18.4.14

Bila Inklusi Bukan Solusi - Jawa Pos

Pendidikan adalah hak semua anak, tidak terkecuali untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Itu tercantum dalam UUD 1945 pasal 31, bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. UU No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara, dan Permendiknas No. 70, Tahun 2009, Pasal 1 bahwa pendidikan inklusi adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.
Program Inklusi adalah usaha pemerintah untuk membuat para ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) mendapat hak yang sama dengan anak-anak normal lainnya, meskipun pada kenyataanya. Program ini masih kurang optimal dilaksanakan dengan alasan kurangnya tenaga pengajar yang harus bisa berperan sebagai terapis bagi mereka. apalagi di pelosok-pelosok daerah, sering terjadi inklusi hanya sebuah kata di papan nama sekolah mereka. pada kenyataanya mereka menolak keberadaan anak ABK dengan berbagai alasan. Apalagi sekolah dengan kapasitas murid yang banyak dan tenaga pengajar yang sedikit.
Diharapkan sebagai orang tua ABK jangan menyerah pada keadaan tersebut, tidak ada salahnya bertindak sebagai shadow teacher bagi anak sendiri, untuk mengurangi beban para pengajar. Atau carilah sekolah dengan murid sedikit. Karena gurunya akan lebih mudah untuk mengarahkan anak kita.
Bila sekolah inklusi terasa sulit bagi anak kita, karena anak kita kurang fokus atau malah minder. Masuk sekolah luar biasa bukan suatu hal yang tabu. Karena disini ABK lebih fokus dididik dan diarahkan untuk mandiri dan dikembangkan bakat apa yang ada pada diri mereka. banyak bukti ABK meraih prestasi yang membanggakan.

No comments: