20.4.14

Ikrar Perkawinan - Majalah Kartini

Rumah di depan rumahku itu kini telah berpenghuni. Rumah yang telah direnovasi total, sehingga tampak berbeda dengan rumah-rumah di sebelahnya. Ada taman mungil berbentuk asimetris dengan sebuah kolam yang dikelilingi batu-batu. Tanaman-tanaman bonsai yang dipotong rapi, serta jembatan mungil yang menghubungkan kolam dengan teras. Di teras, ada sebuah meja pendek yang dialasi tatami dengan dua buah bantal tipis sebagai pengganti kursi. Pintu utama menggunakan model pintu geser. Di langit-langit teras, tergantung sebuah lampu dengan kap berbentuk lampion yang bertuliskan huruf kanji. Benar-benar Japanese style house.

Sebetulnya tak terlalu menyita perhatianku, kalau saja penghuninya adalah pasangan muda seperti aku, yang baru memiliki satu atau dua anak. Tetapi kenyataan bahwa penghuninya adalah sepasang kakek nenek yang sudah berusia sekitar 70 tahun, benar-benar menimbulkan berbagai pertanyaan dalam hatiku. Tak lazim saja menurutku. Biasanya orang-orang tua akan bertahan untuk tinggal dalam rumah lama mereka yang penuh kenangan. Atau justru ikut menumpang di rumah anak-anaknya. Tinggal di sebuah Panti Jompo adalah pilihan berikutnya, meski pun menurutku, itu adalah pilihan yang kurang manusiawi.

Ada 14 kepala keluarga yang tinggal saling berhadapan di blok kami, di kompleks perumahan Graha Padma Sentosa. Sebuah kawasan perumahan yang boleh dibilang sebagai cluster, karena dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti kolam renang, futsal, tennis, dan keamanan selama 24 jam. Sebagai perumahan yang baru tumbuh, kebanyakan penghuninya adalah keluarga muda yang masih dalam usia produktif. Mengamati tetangga baru yang agak “berbeda” adalah kebiasaan yang khas ibu-ibu banget. Wajarlah kalau aku tidak bisa secuek suamiku.

Setiap hari Minggu sebelum matahari terbit, aku dan suamiku berolah raga pagi keliling kompleks. Lalu sekalian pergi ke pasar bersih untuk berbelanja. Aku sepakat dengan suamiku untuk mengurangi penggunaan motor dan mobil, apabila jarak bepergian kami kurang dari 2 km. Sebagai warga negara yang baik, kami berusaha memberi contoh untuk mengurangi emisi gas karbon. Dua anakku yang masih berusia 6 tahun dan 2 tahun biasanya masih tertidur pulas, sehingga aku tinggal di rumah bersama pengasuhnya.

Di pertigaan kompleks dekat taman, yang salah satu jalurnya akan menuju ke area sport, kami bertemu dengan mereka berdua. Maksudku, sepasang Opa dan Oma yang tinggal di depan rumahku. Kami pun saling bertegur sapa. Opa Martin terlihat sangat menyayangi Oma Hana. Terbukti dari genggaman tangannya yang erat di tangan perempuan yang masih kelihatan cantik di usia senjanya itu.

Rasa hatiku yang penasaran menyebabkan sebuah tanya keluar dari mulutku begitu keduanya berlalu dari hadapan kami.
“Sudah tua kok masih seperti pengantin baru saja ya Pa?”
“Ya seharusnya memang seperti itu, apanya yang aneh?”
“Tetapi kenapa mereka harus pindah ke tempat yang baru?” tanyaku lagi.
Suamiku rupanya mulai agak terganggu dengan kecerewetanku.
“Lah mungkin mereka tidak mau merepotkan anak-anaknya to Ma.... Sudahlah, kamu itu sukanya kok mengurusi urusan orang lain?”
Dan seperti biasanya, aku memilih untuk diam, tak lagi berusaha menuruti rasa penasaranku. Kami adalah dua pribadi yang mudah tersulut. Doni, Tuan Keras Kepala dan Susah Diatur. Aku, Si Nyonya Pengatur dan Penuntut. Namun rupanya takdir Tuhan telah mempersatukan kami dalam sebuah mahligai rumah tangga. Nothing Impossible. Kami pun ternyata bisa menjembatani perbedaan di antara kami. Tentu saja tetap ada riak-riak kecil seperti perbedaan pendapat atau pun masalah sehari-hari yang lain. Tetapi semua masalah langsung selesai begitu kami masuk ke tempat tidur.
“Well.... hari ini mau dimasakin apa Pa?”
“Tengiri masak asam manis....”
“OK....”
Doni menggandeng tanganku. Aku tersenyum kecil, teringat kemesraan Opa Martin dan Oma Hana yang baru saja kami lihat. Rupanya Doni terpengaruh juga.

@@

Hari Sabtu dan Minggu aku selalu menyempatkan diri untuk memasak makanan kegemaran suamiku. Hari Senin sampai Jum’at kami selalu lunch di kantor masing-masing. Bertemu lagi sudah malam, karena selalu terkena macet di perjalanan. Sehingga pada hari-hari biasa aku selalu mengandalkan untuk membeli makanan di luar.

Doni tampak puas dengan makanan yang aku buat. Tengiri masak asam manis, sayur bayem bening, perkedel daging, ditutup dengan dessert berupa puding buah mangga yang sudah aku dinginkan di kulkas. Kami sudah selesai menyantap makan siang hari itu, ketika suara bel rumah menggema. Aku melangkah ke luar untuk membukakan pintu.
“Ini syukurannya Opa Martin, Bu....” tutur seorang perempuan muda berkaus biru.
“Terima kasih Mbak, aduh repot sekali. Dalam rangka apa ya?”
“Pemberkahan ikrar perkawinan...”
“Perkawinannya...siapa?”
“Opa Martin dan Oma Hana...”
Aku menyembunyikan keterkejutanku dengan mengarahkan pandangan ke arah tutup kotak kardus makanan. Di atasnya bersematkan nama sebuah restoran terkenal. Aku menitipkan ucapan terima kasih, sebelum perempuan muda itu berlalu.
Terjawab sudah rasa penasaranku tentang beberapa mobil yang terparkir di depan rumah, tamu-tamu yang berdatangan dan beberapa bhikkhu dengan jubah kuningnya yang khas. Namun timbul pertanyaan yang baru dalam benakku. Pemberkahan perkawinan?

@@

Sebelum kehadiran Opa Martin dan Oma Hana, rumah itu sudah lama kosong, sehingga catnya sudah banyak yang mengelupas. Hanya sesekali pemiliknya, seorang wanita paruh baya bertubuh agak gemuk, datang menengok. Namun kata satpam kompleks, tahun lalu, rumah itu telah dijual kepada seorang pensiunan perwira angkatan laut. Dan rupanya oleh pemilik yang baru, rumah itu telah dibongkar dan diubah menjadi sebuah rumah unik bergaya Jepang. Mungkin Opa Martinlah pensiunan perwira angkatan laut itu.

Sebulan pertama dia tinggal, aku sudah mulai hafal kebiasan-kebiasaan yang dilakukan oleh sepasang Opa dan Oma itu. Terutama di hari Sabtu dan Minggu saat aku libur dari rutinitas kantor. Pagi-pagi, mereka akan berjalan-jalan keliling kompleks. Siang sedikit mereka akan minum teh berdua di teras. Lalu mereka akan tenggelam di rumah sampai sore. Malam hari, mereka akan keluar rumah dengan mobil. Mungkin untuk makan malam di luar. Namun untuk urusan jalan-jalan keliling kompleks, itu selalu rutin mereka lakukan setiap pagi. Sekitar pukul lima pagi, saat aku mengintip dari tirai jendela kamar, kulihat mereka sudah keluar rumah. Dengan mesra, Opa Martin akan menggamit lengan istrinya.

Kata Muna, pengasuh anakku, Seminggu dua kali mereka akan keluar diantar oleh perempuan muda yang belakangan kuketahui bernama Santi. Opa Martin dan Oma Hana akan duduk di jok belakang, dan Santi yang memegang kemudi. Sebetulnya Santi itu pembantunya atau sopirnya? Atau pembantu yang merangkap sopir? Ah... aku juga kurang mengerti.
Suamiku hanya sesekali membunyikan klakson sebagai pengganti sapaan, saat kami mau berangkat ke kantor dan kebetulan mereka berdua sedang berjalan-jalan ke luar rumah. Dan Opa Martin akan mengacungkan jempol sambil tersenyum. Namun kata Muna, Opa Martin sangat peduli pada anak-anak. Saat mendengar Si Kecil menangis, Opa Martin akan berkunjung ke rumah sambil membawa beberapa lembar kertas. Dibuatnya kertas itu menjadi beberapa bentuk seperti katak, burung, atau kelinci. Diberikannya origami itu kepada anakku yang sedang menangis. Setelah tangisnya mereda, barulah Opa Martin beranjak pulang.
”Mungkin Opa Martin kangen sama cucunya, Bu...” kata Muna suatu hari.
“Memangnya cucunya tinggal di mana?”
“Jauh....Kata Mbak Santi, anaknya Opa Martin cuma dua. Yang satu di Singapura, satunya lagi di Australia.”
“Kalau berkunjung ke sini tidak pernah mengajak Si Oma?” tanyaku ingin tahu.
“Kata Opa, Oma Hana sedang sakit.”
Pada awal bulan kedua dan ketiga, aku dikejutkan lagi oleh mobil-mobil yang diparkir di jalanan depan rumah. Tamu-tamu yang berdatangan ke rumah Opa Martin, dan beberapa bhikkhu. Lalu Mbak Santi kembali datang ke rumah untuk mengantarkan sekotak nasi. Pemberkahan perkawinan lagi?
Opa Martin masih sering berjalan-jalan keliling kompleks bersama istrinya, Tetapi sekarang Oma Hana tidak digandengnya, melainkan didorongnya menggunakan sebuah kursi roda. Rupanya Oma Hana sakitnya bertambah parah.
Memandang kedua orang tua itu seakan telah mengingatkanku kembali kepada kedua orang tuaku yang telah tiada. Juga kepada mertuaku yang jauh di Medan sana. Kadang aku ingin mengundang Opa Martin dan Oma Hana secara khusus ke rumah. Atau aku sendiri yang beranjang sana ke rumahnya. Tapi kapan? Aku selalu sibuk di kantor. Sementara hari Sabtu dan Minggu seringnya aku punya acara sendiri bersama Doni dan anak-anak. Tetangga yang lain juga kelihatannya kurang peduli kepada mereka. Hidup di kompleks perumahan bertipe cluster memang tak menyisakan banyak waktu untuk saling bertegur sapa.
Kalau pun ada yang peduli, paling hanya karena terdorong oleh rasa penasaran belaka. Seperti yang dilakukan oleh tetangga yang rumahnya paling ujung. Ia pernah bertanya kepadaku saat bertemu denganku di hari Sabtu, “Eh Mbak Rena.... Itu tetangga depan rumahmu siapa namanya?”
“Opa Martin sama Oma Hana....” jawabku singkat.
“Itu perempuan muda yang tinggal bersamanya itu anaknya atau cucunya ya? Kok masih muda sekali?”

@@

Suatu hari, tetangga samping rumah tiba-tiba datang berkunjung ke rumah. Rupanya ia hanya ingin bertanya-tanya tentang Opa Martin.
“Jeng Rena, tetangga depan rumah itu kok sering mengadakan pesta perkawinan, yang kawin siapa sih?”
“Katanya sih, Opa Martin sama Oma Hana,” jawabku sambil tersenyum.
“Orang tua kalau sudah pikun memang suka aneh-aneh ya? Masa pernikahan setiap bulan sekali, jangan-jangan....”
“Jangan-jangan apa Bu Yana?”
“Jangan-jangan perempuan muda yang tinggal bersama mereka itu....siapa namanya?”
“Mbak Santi? Sepertinya ia pembantu di rumah itu?”
“Pembantu kok penampilannya bersih seperti itu? Jangan-jangan dia itu istri mudanya Si Opa, lalu ia merasa bersalah sehingga setiap bulan mengulangi kembali ikrar perkawinannya dengan si istri tua?”
“Ah masa, setua itu.....”
“Eh jangan salah... sekarang banyak obat herbal lo Jeng....” Tetanggaku terkikih.
Aku hanya tersenyum sambil berkata,”Sepengetahuan saya, Opa Martin sayang sekali kok sama Oma Hana....”

@@

Awal bulan keempat, tetangga depan rumah masih menyelenggarakan upacara pemberkahan perkawinan lagi. Tapi sehari sesudahnya, tampak sebuah mobil ambulance meraung-raung meninggalkan rumah unik bergaya Jepang itu.
Aku yang baru saja pulang dari pasar bersih sangat terkejut. Bu Yana tetangga sebelah rumahku menjawab rasa penasaranku dengan ceritanya yang berbusa-busa.
“Oma Hana sakitnya bertambah parah, makanya dibawa ke rumah sakit...”
“Oh ya? Kasihan sekali ya Bu...”
“Mbak Yanti itu ternyata perawat pribadinya Oma Hana, Jeng. Tapi tidak boleh memakai seragam perawat oleh Opa Martin. Istrinya selalu sedih jika diperlakukan sebagai orang yang sakit.”
“Mbak Santi, Bu. Dari mana Bu Yana tahu?”
“Mas Heri, satpam kompleks. Dia kan sering mengobrol dengan Mbak Santi. Mas Heri naksir dia kali....” Berita apapun kalau melewati telinga Bu Yana, jatuh-jatuhnya pasti menjadi gossip. Aku sangat maklum itu.
Namun ketika beberapa hari kemudian rumah itu tetap sepi, aku jadi merasa kehilangan beberapa hal. Senyum tulus dari Opa Martin. Juga suara kursi roda yang didorongnya keluar dari gerbang rumah, saat embun belum lagi menguap ke udara.
Lagi-lagi aku harus mencari tahu ke rumah Bu Yana, tetanggaku Si Pencari Berita itu. Rupanya ada cerita baru tentang keluarga Opa Martin.
“Bu Yana tahu, Oma Hana dirawat di rumah sakit mana? Saya kok kepengin menengok ya Bu...”
“Wah.... kalau sekarang ya sudah terlambat Jeng...”
“Loh.... kok?”
“Kata Mas Satpam yang pernah diajak bezuk oleh Mbak Wanti....”
“Mbak Santi, Bu....”
“Iya, pokoknya perawatnya Oma Hana itu. Oma Hana sudah meninggal Jeng...”
“Meninggal?”
“Iya, tetapi jasadnya langsung di bawa ke Singapura. Katanya mau diperabukan di rumah anaknya yang pertama.”
“Lalu Opa Martin?”
“Wah.... Jeng Rena ketinggalan berita lagi. tiap hari ngantor sih, jadi tidak tahu kalau Opa Martin sudah ikutan pindah ke Singapura. Hari Jumat kemarin ia berkemas.”
Aku tertegun. Rupanya cerita dari Muna benar adanya, waktu ia berkata, “Opa Martin sudah pindah Bu....”
“Pindah ke mana? Ke rumah sakit menunggui istrinya?”
“Kurang tahu Bu, yang jelas tidak akan tinggal di rumah itu lagi ....”

@@

Setelah kepergian mereka, hari Minggu terasa berbeda. Tidak ada lagi suara kursi roda yang didorong oleh Opa Martin keluar dari rumah. Aku tidak lagi bisa berharap untuk bertemu dengan mereka di pertigaan kompleks dekat taman. Tiba-tiba aku jadi menyesal, kenapa kok dulu tidak berusaha untuk mengobrol dengan mereka. Sebetulnya hari Sabtu dan Minggu aku punya kesempatan untuk mengobrol dengan mereka, tetapi aku memilih cuek Aku selalu berlindung di balik alasan bahwa akhir pekan adalah hari untuk keluarga. Family time. Sekarang baru aku menyesal. Setelah niat untuk mengakrabkan diri itu muncul, semuanya sudah terlambat. Oma Hana sudah meninggal dan Opa Martin sudah pergi.
Namun siang harinya aku dikejutkan oleh kedatangan Mbak Santi ke rumah. Waktu itu aku sedang duduk-duduk di teras rumah. Kulihat Mbak Santi mengeluarkan sesuatu dari mobil. Sebuah kardus besar.
“Permisi Bu Rena, ini ada titipan dari Opa Martin...”
“Oh iya, terima kasih. Duduk dulu di dalam yuk, Mbak Santi....”
Mbak Santi tidak menolak tawaranku. Dia juga mau menjawab semua tanya yang selama ini mengusikku. Rupanya Oma Hana menderita penyakit stroke, yang menyebabkan ia menjadi amnesia. Oma Hana tidak pernah ingat bahwa ia sudah menikah dengan Opa Martin. Untuk menyenangkan hati istrinya, setiap sebulan sekali Opa Martin mengundang bhikkhu untuk memperbaharui ikrar perkawinan mereka. Satu-satunya yang diingat oleh Oma Hana hanyalah kampung halamannya di Osaka, Jepang. Raganya yang sakit-sakitan tidak memungkinkan lagi bagi Oma Hana menengok kembali kampung halamannya. Untuk itulah Opa Martin membangun sebuah rumah bergaya Jepang untuk istrinya.
Aku membuka kardus yang dibawa oleh Mbak Santi.
“Origami burung bangau?”
“Jumlahnya 674 Bu Rena, jadi kurang 326 lagi supaya genap menjadi seribu.”
“Kenapa harus seribu?” tanyaku tak mengerti.
“Kalau ada seribu bangau, maka akan terkabul keinginan Si Pembuat Origami. Meski Opa Martin tahu bahwa umur istrinya tidak akan lama lagi, tapi Opa Martin tetap menginginkan sebuah keajaiban.”

@@

Aku tidak mengerti maksud Opa Martin memberikan origami bangau itu. Mungkin agar bisa dibuat mainan oleh anakku. Mungkin pula Opa Martin ingin agar aku menggenapkannya menjadi seribu. Apapun maksud Opa Martin, yang jelas diam-diam aku merasa kehilangan juga. Kehilangan figur teladan yang telah memberikan aku sebuah pengertian baru tentang pentingnya memperbaharui sebuah ikrar perkawinan. Betapa setelah menikah, kita memang harus berkali-kali jatuh cinta, tetapi pada orang yang sama.
Genap 2 bulan sudah rumah bergaya Jepang itu tidak berpenghuni. Kata Satpam kompleks, Opa Martin telah meninggal saat membawa abu istrinya ke kampung halamannya di Osaka. Benar-benar cinta yang sulit dicari tandingannya.
Namun di suatu Minggu pagi yang dingin berkabut, aku terbangun oleh suara-suara gerit roda dari logam yang beradu dengan jalanan di depan rumah. Penasaran, aku sibak tirai jendela. Dan rambut-rambut di kulitku tiba-tiba meremang. Kulihat sosok lelaki tua yang sedang mendorong sebuah kursi roda. Di atasnya duduk seorang perempuan tua bermata sipit. Tirai segera kututup dan refleks, aku membalikkan tubuhku. Jantungku berdebar-debar.

1 comment:

hasil karya saya said...

Bacaan yang perlu dibaca para suami