pikir tepat.
Waktu terus berlalu seiring hadirnya ketiga buah hati saya.Kini ketika mereka memakan ratusan jenis masakan yang saya hidangkan untuk mereka dan ayah mereka berkata, “Tahu nggak, dulu Ibu pernah hampir membuatkan telur dadar isi daun terong untuk Ayah.” Mereka hanya mengangkat alis tak percaya.

1 comment:

Liza Arjanto said...

Lucuuuuu.... xixixi. Izin copas buat belajar di kelas Mentari. Tengkyuuu