20.4.14

Resensi Koko Fredy - Koran Jakarta

Tidak ada satu pun karyawan di dunia ini yang menginginkan dipecat dari perusahaan yang telanjur dicintai, apalagi jika setelah dipecat semua teman dekat perlahan menjauh. Itulah situasi yang dialami Rachel Yumeko River. Posisinya sebagai editor novel ternama di Sekai Publishing terpaksa berhenti saat itu juga ketika sebuah surat pemecatan dilayangkan padanya karena sebuah kesalahan yang tidak jelas.
Setelah itu, kegiatan sehari-hari hanya diisi dengan memecahkan gelas dan murung di apartemen. Bahkan keempat temannya di Sekai Publising, Akiko, Mei, Choi dan Risa, tak mau mendengarkan keluhannya dan perlahan menghindar.
Suatu hari, ketika akan membeli gelas di daerah Komazawa-Dori, dia melihat sebuah kafe di dekat Cups, tempat membeli gelas, bertuliskan Evergreen. "... es krimnya benar-benar enak, pelayan-pelayan pun ramah-ramah. Kafe yang nyaman dan hangat sekali. Sepulang dari sana, aku selalu merasa bersemangat lagi" (halaman 11).
Setelah melamar di beberapa penerbitan dan hasilnya nihil, Rachel mulai putus asa. Bahkan dia mulai berpikir untuk bunuh diri. Namun, semenjak mengunjungi Evergreen, dia merasa betah berlama-lama di sana.
Hingga sebuah tawaran dari Yuya tak bisa dia hindari untuk bekerja di kafe tersebut. Terpaksa, karena memang tak ada lagi penerbitan yang mau menerimanya bekerja dengan status dipecat.
Seumur hidup Rachel sama sekali tidak pernah menyentuh celemek, apalagi memakainya dengan logo Evergreen terbordir di kantong depan (halaman 57).
Rachel langsung menyerah menjelang sore. Dia harus mengocok bahan-bahan es krim, memasukkannya ke freezer, mengeluarkan lagi, mengocok lagi, begitu terus hingga adonan itu melembut dan bisa disebut es krim. Tetapi, sampai detik ini, adonan Rachel masih saja berupa serpih-serpih es sekalipun dia sudah banyak menambahkan gelatin sapi sebagai pelembut (halaman 60).
Di kafe itu, Rachel menemukan banyak kisah dan arti hidup yang sebenarnya dari beberapa orang yang bekerja di Evergreen. Seperti kisah Fumio dan adiknya. Ada juga cerita lain yang membuatnya sadar bahwa selama bekerja di Sekai Publishing dia sulit tersenyum.
Pikiran itu membawanya menerawang jauh saat pulang dari kafe. Dia nyaris tak mampu berpikir. Otaknya mendadak kosong. Dia juga tak dapat melihat apa pun: reklame, gedung NHK, sashimono, dan taman-taman. Dia hanya melihat wajah tenang Toichiro-san saat berkata, "Pernahkah kau mendengar konsep menghargai orang lain" (halaman 160).
Novel 203 halaman ini mencoba menginspirasi pembaca bahwa pemecatan bukan akhir segalanya karena masih ada jalan asal terus bersemangat dan berusaha. Kemurungan hanya akan memperburuk situasi. Yang diperlukan adalah bangkit dan berjuang mencari solusi, jangan tinggal diam. Kekurangan novel ini hanya masalah teknis pemilihan font yang sedikit kecil, namun tertutupi dengan cerita yang selalu mengundang penasaran di setiap bab.
Penggunaan latar belakang Jepang membuat pembaca seolah-olah diajak menonton diorama Jepang tentang kisah di kafe Evergreen tersebut. Novel ini tidak melulu membahas romansa cinta, namun dibumbui dengan sebuah pembelajaran hidup yang mengesankan.

Diresensi Fredy Harsongko, mahasiswa IKIP Budi Utomo, Malang



Judul            : Evergreen
Penulis          : Prisca Primasari
Penerbit        : Grasindo
Tahun Terbit  : 2013
Tebal            : x+203 hal
ISBN            : 978-602-251-086-4


No comments: