18.4.14

Pengagum Rahasia - Majalah Gadis

  Rama Diansyah:
Seandainya ada ruang untuk melipat waktu. Aku akan ada di sana—menunggumu tanpa pernah khawatir menjadi jemu.
            Sakura memandang tulisan tangannya yang sudah ia ubah dengan gaya lain. Gadis itu menghela napas berat. Terkadang, ia begitu tidak mengerti dengan jalan pikiran Yasmin, sepupunya.
            “Please, Ara? Kamu, kan, pintar buat tulisan manis. Kirimkan untuk Rama, ya? Tapi, ingat, jangan tulis namaku!”
            Sakura mengerutkan keningnya. “Semacam surat kaleng?”
            Yasmin mengikik geli. Wajahnya memerah. Cantik. “Ah, Ara. Kamu membuatku terdengar seperti penjahat. Bagaimana kalau kamu menyebutku secret admirer? Pengagum rahasia Rama Diansyah.”
            Oh, hebat. Dan Sakura yang terkena susahnya. Ia yang harus memeras otak menulis surat cinta. Kemudian—yang paling berbahaya, menyelipkannya ke dalam tas Rama. Bagaimana kalau ada yang melihatnya? Atau yang paling parah, jika Rama yang memergokinya?
           
“Aku heran, Yas. Kamu begitu cantik dan populer di sekolah. Kenapa harus menggunakan cara ini?” Seperti orang yang krisis percaya diri saja, batin Sakura.
            “Kalau menurutku,” lanjut Sakura lagi,”kamu samperi saja cowok itu. Lalu bilang suka padanya. Beres, kan?”
            “Begitu, ya?” wajah Yasmin meredup. “Rama ini … unik. Tidak banyak bicara dan gaul. Bukan tipe cowok yang jadi incaran cewek satu sekolah, semacam Haris. Tapi, justru karena itu aku suka padanya.” Yasmin menatap Sakura sambil tersenyum manis. “Aku mengenalnya sejak SMP. Orang bilang, first love never dies. Anggaplah ia cinta pertamaku.”
            Sakura terdiam sebentar. Cinta pertama? Seperti apa rasanya? Di dunia Sakura yang teramat sangat biasa-biasa saja, jatuh cinta bukanlah prioritas hidupnya. Ia hanya suka tenggelam dalam buku. Mengelilingi dunia. Membuatnya lupa akan perih dan sakit hatinya kehilangan orang yang sangat dicintainya: Ayah. Hanya wajah Ayah yang tergambar di pikirannya. Sementara Sakura hanya mengenal wajah ibunya lewat foto pernikahan Ayah, karena beliau meninggal saat melahirkannya.
            Hampir tiga tahun ia membiasakan diri hidup dalam sunyi dan kesepian yang sangat. Mencoba beradaptasi tinggal bersama Om Rio, Tante Ina, dan Yasmin. Om Rio—adik Ayah, adalah keluarganya yang terdekat sejak itu. Beruntung, ia dikaruniai otak yang cemerlang hingga sekolah memberikannya beasiswa penuh selama di SMU. Dan Sakura sangat bersyukur karenanya.
“Jadi, bagaimana? Kamu mau, kan, Ara?” suara Yasmin yang mendesak membuyarkan lamunan Sakura karena kata-kata cinta pertama.
“Tapi, aku belum pernah membuat surat cinta, Yas,” Sakura masih mencoba mengelak.
“Gampang! Bayangkan saja kamu jatuh cinta pada Rama, dan ingin mengungkapkan isi hatimu padanya,”
Melihat wajah sepupunya yang memaksa, Sakura menyerah.
Dan di sinilah ia sekarang. Ruang kelasnya di waktu pagi. Kosong. Tas ransel hitam di pojok kelas menjadi incarannya. Secepat kilat, Sakura menyelipkan sampul kecil berwarna putih itu ke dalam saku depan tas Rama. Setelahnya, ia buru-buru keluar kelas. Merasakan dadanya berdebar kencang.
*
            “Bagaimana? Sukses?” kejar Yasmin di hari pertama Sakura menjalankan misi menyelipkan surat cinta untuk Rama.
            Sakura mengangguk, berat. Ia mengerang. “Aku hampir jantungan, Yas. Takut ketahuan!”
            Yasmin tertawa. “Terima kasih sepupuku sayang. Aku tahu, Rama selalu datang paling pagi. Jadi, enggak akan ada yang memergokimu.”
            Iya, kecuali mungkin Rama sendiri, batin Sakura sedikit dongkol.
            “Surat berikutnya minggu depan, ya!” Yasmin mengerling manis pada Sakura.
            “Oh, tidak! Mau berapa lama kamu memainkan permainan ini?”
            “Sampai aku tahu perasaan Rama padaku.”
            “Astaga! Kamu, kan, bisa langsung menanyakan pada orangnya sekarang juga!”
            Yasmin menggeleng, keras kepala. “Rama itu tipe yang dingin sama cewek, Ara. Ia tipe kuno, yang enggak suka cewek agresif. Biarlah aku bersabar sedikit, hingga suatu hari nanti bisa menyentuh hatinya.”
            “Dengan cara apa? Mengiriminya surat cinta? Terus, kenapa bukan kamu sendiri yang buat? Aku enggak tahu harus menulis apa lagi!”
            Yasmin mendecak tidak sabar. “Makanya, aku beri kamu waktu satu minggu untuk membuatnya! Rama itu suka puisi. Dulu, karya-karyanya banyak dimuat di koran dan majalah. Entah mengapa, sekarang ia seperti menutup diri dari dunia itu. Dengan kiriman surat manis dariku—yang kamu bantu membuatnya, aku harap hatinya akan luluh.”
            Sakura hampir tidak percaya, bagaimana mungkin ia bisa terlibat dalam urusan cinta orang lain? Tapi nyatanya, itulah yang terjadi. Dan Sakura sedikit menyesal karenanya.
*
Rama Diansyah:
            Mungkinkah dirimu memiliki seribu bayangan? Karena ke mana pun aku berpaling, ada wajahmu terpahat.
            Sebelumnya, tidak pernah Sakura memikirkan cowok seperti apa Rama itu. Walau mereka sekelas di kelas 12 ini, namun—seperti yang Yasmin bilang, Rama tidak suka keriuhan. Ia lebih suka menyendiri, tidak banyak bicara. Meskipun begitu, prestasinya sangat bagus, dan ia mengejar jalur undangan ke Fakultas Teknik UI. Sedangkan Sakura, seperti biasanya, bukanlah gadis yang menarik perhatian siapa saja.
            Lalu, kesempatan untuk mengenalnya datang saat Bu Gendis memasangkan Sakura bersama Rama dalam sebuah tugas. Bukan kebetulan, jika R dan S akan selalu berurutan dalam absen.
            Sakura sedikit mencuri pandang ke wajah Rama yang duduk di hadapannya. Tidak mengabaikan jantungnya yang berdegup kencang, kelebatan pikiran bermain-main di kepalanya. Mungkinkah Rama tahu? Apakah ia memergokiku dengan surat-surat itu?
            “Ara, kamu suka puisi?” pertanyaan Rama yang ditanyakan sambil lalu, membuat jantung Sakura seperti turun ke perutnya.
            “Kenapa memangnya?” Sakura mencoba tenang, walau suaranya terdengar sedikit bergetar.
            Rama memandangnya sebentar, lalu tersenyum kecil. “Hanya ingin tahu.”
            Sakura diam dan pura-pura sibuk menulis di bukunya.
            “Dulu, aku suka puisi,” Rama memulai. “Mungkin, karena di rumah buku-buku puisi sangat mudah ditemukan. Ibuku pencinta puisi.” Cowok itu terdiam lama.
Sakura menatapnya ingin tahu. “Dulu?”
“Ya, dulu. Hingga suatu hari, aku menemukan bahwa kata-kata indah juga bisa menyakiti. Sejak itu, aku berhenti menyukai puisi.”
Sakura terentak. Bagaimana bisa kata-kata indah menyakiti? Lalu, Sakura sadar, ada setitik luka di pancaran mata Rama.
*
            Rama Diansyah:
            Kutitipkan cerita pada angin yang berembus. Tentang aroma, hujan, bintang, dan cahaya. Sampaikah padamu?
            “Ibuku wanita yang kuat.” Rama bercerita suatu hari. Walau tugas Bu Gendis sudah selesai, cowok itu masih suka mengajak Sakura ngobrol, sesekali. Walau kebanyakan, Sakura hanya diam mendengarkan sambil mengangguk-angguk. Kadang ia tersenyum dan menimpali sedikit.
            “Ibu bercerai dengan Ayah karena puisi.”
            “Oh, Rama, mengapa? Bukankah puisi itu indah?” Sakura menatap Rama prihatin.
           “Sayangnya, puisi-puisi indah berubah menjadi sembilu saat Ayah menciptakannya untuk wanita lain.” Rama terlihat menerawang. “Ibu tahu, dan mencoba bertahan. Aku tak tahu berapa lama. Hingga ia memutuskan hanya dengan melepaskan ia bisa melanjutkan hidup.”
            “Apakah karena itu kamu berhenti menyukai puisi?” Sakura bertanya penasaran.
       "Bisa dibilang begitu.” Rama tersenyum. Matanya ikut menyipit saat itu. Dan Sakura mendadak merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. “Tapi, aku tidak mau puisi—atau apa pun, menghancurkan hidupku. Aku berjuang untuk mimpiku. Aku akan kuliah di jurusan yang aku suka. Lalu mendapatkan beasiswa ke Eropa.”
            Mata Rama bercahaya saat menceritakan mimpinya, dan Sakura suka melihatnya.
            “Aku yakin kamu pasti bisa, Rama!” Sakura berkata tulus.
            “Kalau kamu, Ara? Apa mimpimu?”
            “Hm, tidak berbeda dengan kamu,” jawab Sakura sedikit malu. Rama tertawa.
            “Aku senang kita punya mimpi yang sama. Membuatku menyadari aku tidak sendirian.”
            “Semoga kita bertemu di Eropa.”
            “Aku juga berharap sama.”
            “Dan aku harap kamu bisa menyukai puisi lagi.”
            Rama menatap Sakura lembut. “Siapa tahu? Mungkin suatu hari aku akan jatuh cinta karena puisi.”
*
            Rama Diansyah:
            Terkadang, hening lebih kusukai dari apa pun. Kita tidak perlu berucap, hanya mendengarkan udara yang membawa pesan hati. Aku tersesat. Tolong tunjukkan arah pulang.
            Tangan Sakura gemetar saat menyadari ada sebuah amplop di dalam saku tas Rama, tempat ia biasa menyelipkan surat cinta Yasmin.
            Untuk siapa pun dirimu ….
            Jantung Sakura berdebar kencang. Ia yakin itu pasti jawaban Rama untuk surat-surat cinta yang diterimanya selama ini. Secepat kilat Sakura mengambil dan menyelipkan amplop itu ke saku jaketnya. Ia lalu menyelipkan surat untuk Rama di tempat biasa.
*
            Mata Yasmin berbinar. “Malam perpisahan, Ara! Ia ingin bertemu denganku di sana. Oh, Ara, aku harus pakai baju apa? Aku harus berbicara apa saat kami bertemu?”
            Sakura tersenyum tidak yakin. Merasakan perutnya yang kram tiba-tiba.
*
            Sakura demam sejak siang. Mungkin karena kehujanan sehari sebelumnya, saat ia berusaha mencari pelengkap gaun yang akan dikenakan Yasmin malam ini. Malam perpisahan sekolah. Saat ia dan Rama akan bertemu, setelah perjalanan surat-suratnya yang panjang.
            “Istirahatlah. Aku akan menceritakan hasilnya nanti. Walau, jujur, aku lebih senang kamu ada di sana, Ara,” Yasmin menatap Sakura sedikit cemas. Gadis itu sendiri terlihat cantik luar biasa. Sakura hanya tersenyum sambil batuk-batuk kecil. Hingga kemudian, sebuah tidur panjang dan lelap memeluknya nyaman.
            Entah apa yang kemudian membangunkan Sakura. Kamarnya gelap, dan ia tidak tahu jam berapa saat itu. Sebuah isakan pelan terdengar di pintu kamarnya.
            “Yas?” panggilnya ragu. Ia beranjak untuk menekan sakelar lampu. Saat kamarnya terang, Yasmin terlihat sedang duduk memeluk dua kakinya, menyender pada daun pintu. Wajahnya tersembunyi di pangkuannya. Sakura segera menghampiri sepupunya itu.
            “Sst, ada apa?” tanyanya lembut sambil mengelus rambut panjang Yasmin yang halus. Yasmin mengangkat wajahnya, lalu memeluk Sakura.
            “Ia … Rama menolakku. Walau, rasanya, aku sudah bisa menduganya. Entahlah. Sejak SMP dulu, ia selalu baik padaku. Mungkin aku saja yang terlalu berharap padanya, mengartikan lain sikapnya. Ia sendiri tidak punya perasaan apa-apa padaku ….”
            Yasmin menatap mata Sakura. “Ia tahu, Ara. Bukan aku yang menulis surat-surat itu.”
            Perasaan panik memenuhi sekujur tubuh Sakura. “Maksudmu apa? Bagaimana ia tahu?”
            Yasmin memejamkan matanya. Teringat Rama yang tersenyum saat mereka baru bertemu. “Ia memintaku bercerita tentang aroma, hujan, bintang, dan cahaya. Ia hanya memintaku bercerita. Aku langsung tahu, ia tahu aku berbohong. Bukan aku yang menulis surat-surat itu.”
            Bukankah tidak akan berjalan baik apa pun yang diawali dengan ketidakjujuran? Kata-kata Rama terngiang di telinga Yasmin.
            “Ia bahkan tidak menanyakan siapa penulisnya. Ia juga tidak marah. Ia hanya tersenyum … lalu pergi.”
            Sakura merasakan kekosongan dalam hatinya.
*
            Sehari sebelum keberangkatannya ke Malang, Sakura menerima sebuah paket. Di tengah kesibukannya menyiapkan kepindahannya ke kota apel itu, urusan surat cinta Rama menjadi sesuatu yang tidak penting dan hampir terlupakan. Sakura diterima di Universitas Brawijaya lewat jalur undangan. Yasmin memutuskan akan melanjutkan kuliahnya di Bandung—sambil menyembuhkan patah hatinya. Sementara Rama, Sakura tahu, juga mendapatkan jalur undangan di jurusan yang diimpikannya.
            Hanya ada namanya di paket itu. Sakura membukanya cepat dan menemukan sebuah buku catatan kecil bersampul hijau lembut. Di sampulnya tergambar indah seorang gadis berambut panjang yang sedang menari di bawah hujan, di padang rumput yang luas.
            Tanpa terasa tangannya gemetar saat membuka lembaran pertama.
            Sakura Larasati:
            Aku tidak akan mengawali dengan kebohongan. Awal surat ini kutiru dari surat salah seorang penggemarku. (Kamu tidak percaya, kan, kalau aku memiliki banyak pengagum rahasia?)
            Betapa anehnya ketika kusadari aku begitu mengenal garis tulisanmu. Saat-saat kita mengerjakan tugas bersama, dan waktu-waktu sesudahnya, membuatku merasa dekat denganmu. Walau, tentu saja, aku tidak punya bukti untuk menuduhmu.
Kutuliskan surat-surat yang sudah mampu menghangatkan hatiku kembali. Aku beri tahu sedikit rahasia. Aku mengagumi penulisnya, dan berharap bisa bertemu dengannya. Siapa tahu? Mungkin kami akan bertemu di Eropa! Lalu, kami akan berbincang tentang aroma, hujan, bintang, dan cahaya.
Rama Diansyah
Sakura limbung. Ia seperti sedang berdiri di tepi jurang. Gamang, bahagia, sedih, sekaligus takut. Ia tahu, Rama tidak akan pernah bisa bertemu dengan penulis surat-surat itu.
Maafkan aku, Rama. Entah apakah aku masih mempunyai nyali bertemu denganmu. Aku sudah tidak jujur padamu. Surat-surat itu hanyalah sebagian kecil dari surat cinta Ayah kepada ibuku—harta  yang setia kusimpan hingga kini. Aku … mencuri surat cinta mereka.

No comments: