18.4.14

Amplop Undangan - Majalah Femina




“Tidak menerima sumbangan dalam bentuk barang atau karangan bunga”. Awal mula membaca undangan dengan selipan kalimat seperti itu di bagian bawah kartu, saya mengernyitkan dahi. Maklum waktu itu kami tinggal di kampung, sehingga memberi bunga sebagai hadiah bukanlah tradisi kami. Jadi, kenapa harus tertulis permintaan seperti itu? Tapi, akhirnya kami terbiasa dengan hal itu bahkan sekarang tak perlu bingung antara memberi kado (barang) atau uang. Maka, sesaat sebelum pergi ke resepsi, kami sudah menyiapkan amplop atau mampir dulu ke warung yang dilewati jika persediaan amplop di rumah habis. Kalau tak punya kartu nama, cukup menuliskan nama dan alamat singkat dengan pena di bagian depan amplop. Beres.

Nah, lain pemilik hajat lain pula gaya undangannya. Saya pernah menerima undangan dengan tulisan “tanpa mengurangi rasa hormat, kami tidak menerima sumbangan dalam bentuk apa pun”. Ya, karena sudah tertera seperti itu, saya pun mendatangi resepsi tanpa perlu mempersiapkan sumbangan apapun. Eh, tapi, ternyata pemberitahuan ini tak begitu saja dituruti oleh tamu. Atas dasar pekewuh karena datang hanya untuk makan, para tamu ternyata tetap mempersiapkan sumbangan (uang/barang). Jika membawa kado atau bingkisan, mereka akan menyodorkan kepada salah satu penerima tamu atau saudara di empunya hajat (jika kenal). Sementara jika yang disiapkan adalah uang, maka saat berpamitan, dengan gesit para tamu menyelipkan amplop ke tangan pemilik hajat saat bersalaman. 

Biasanya saat seperti ini akan kita lihat adegan singkat yang menarik. Antara tamu dan pemilik hajat akan saling tarik ulur. Yang satu berusaha menolak, yang satu berusaha memberi. Tergantung niat mana yang paling kuat, antara tamu dan pemilik hajat, sehingga amplop itu akan berpindah tangan atau tetap. Jika pemilik hajat ternyata menerima, meski dengan wajah tampak enggan, tamu yang lain akan mengikuti taktik itu. Giliran tamu seperti saya ini yang blingsatan. Tak enak rasanya kalau tak ikut menyelipkan amplop saat bersalaman. Dalam kondisi kepepet, ide biasanya muncul, kan. Nah, tanpa pikir panjang, saya menyobek kertas  (saya memang biasa membawa buku tulis di dalam tas) dan menjadikannya amplop darurat. Jika tak ada kertas, seperti yang dilakukan kakak saya, lembaran tisu bisa menjadi penyelamat. Tentu saja, saat memberikannya kami harus berani menanggung malu. Dan dalam hati, saya berjanji akan selalu menyediakan amplop kosong di tas.

Amplop putih polos ternyata membawa banyak cerita. Lain saya, lain pula ibu saya (almarhumah). Ibu biasa menyimpan amplop sebagai persediaan di clutchnya. Suatu saat, Ibu menghadiri undangan. Seperti biasa, Ibu memasukkan amplop ke dalam kotak yang tersedia. Ibu duduk menikmati acara hingga selesai. Kebetulan Ibu berencana akan langsung kontrol ke dokter langganan sepulang dari resepsi.

“Kartunya sudah dibawa, kan?” kebiasaan Bapak menanyakan pada Ibu, karena Ibu sering lupa.
“Sudah,” jawab Ibu. Tapi untuk memastikan, Ibu mencari kartu periksa (kartu periksa Ibu lebih dari satu karena Ibu harus ke beberapa dokter sesuai keluhannya). Dicarinya satu per satu di dalam clutchnya. Ibu yakin sudah memasukkan kartu itu tadi di dalam amplop tersendiri agar mudah dicari. Selain untuk sumbangan, Ibu biasa menyimpan berbagai kartu di dalam amplop juga. Kartu identitas, askes, juga kartu periksa ke dokter.
“Bawa, enggak?” Bapak yang masih melihat Ibu sibuk mengorek-ngorek clutchnya kembali bertanya.
“Waduh,” kata Ibu ketika menemukan amplop sumbangan berisi uang dan tulisan namanya di dalam tas. Ibu mulai was-was karena tak menemukan amplop berisi kartu periksa, tetapi justru menemukan amplp berisi uang sumbangan.
“Keliru amplop,” wajah Ibu tampak masygul. “Piye, Pak?”

Akhirnya setelah rela disalahkan Bapak, mereka berbalik ke tempat hajatan. Untunglah Bapak dengan sifat santainya menjelaskan kesalahan amplop yang dimasukkan Ibu. Bapak memberikan amplop berisi sumbangan, sementara si pemilik hajat segera mencari amplop kartu periksa Ibu di antara amplop yang menggunung.

No comments: