20.4.14

Resensi Koko - Koran Jakarta

Siapa yang akan percaya dengan ramalan bintang di zaman modern sekarang ini? Mungkin itu masih berlaku pada Iga Putri Mentari. Seorang siswa SMA Kelas X, yang tak pernah absen membaca majalah Chit Chat.
Dia selalu menggandrungi rubrik zodiak halaman 12. Dia yakin, ramalan di majalah tersebut tak pernah bohong karena beberapa kejadian dalam kehidupan sesuai, termasuk urusan perasaan. Iga sangat mengidolakan Tebing Samudra. Dia terobsesi menjadi kekasih kakak kelasnya itu sesuai dengan ramalan bintang. “Kebencianku berubah menjadi cinta ketika sebulan lalu menemukan sebuah fakta dari majalah Chit Chat.
Ini tentang kecocokan pasangan yang menjadi bonus edisinya, dicetak terpisah dalam format tabel. Di situ tertulis: “Aries dan Leo is the best couple. Artinya ... aku dan Tebing ditakdirkan berjodoh!”, (halaman 13). Ramalan bintang mengatakan akan ada yang “menembak” Iga pekan ini. Iga pun langsung menebak bahwa “penembaknya” adalah Tebing.
Ramalan itu semakin diperkuat saat Iga tak sengaja berpapasan dengan pujaannya tersebut pada hari Senin. Tebing pun menyapa Iga dengan menanyakan namanya. Sial, sampai akhir pekan berakhir, Tebing tak kunjung “menembak”.
“Sampai sore, Tebing tidak muncul juga. Rasanya aku ingin meneleponnya atau mengiriminya SMS”, (halaman 22). Dia mengharap Tebing, tapi yang muncul justru Ligo. Ketika Ligo menelepon, Iga tak menjawab. Dia langsung mematikan telepon. Buru-buru ke belakang dan menuntaskan buang “hajad”.
“Sepanjang itu pikiranku masih bertanyatanya, memangnya siapa sih Ligo ini? Bagaimana mungkin dia tiba-tiba menyatakan cinta? Lebih tepatnya, kenapa dia dan bukan Tebing?”, (halaman 24) Besoknya, Ligo pun menghampiri Iga. Jelas, Iga tahu bahwa Ligo tidak termasuk dalam list cowok tampan idamannya. Di hatinya hanya ada Tebing. Namun, perjuangan Ligo tidak sampai di situ saja. Pria tersebut terus berjuang agar bisa mendapatkan hati Iga yang selalu tidak acuh dan bersikap dingin padanya.
Toh akhirnya, Iga mau diajak kencan Ligo. “Tidak ada yang istimewa dengan kencan pertamaku dengan Ligo. Kami hanya jalan-jalan mengitari mal”, (halaman 48). Meski sudah menjadi kekasih Ligo. Tapi, obsesi Iga tetap tertuju Tebing. Suatu hari seusai sekolah, Iga hanya mendekam di kamar. Katanya, “Majalah kesayanganku tergeletak begitu saja di samping kaki. Aku sedang tidak mood membaca. Barangkali, aku tidak akan percaya lagi pada ramalan bintang tentang cinta”, (halaman 125).
Penyajian novel 188 halaman ini unik. Setiap ramalan di awal bab memancing penasaran pembaca akan kelanjutan ceritanya. Gaya bahasanya lugas sehingga remaja mudah memahami. Penggambaran fisik tokoh masih samar-samar, kecuali Ligo. Karakter Iga pun sedikit mudah bimbang menentukan perasaannya dan cenderung plinplan. Namun, itu semua terbalas saat mendekati bagian konflik dan penyelesaian cerita.
Salah satu pesan yang mau disampaikan, ramalan tidak bisa diyakini kebenarannya. Manusia harus berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita, termasuk meraih cinta seseorang.

Diresensi Fredy H, Mahasiswa Pendidikan Ekonomi IKIP Budi Utomo Malang

Judul Buku : Roller Coaster Cinta
Penulis : Aveus Har
Penerbit : Cakrawala
Terbit : 2014
Tebal : 188 halaman
ISBN : 978-979-383-248-7
Harga : Rp35.000

1 comment:

Ana Lydia said...
This comment has been removed by the author.