23.6.14

Gara-gara Tidak Menuruti Ibu - Lampung Pos



Sebentar lagi ulangan umum, Galih sangat kesal karena harus belajar setiap waktu. Ibu tidak membolehkannya bermain.
            “Kapan aku bisa bermain lagi” gerutu Galih dalam hati.
            Setiap mendekati ulangan harian atau ulangan umum, Ibu selalu memaksa Galih belajar dan belajar, tidak ada waktu untuk bermain kata Ibu. Tidak seperti hari-hari biasa waktu bermain Galih sangat leluasa.
            Siang itu sepulang sekolah Galih mencari Ibu.
 “Bu…… Galih nanti sore bermain sepak bola ya” rengeknya mendekati Ibu yang sedang menyelesaikan jahitan.
“Tidak Galih…. lebih baik mengulang pelajaran hari ini” Ibu mengambil Tas sekolah Galih dan melihat hasil nilai Galih.
Galih hanya diam, dia sangat kesal pada Ibu tetapi tidak berani membantah Ibu.
“Ayo makan dulu, setelah itu tidur siang” Ibu menggamit tangan Galih.
Di meja makan Galih berfikir keras bagaimana caranya sore nanti ia dapat bermain bola bersama teman-temannya. Teman-teman Galih tidak seperti Galih yang boleh bermain disetiap waktu.
Selesai makan Galih membantu Ibu menyapu sisa-sisa kain Jahitan yang berserakan di dekat mesin jahit. Ibu tersenyum melihat Galih, Galih memang suka membantu Ibu.

                                                                           ***                         

Galih berjalan menuju ke kamar untuk tidur siang. Namun Galih tak dapat memejamkan mata, walau telinganya sudah ditutupi guling tetapi fikirannya menerawang jauh ke lapangan bola tempatnya bermain. Galih tetap tak bisa memejamkan matanya tiba-tiba Galih menemukan cara bagaimana nanti sore ia tetap bisa bermain sepak bola.
Jahitan Ibu hari ini sangat banyak, karena kelelahan Ibu tertidur di kasur lantai yang berada tak jauh dari tempat Ibu menjahit.
Galih mengendap-endap melihat Ibu dari balik tabir kamarnya. Galih cepat-cepat mengambil sepatu bola dan baju dimasukkan kedalam tas sekolahnya dan bergegas menuju lapangan bola.

***

Ibu terbangun dari tidurnya, dan melihat jam dinding oh rupanya hari sudah sore. Ibu berjalan kekamar Galih untuk membangunkan dan menyuruhnya mandi sore. Ketika Ibu membuka kamar, Galih tidak ada kamarnya kosong dan terlihat masih rapi.
Hari kian sore, selesai juga Ibu menyirami beraneka tanaman dihalaman depan rumah, sambil melihat kejalan kalau-kalau Galih datang. Tetapi Galih tak kunjung pulang. Ibu sangat cemas memikirkan Galih.
“Kemana Galih kok belum pulang sebentar lagi hari akan gelap” gumam Ibu dalam hati.
Dilapangan sepak bola tidak begitu dengan Galih, ia sangat senang dan asyik bermain bola. Tak terasa hari pun sudah senja, Galih berlari mengambil sepeda mengayuhnya dengan sangat kencang.
Saking kencangnya praaak gubraaak…… Galih dan sepedanya terjungkal ditikungan jalan, Galih terpental dan masuk keselokan.
“Aduuuh sakiiiiit…..” Galih menahan tangis malu dilihat orang, terasa perih kaki dan tangan Galih tergores pinggiran selokan.
“Galih ya, kalau jalan menikung hati-hati” Om Joko, Papa Bram teman satu kelas Galih keluar dari rumahnya.
Tante Raras keluar menyodorkan betadine kepada Om Joko. Dan mengoleskan ditangan dan kaki Galih yang terluka.
“Perih Om periiih….. sakiiiit !! “ Galih meringis kesakitan.           

***
Tak lama kemudian Ibu bersama Ayah datang, rupanya ketika mengambil betadine Tante Raras menyempatkan menelepon Ibu dan memberitahu kalau Galih terjatuh dari sepeda didepan rumah Tante Raras.
Melihat kedatangan Ayah dan Ibu, Galih tertunduk takut dimarahi. Ibu menghampiri Galih.
“Mana yang sakit Galih” Ibu mencari luka ditubuh Galih, melihat bagian mana saja yang terluka. Melihat Galih terluka kekesalan Ibu hilang, ibu kasihan pada Galih.
“Hu hu….. hu hu….., Maafkan Galih ya Bu? Galih bermain tanpa ijin dulu sama Ibu” Galih menangis.
“Ibu sudah maafkan, tetapi jangan diulangi lagi ya keluar rumah tanpa memberitahu Ibu atau Ayah” Ibu mendekap Galih.
Galih mengangguk dan berjanji dalam hati tidak akan membuat ibu cemas lagi.

No comments: