19.6.14

Menjadi Djo - Koran Jakarta

 

Judul           : Menjadi Djo
Penulis        : Dyah Rinni
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan      : Mei 2014
ISBN          : 978-602-03-0447-2
Harga                   : 60.000,-
Halaman     : 290 halaman


Meretas Perbedaan, Menjadi Indonesia

Indonesia kaya akan keragaman suku, tetapi penerimaan atas keragaman itu adalah soal pembelajaran. Mengatasi masalah yang terjadi karena adanya perbedaan terkadang membutuhkan proses yang panjang.
A Guan, seorang anak lelaki keturunan Chinadari keluarga kaya yang tinggal di Medan bersahabat dengan Yanto, anak dari pembantunya asal Jawa. Persahabatan itu begitu lekat dan khas anak-anak lelaki, lengkap dengan kebandelan mereka. Tak sekalipun A Guan menganggap Yanto berbeda dengan dirinya, sehingga ia terkejut ketika suatu hari mendengar seorang pria di sebuah kedai kopi milik Ho Peng mengatakan kalau mereka adalah pendatang. Sampai-sampai A Guan kecil bertanya dengan cemas, “Apa orang seperti itu bisa mengusir kita ke China?” (halaman 14)
Jika A Guan, anak bungsu keluarga Tan lebih memilih bersahabat dengan Yanto, berbagi mainan, membacakannya komik, itu karena Yanto sangat menyayanginya. Berbeda dengan teman sekelasnya, Swan Tiem yang selalu mencari permusuhan dengannya. A Guan yang bertubuh kecil sering tak mampu membalas perlakuan semena-mena Swan Tiem, kecuali saat Rosie, gadis kecil yang masih kerabat jauh dengannya datang dan membantunya.
Tapi meski A Guan tahu kalau Yanto jujur dan tak pernah mengkhianatinya, A Guan tetap goyah dan menuduhnya mengambil pedang kayu kesayangannya pemberian dari A Beng kakaknya. A Guan termakan kata-kata Swan Tiem, “...Hari ini dia melindungi kamu, tetapi lihat saja nanti. Kelak dia bakal menyakiti kamu dari belakang.” (halaman 62)
Meskipun akhirnya kesalahpahaman itu berakhir, tetapi kedua sahabat itu terpaksa berpisah karena isu mengenai keterlibatan China pada pasokan senjata PKI saat Gerakan 30 September yang menewaskan para jenderal, sampai ke Medan. Imbas dari peristiwa itu membuat keselamatan warga keturunan China yang berada di Medan menjadi terancam. Keluarga A Guan pindah ke Jakarta karena peristiwa ini.
A Guan menjalani masa-masa remaja yang tak mudah di Jakarta, karena kondisi ekonomi keluarga mereka berbeda dengan saat berada di Medan dulu.
Seluruh anggota keluarga Tan, seperti halnya peranakan China yang lain, wajib mengikuti aturan pemerintah RI untuk mengganti nama mereka agar menjadi WNI yang sesungguhnya. Sebuah situasi yang menunjukkan bahwa hati dan jiwa yang mencintai Indonesia saja tak cukup. Mereka harus berganti nama untuk membuktikannya. Maka A Guan menjadi Djohan.
Bukan saja berganti nama, Papa Djohan masih harus meladeni pemerasan dari seorang teman, karena jika tidak maka mereka akan dimasukkan ke dalam daftar komunis. Djohan sendiri menemukan sebuah batu terbungkus kertas bertuliskan ancaman yang dilempar ke rumahnya. Sebuah pertanyaan muncul darinya, “Kita sudah jadi WNI. Kita sudah ganti nama. Tapi, apa jauh di dalam hati, orang-orang Indonesia sudah menganggap kita bagian dari diri mereka? Atau mereka tetap menganggap kita sebagai orang luar?” (halaman 173)
Djohan, yang saat masih kanak-kanak sangat bandel dan tak suka bersekolah, saat SMP mulai menunjukkan tanggungjawabnya. Di tengah kesulitan ekonomi keluarga, ia merintis usaha penerbitan majalah Samantha bersama Corby sahabatnya. Corby yang menulis, dan Djohan yang membuat desainnya.
Masa remaja Djohan, meskipun tak semudah dahulu dalam hal keuangan, tetapi ia selalu memiliki banyak cara untuk bertahan. Di tengah sahabat-sahabatnya yang baik, ia menjalani masa remaja yang indah. Djohan juga sempat menaruh hati pada Rinai, teman sekolahnya, meskipun ternyata ada Alvaro yang kemudian sangat membencinya karena menganggap Djohan sebagai saingannya dalam mendekati Rinai.
Ketika Djohan mulai kuliah dan dipertemukan kembali dengan Rosie, gadis kecil yang dulu menolongnya ketika ia dipukuli oleh Swan Tiem maka kedua keluarga berniat menjodohkan mereka berdua.
Djohan tak ingin dijodohkan. Meskipun Djohan masih mencintai Rinai, tetapi bukan itu alasan utamanya menolak Rosie. Keputusannya menolak Rosie yang juga keturunan China, salah satunya adalah perdebatannya dengan Alvaro, saingan lamanya dalam mendekati Rinai, yang saat itu menghina dirinya karena ia keturunan China.
Sampai-sampai Djohan berkata,“...Sepanjang hidupku, aku hanya mengenal satu negara, Indonesia. Aku lahir di sini, makan di sini, dan kelak akan mati di sini. Aku berdarah ketika Indonesia berdarah. Jiwaku ada di sini sebagaimana ragaku. Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan negeri ini, sementara yang aku cintai dan perjuangkan ada di negeri ini?” (halaman 263)
Rosie terpaksa menerima keputusan Djohan, bahwa mereka tak bisa bersama karena Djohan ingin menjadi Indonesia yang sesungguhnya, dengan tak menikahi sesama keturunan China.
Novel ini bersetting tahun 1960-1970 an. Sebuah kisah yang terinspirasi dari kisah nyata seorang direktur perusahaan pengiriman terbesar di Indonesia, yang menjalani persahabatan lintas rasial. Saat dimana warga keturunan cina dipertanyakan kesetiaan dan cintanya pada negara karena tragedi 1965. Penulis menyajikan jalan cerita dengan runut, lengkap dengan properti khas masa remaja yang sedang trend pada saat itu.

No comments: