21.7.14

Lari, Rheina! - Kompas Anak


"Kemarin aku mencetak dua gol," Niki berkata sambil melirik Rheina di sampingnya. Niki tersenyum senang melihat wajah Rheina yang cemberut.
"Sepak bola itu menyenangkan, Rheina," ujarnya lagi. Niki memang paling tahu bagaimana membuat adiknya kesal. Rheina selalu ingin ikut bermain sepak bola. Tapi Niki dan teman-temannya tidak pernah mengizinkan dia bermain serta.
"Aku bisa berlari lebih cepat dari kakak," sungut Rheina yang membuat Niki tertawa. Rheina ingat ketika berlomba lari dengan kakaknya, ayahnya selalu bilang kalau Rheina setinggi kakaknya pasti akan bisa lari lebih baik dari Niki.
"Apa artinya berlari tanpa menggiring bola. Kalau sepakbola itu perpaduan semuanya. Larinya ada, kerja samanya ada dan yang tak tergantikan itu perasaan senang ketika gol,” jawab Niki. Rheina memasang wajah kesal di depan kakaknya yang membuat kakaknya tersenyum puas.
***
Hari ini Rheina senang sekali karena ayah akan mengajaknya main bola di halaman belakang rumah mereka. Ada dua buah batu yang ditaruh di sisi kiri dan kanan sebagai penanda jarak antara dua buah batu itu adalah gawang.
“Ayo, Rheina, tendang bolanya,” ayah memberi semangat. Rheina pun menendang bola ke arah gawang, tapi tendangan Rheina meleset. Sementara tendangan Niki selalu berhasil. Saat Rheina menggiring bola, Niki juga bisa dengan mudah mengambil bola dari kaki Rheina. Rheina pun jadi tak bersemangat lagi main bola.
“Ini karena aku nggak pernah main bola, jadi kak Niki lebih jago main bolanya,” sungut Rheina dengan wajah kesal malam harinya.
“Tapi Rheina kan larinya lebih bagus. Waktu finish, jarak antara Rheina dan Kak Niki nggak jauh. Padahal kak Niki lebih tinggi dari Rheina,” kata ayah menghibur Rheina. Sore tadi Rheina dan kak Niki memang sempat lomba lari juga.
“Rheina nanti latihan lari aja, ya.” Ayah menepuk pundak Rheina dengan lembut. Rheina menggeleng. Dia mau main bola. Bukan lari.
***
“Ayo, Rheina! Lari!” Niki bersorak di pinggir lapangan. Memberikan semangat buat Rheina yang hari ini mengikuti lomba lari di sekolah. Siapa yang menang akan mewakili sekolah buat perlombaan di tingkat kabupaten. Niki sudah terpilih masuk menjadi tim inti sepakbola sekolah. Karena tidak ada tim wanita, jadi wali kelas mereka menyarankan Rheina ikut lomba lari.
“Bersedia! Siap! Ya!” Rheina membawa tubuhnya berlari sekencang-kencangnya. Nafasnya memburu. Keringat pun mulai membasahi tubuhnya. Tidak ada teman yang mendahuluinya, artinya Rheina masih memimpin. Tapi beberapa detik kemudian, Rheina kaget. Ada sekelabat tubuh yang melewati dirinya.
“Erggh… Ada yang mendahuluiku,” Rheina membatin. Rheina berusaha mempercepat larinya. Tapi, garis finish sudah di depan mata. Rheina terduduk di rerumputan begitu sampai di garis finish.
“Dan yang jadi pemenang lomba lari adalah… “ Pak Anto, Guru Olahraga mengumumkan. “Alda!” Kata Pak Anto dengan suara lantang. Mata Rheina terlihat berkaca-kaca.
“Aduh.” Rheina memekik pelan. Rupanya ada semut merah yang menggigit lengannya.
“Kenapa?” Niki sudah ada di depan Rheina..
“Ada semut, Kak. Aku digigitnya. Sakit.” Rheina bercerita sambil terisak. Kekalahan di lomba lari dan sengatan semut merah membuat Rheina tidak bisa menahan tangisnya.
“Kita ke UKS, ya. Cari minyak kayu putih buat mengolesi yang disengat semut tadi,” ajak Niki. Rheina mengganguk. Dibantu Niki, Rheina berdiri dari duduknya. Niki menggandeng tangan adiknya.
“Tadi Rheina larinya sudah bagus. Tapi setelah start Rheina larinya terlalu kencang. Jadi ngos-ngosan di tengah. Kecepatan Rheina jadi berkurang. Makanya Alda bisa menyalip Rheina,” Niki berkata sambil menepuk-nepuk pundak Rheina pelan.
Rheina mengganguk setuju. Kakaknya mengatakan hal yang benar.
“Tapi Rheina jangan menyerah. Kan masih ada tahun depan. Kak Niki juga baru tahun ini bisa ikut serta mewakili sekolah di pertandingan bola.”
Rheina tersenyum ke arah kak Niki. Rheina menyadari kalau ternyata kakaknya tidak terlalu menyebalkan, justru sangat sayang padanya.

No comments: