18.4.14

Membanding-bandingkan Anak - Leisure Republika



Setiap anak dilahirkan berbeda, meskipun dari rahim yang sama. Begitu juga kedua anak saya.  Si sulung, Abdullah Alif Dzulqarnain (7 tahun) sangat kinestetik, tapi sangat sensitif dan pemalu. Sedangkan adiknya, Abdurrahman Ilyas Nabil  (5 tahun 4 bulan)  tidak terlalu banyak bergerak,  sangat suka berbicara,  mudah  dekat dengan siapa saja dan cuek. Dan saya mensyukuri setiap perbedaan yang ada pada diri mereka tanpa pernah membanding-bandingkannya.
Tapi, dua bersaudara yang tidak terpaut jauh memang potensial untuk dibanding-bandingkan. Mungkin tidak oleh kami, orang tuanya,, tapi iya oleh orang lain. Dan ini terjadi pada kedua anak saya.  Sejak si adek bayi,  kerabat maupun teman-teman yang menjenguk langsung berkomentar “kok beda ya”  atau “adeknya putih ya”. Kebetulan si adek diberi warna kulit yang agak terang sedangkan si sulung, Alif lebih gelap. Biasanya saya dengan berseloroh menjawab “iya, ada yang agak mendung, ada yang cerah”
Dan hal tersebut tidak berhenti saat si adek bayi. Semakin besar, perbedaan  fisiologis mereka, terutama warna kulit, semakin menonjol. Dan tentu saja mendorong orang-orang untuk berkomentar senada.
Awalnya tidak terbersit bahwa Alif akan terganggu dengan  komentar orang-orang di sekitar kami. Tapi seiring dengan perkembangan  daya fikirnya,  saya sadar bahwa dia pasti akan merasakan ketidaknyamanan. Dan benar saja, saya mulai melihat gejala itu. Akhirnya, saya mulai mengintervensi. Saya sadar bahwa saya tidak mungkin bisa meminta orang lain untuk tidak berkomentar atau merubah komentar mereka. Jadi yang saya lakukan adalah meyakinkan anak saya bahwa  tidak ada masalah dengan  warna kulitnya.  Dan saya kemudian mengganti selorohan “mendung dan cerah” dengan “hitam manis”. Saya senang, dia kelihatan lebih nyaman.
Tetapi, ternyata senjata “hitam manis”  saja belum cukup. Suatu saat sepulang sekolah saat TK,  dia mengatakan sesuatu yang membuat saya kaget.
“Bunda, aku mau dong pake hembodi (maksudnya hand bod lotion).”
Tersenyum geli saya bertanya untuk apa.  “Biar kulitku bisa putih kayak adek.”
Jawaban yang membuat saya sadar bahwa  pe-er saya belum selesai.  Sebenarnya jawaban itu sangat membuat haru, tapi  spontan saya tersenyum, mengangguk lalu merangkulnya. 
Kemudian saya  mengajaknya bicara. Saya mengatakan padanya bahwa Allah memang menciptakan manusia di dunia ini dalam berbagai bentuk dan warna. Ada yang tinggi, pendek, rambutnya lurus atau keriting dan lainnya. Begitu juga dengan warna kulit. Saya bilang “bahkan ada lho yang kulitnya  lebih gelap.” Dengan becanda, saya memintanya membandingkan warna kulitnya dengan warna kulit ayahnya. 
Kemudian saya mengingatkannya dengan kisah  Bilal bin Robah. Saya katakan bahwa warna kulit Bilal tidak sedikitpun mengurangi kemuliaannya.  Alif mendengarkan dengan seksama.
“Padahal Bilal item nemen (hitam sekali) ya, bunda.” Katanya polos. Saya spontan tertawa.
“Ya, tapi Bilal adalah sahabat yang dicintai Rasulullah dan dijamin masuk surga lho.” Kata saya meyakinkan. Matanya berbinar. Hati saya diliputi haru.
Pembicaraan itu saya tutup dengan mengatakan padanya bahwa saya begitu menyayanginya.  Alhamdulillah sejak saat itu, dia tidak lagi berbicara mengenai perbedaan warna kulitnya dengan si adek. 
Tentunya komentar orang tidak akan berhenti. Mungkin tidak tentang warna kulit mereka, bisa jadi hal lain. Saya tidak menyalahkan orang-orang itu. Mungkin mereka tidak bermaksud untuk membandingkan.  Tapi, saya juga tidak akan pernah berhenti. Meyakinkan anak-anak  untuk menerima segala yang ada pada diri mereka dengan syukur. Dan tak lupa untuk mengajarkan pada mereka untuk tidak terlalu mempersoalkan penampakan fisik dari teman atau orang yang mereka temui.

No comments: