18.4.14

Pelayan Cilik - Leisure Republika

Anak merupakan peniru yang ulung. Kalimat tersebut sering saya baca dalam buku-buku parenting. Dan saya memang sependapat. Mereka mengamati apapun yang dilakukan oleh orang di sekelilingnya dan menirunya. Begitu juga dengan Raisyah (2) putri saya.
Akhir-akhir ini apapun ucapan saya selalu diikutinya, termasuk kebiasaan sehari-hari yang saya lakukan.

“Nda, maem ayur, enak”, celetuknya ketika mendapati saya dan ayahnya sarapan dengan nasi goreng dan telor ceplok.
Saya memahami maksudnya. Dia selalu saya ingatkan untuk makan sayur, ketika menyuap nasi ke mulut mungilnya. Dilanjutkan dengan penjelasan saya tentang manfaat sayuran bagi kesehatan.
Suatu hari, saya mengajaknya makan malam di sebuah warung seefood. Saya perhatikan dia mengamati sekelilingnya. Sambil sesekali bertanya.

“Nda, apa tu?” tanyanya dengan ekspresi heran.
“Itu lampu mbak. Lampunya bagus ya, bisa kedap kedip,” jawab saya meyakinkan dia.
Beberapa saat kemudian, dia bertanya lagi tentang nama-nama binatang yang terpampang di depan warung dan tak lama setelahnya berganti dengan pertanyaan yang lainnya. Hingga pandangannya tertuju pada pelayan yang hilir mudik melayani pembeli. Rupanya dia tertarik. Hingga sesekali Raisyah menunjuk salah satunya sambil berceloteh.

“Om, buku maem.”
“Iya, Om itu memang tugasnya mencatat di bukunya, nama maem yang nanti akan dibeli mba Raisyah. Kalau sudah, baru deh maemnya dibawa ke sini,” jawab saya sambil menatap matanya.
Raisyah memang mempunyai kebiasaan unik. Dia akan teriak-teriak marah ketika pertanyaannya dijawab tanpa menatap matanya. Mungkin dia berpikir saya tidak memperhatikannya.
Keesokan harinya, seperti biasa setelah bermain, saya tawarkan dia untuk makan siang.
“Yuk mbak maem. Udah siang nih,” ajak saya sambil menggandeng tangannya ke dapur.
Raisyah melepas tangan saya, “Nda, buku maem .”
“Buku maem apa mba?”

Saya kebingungan. Tapi seketika itu juga tersadar, pasti Raisyah ingat dengan penjelasan saya semalam. Terhuyung-huyung saya mencari buku resep di rak buku. Berharap menemukan buku resep lama saya, yang menampilkan juga foto dari resep tersebut.
“Tu dia, Nda,” pekiknya senang, melihat saya menemukan buku resep lama yang berisi gambar makanan.
“Nda duduk, sini,” lanjutnya menyuruh saya duduk di kursi mungilnya.
Penasaran dengan apa yang Raisyah rencanakan, saya ikuti semua perintahnya. Setengah berlari dia mengambil crayon merahnya.

“Nda, apa maem?”
Berlagak seperti pelayanan di warung seafood semalam, dia menawarkan menu pada saya. Dengan menahan senyum saya menunjuk gambar gelas dalam buku resep. Gelas berisi es cendol modifikasi tepatnya, karena memang itu adalah resep es cendol.
Selang beberapa detik, gambar gelas tersebut sudah berubah menjadi warna merah. Rupanya Raisyah sedang menulis pesanan saya.
“Jangan lama-lama ya, Bunda sudah haus,” seloroh saya sambil menahan senyum.
Raisyah mengangguk,” iya.”
Memang benar dia menjawab iya, untuk tidak lama-lama mengambilkan pesanan pada pembelinya. Tapi yang terjadi rupanya, dia berlari ke dapur dan mengambil susu UHTnya di dalam kulkas. Setelah dihabbiskannya, barulah dia menemui sang pembeli.
“Nda, af abis.”
Itulah kalimat yang yang hampir sama diucapkan pelayan semalam pada saya, ketika pesanan gurameh bakar saya habis.
“Maaf bu, guramehnya habis.”

No comments: