7.6.17

Surat-Surat yang Terlambat Sampai - Majalah Gadis


Aku menunduk gamang sambil memegang kertas di tanganku. Kelas masih sepi. Hanya ada seorang saja yang menemaniku sambil matanya menatap tajam ke arah kertas yang ada dalam genggamanku. Milli. Cewek berkulit putih itu, teman sebangkuku sejak duduk di kelas sepuluh IPA Satu.
            “Apa susahnya menyelidiki, tentang seseorang yang telah menaruh surat-surat itu di lokermu? Jangan-jangan… secret admirer…” kata-kata terakhir Milli yang dibisikkannya di telinga kiriku itu sungguh mengagetkanku. Aku hampir terlonjak karenanya.
            “Percuma, Mil. Tulisan dengan huruf terbalik-balik itu, tak kumengerti sama sekali maknanya.” Aku melipat surat itu, lalu memasukkannya ke dalam tas.
            ”Tapi ini sudah keempat kalinya!”

            Bel keburu berbunyi. Teman-teman yang tadi bercengkerama di luar, serentak masuk ke dalam kelas, mengambil tempat duduk masing-masing dengan tertib. Seperti pengunjung yang sudah lama antri untuk memasuki Wahana Kora-kora di Dufan. Bu Tari, guru Fisika itu sudah masuk ke ruang kelas. Kayon juga. Cowok kidal yang selalu menatapku dengan sengit itu. Sejak ia memergokiku sedang menggunjingkan ’kelebihan’ tangan kirinya itu di kelas, ia sepertinya membenciku. Aku segera mengalihkan pandanganku ke tembok, begitu tatapanku bersirobok dengan mata sipit Kayon. Tentu saja sebelum aku gelagapan, karena dipanggil secara mendadak oleh Bu Tari untuk mengerjakan PR nomer satu di depan kelas.
@@
            Aku tetap melanjutkan hidupku, dan tak terganggu lagi dengan kedatangan surat-surat aneh yang tak terbaca, karena hurufnya yang serba terbalik itu. Sampai suatu siang, Milli berlari-lari kecil menjumpaiku. Mulutnya masih terengah saat ia berteriak antusias kepadaku.
            ”Humprah... Demi hadiah yang kamu janjikan kapan hari itu, aku akhirnya bisa memecahkan teka-teki surat di lokermu!”
            ”Jadi siapa pengirimnya?”                                                                                           
            ”Siapa lagi? Kayon!”
          
  Dengan menggebu, Milli mengungkapkan teorinya. Penjelasannya sudah seperti penjelasan Bu Tari saat menjelaskan hukum kekekalan energi. Teorinya tentang ’Mirror Writing’ benar-benar berhasil membuatku ternganga. Tulisan dalam kertas-kertas yang beberapa hari belakangan telah menjadi tamu di lokerku, memang sulit dibaca dengan mata telanjang. Namun, lain halnya apabila dibaca melalui cermin.
            ”Kenapa harus dibaca dengan cermin?” Mukaku mungkin terlihat sangat bodoh saat menanyakan hal itu di depan Milli yang berotak cemerlang.
            ”Kamu pernah melihat mobil Ambulance? Kenapa tulisan Ambulance yang ada di depan mobil selalu terbalik?” tanya Milli berapi-api.
            ”Agar pengemudi yang ada di depan mobil ambulance segera memberi jalan. Sifat cermin adalah menciptakan ’bayangan’ yang berkebalikan dengan obyeknya, kanan menjadi kiri, kiri menjadi kanan. Pengemudi yang ada di depan ambulance akan membaca tulisan AMBULANCE dengan jelas dari kaca spion,” jawabku diplomatis.
”Nah! Sekarang mari kita baca bersama-sama, tulisan dalam surat-surat yang nyasar ke lokermu itu melalui cermin!” ajak Milli dengan antusias.
            ”Tapi tunggu!! Apa hubungannya dengan Kayon coba?” aku masih saja belum mengerti dengan jalan pikiran sahabatku itu.
         
   Milli menatapku dengan gemas. Lalu ia menjelaskan bahwa cara menulis dengan huruf terbalik-balik tersebut ada kaitannya dengan kekidalan Kayon. Seseorang yang kidal, secara alami memiliki cara menulis dengan teknik dari kanan ke kiri. Huruf yang ia goreskan, juga akan ditulis terbalik secara horisontal.
            ”Kamu pernah membaca artikel tentang lukisan ’Vitruvian Man’ yang dibuat oleh Leonardo da Vinci? Catatan di atas dan di bawah lukisan tersebut sulit dibaca dengan mata telanjang, namun sangat jelas dibaca melalui cermin. Mirror Writing, Isya! Leonardo juga seorang kidal! Kamu masih bertanya apa hubungannya dengan Kayon?”
            Lagi-lagi aku cuma bisa menggeleng bodoh. Milli bertambah gemas. Referensi pengetahuan yang kumiliki memang sangat payah, kalau dibandingkan dengan Milli yang kutu buku itu.
@@
          
  Maka sore itu sepulang sekolah, aku dan Mili segera sibuk menerjemahkan teka-teki isi surat yang sengaja dimasukkan seseorang ke dalam lokerku. Kami duduk bersisian di sebuah kamar yang penuh berjejalan dengan buku-buku. Tentu saja di kamar Milli, yang hanya beda-beda tipis dengan kios lapak buku bekas yang ada di sepanjang Jalan Stadion Selatan.
            AKU MENYAYANGIMU, SELALU.
            Kami membaca kalimat pendek dalam surat pertama yang dikirim ke lokerku. Mataku saling bertatapan dengan mata Milli, sebelum akhirnya tawa Milli meledak, membuat wajahku yang semula dipenuhi rasa penasaran menjadi cemberut seketika.
            ”Astaga naga... jadi diam-diam Si Introvert itu naksir sama kamu, Isyana?” tanya Milli setelah berhasil meredakan tawanya. Namun senyum jahil masih menghiasi wajahnya.
            Aku meraih bantal dan memukul punggungnya dengan gemas. Milli mengaduh-aduh sambil memintaku untuk meneruskan membaca isi surat yang kedua. Aku menyetujui permintaannya dengan satu syarat: Ia tak lagi menertawakanku.
        
    TOLONG, MAAFKANLAH AKU. PLEASE! AKU INGIN BERBUAT YANG TERBAIK UNTUKMU.
         
   ”Ini justru terbalik, Milli. Seharusnya aku yang minta maaf kepada Kayon. Bukankah aku yang selalu mengejek kekidalannya? Bahkan membicarakan keanehannya itu di belakang dia?”
            ”Tunggu dulu Isya. Mungkin ia meminta maaf justru untuk ’memberi muka’ kepada orang yang sudah berbuat salah.”
            ”Memberi muka? Maksudmu?”
            ”Iya, dia kan tertarik kepadamu. Makanya dia nggak mau mempermalukanmu dengan menyuruhmu meminta maaf kepadanya di depan teman-teman. Itu namanya berjiwa besar.”
            Aku mengangguk-angguk, meskipun sejatinya kurang mengerti dengan penjelasan Si Jenius itu. Ah, biarlah lain kali akan kutanyakan. Sekarang lebih baik meneruskan lagi dengan membaca surat yang ketiga dan keempat.
            BAGAIMANA KALAU HARI INI KITA KETEMU DI KAFE JINGGA? MEJA NOMER 13, SUDUT KAFE.
        
    ”Dia mengajakmu kencan, Isya. Tapi ini sudah seminggu yang lalu. Sudah terlambat untuk datang.” Tak ada ekspresi mengejek dari muka Milli. Yang ada justru ekspresi penyesalan. Entah kenapa hatiku jadi berdebar-debar. Kayon mengajakku untuk bertemu? Ini sungguh berita yang luar biasa. Aduh Mama... tidakkah ia tahu, bahwa alasanku sering membicarakannya, justru karena aku juga sangat tertarik kepadanya?
            AKU INGIN MENITIPKAN KEHIDUPANKU DI TUBUH MAMAMU. DENGAN BEGITU KITA AKAN SELALU BERSAMA.
      
      ”Kalimat dalam surat terakhir agak aneh, Mil. Kayon dan Mamaku belum saling kenal!” Kutatap wajah sahabatku dengan seksama. Berharap otaknya yang cemerlang itu akan berhasil memecahkan maksud Kayon dengan isi suratnya yang keempat itu.
            ”Bisa saja Kayon itu anak dari sahabat Mamamu? Kamu kan tidak pernah tahu dan selalu tidak mau tahu?”
            Aku melengos mendengar sindiran Milli itu.
            ”Iya.. iyaaaa.... Sekarang apa saranmu?” tanyaku penuh harap.
            ”Temui Kayon! Tunjukkan surat-surat itu.”
            Mataku membeliak lebar mendengar usul Milli yang tak masuk akal itu. Aku, menemui Si Introvert itu? Beuh...
@@
            Pertemuan antara aku dan Kayon akhirnya terjadi juga. Di kafe Jingga, seperti yang telah ditulisnya di surat yang ketiga. Tentu saja dengan bantuan Milli. Selain pintar, ternyata Milli juga berbakat sebagai Mak Comblang. Hahay... aku hampir tersedak mendengar kata-kata itu. Di jaman secanggih ini, dengan fasilitas banyak social media, ternyata kencanku dengan seorang cowok masih diatur oleh seorang Mak Comblang.
Tetapi tidak seperti saat memecahkan soal matematika dan fisika. Untuk urusan memecahkan kebekuanku dengan Kayon, Si Milli telah mengalami kegagalan yang fatal.
”Aku tidak pernah menulis surat-surat yang kau tunjukkan itu!”

Mataku terbeliak mendengar jawaban Kayon itu, sebelum kemudian meredup. Setelah dengan susah payah, aku menjelaskan arti kalimat demi kalimat dari surat-surat itu, dia malah membantahnya? Aku betul-betul menjadi salah tingkah di depannya. Kalau ada jus wortel yang dikombinasikan dengan buah tomat, mungkin paras mukaku sudah sewarna dengan itu. Parah betul. Dalam hati, aku mengutuk habis-habisan usul dari Milli.
”Jadi kamu nggak menginginkan pertemuan kita di kafe ini?” kuberanikan bertanya lagi, sambil menatapnya sekilas.
Lagi-lagi Kayon menggeleng sambil mengangkat bahu. Mukanya datar banget. Beuhhh...
Pertemuan itu berakhir dengan punggung Kayon yang bergerak menjauhiku. Aduh Mama.... Mau ditaruh di mana mukaku kalau nanti bertemu dengan Kayon lagi?
@@

Hari ini aku tak melihat Kayon di kelas. Juga hari berikutnya. Kupikir ini lebih baik untukku, setelah peristiwa memalukan di Kafe Jingga tempo hari. Kata ketua kelas, Kayon pindah ke Singapura untuk menemani Mamanya yang menderita penyakit ginjal kronis dan sedang berobat ke sana. Siapa yang peduli? Aku sudah move on dari cowok Introvert itu, meskipun bayangannya terkadang sesekali masih suka melintas di pikiranku. Tapi lagi-lagi justru Milli yang mengusik ketenangan hidupku.
”Hey... Jadi kamu sudah nyerah Sya?”
”Maaf, ini tentang apa ya? Kalau tentang Si Kayon...”
”Dia sudah pergi, Isya. Forget him. Tapi ini masih tentang surat-surat yang ada di lokermu. Kemarin sore sepulang rapat OSIS, tanpa sengaja aku melihat seorang adik kelas memasukkan sehelai kertas ke lokermu. Wajahnya cantik, meskipun agak pucat.”
”Hah? Jadi pelakunya cewek? Jangan-jangan dia penyuka sesama....”
Milli buru-buru menutup mulutku dengan telunjuknya yang lentik. Kalimat-kalimat bijaksana segera berhamburan dari bibirnya. Agar aku berpikiran positif, agar bersedia membantunya menyelesaikan masalah pelik itu. Hai... surat-surat itu kan masalahku, kenapa justru Milli yang repot? Dasar sok detektif.

”Ayolah Isya, paling tidak kita harus mengetahui isi surat yang kelima yang ditulis gadis itu. Siapa tahu, kita akan mendapatkan jawaban dari suratnya yang kelima?”
”Itu lebih seperti memo, Mil. Surat kok tidak ada identitasnya. Dari siapa? Untuk siapa?” keluhku beruntun. Aku sudah kepalang patah hati, menyadari bahwa Kayon tak ada hati kepadaku.
Aku masih ingin mengomel panjang pendek, ketika lenganku sudah digamit oleh lengan Milli. Ya Tuhan... gadis kawan akrabku itu menyeretku dengan setengah memaksa. Ke mana lagi kalau bukan ke arah loker.
Lalu seperti biasanya, kertas dengan huruf terbalik-balik itu berhasil dibaca oleh Milli dengan bantuan cermin.
KE MANA, KAK KAYON DUA HARI INI? KUTUNGGU KAKAK HARI INI DI KAFE JINGGA PUKUL LIMA SORE. JANGAN TERLAMBAT, JANGAN PULA DATANG LEBIH AWAL. AKU AKAN MENJELASKAN ALASANKU MEMUTUSKAN HUBUNGAN KITA.
Aku dan Milli saling berpandangan. Jadi gadis itu mantan kekasih Kayon. Tetapi kenapa ia salah meletakkan suratnya dalam lokerku?
”Lokermu bersebelahan dengan loker Kayon. Gadis itu telah salah sejak awal dalam meletakkan surat-suratnya. Bukankah kau juga pernah melakukan kesalahan yang sama?”
Milli seperti bisa membaca jalan pikiranku. Aku jadi ingat, dulu pernah beradu mulut dengan Kayon, gara-gara salah meletakkan tasku di lokernya, sehingga ia terpaksa meletakkan tasnya di lokerku. Aku manggut-manggut.
”Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku.
”Kita temui gadis itu nanti sore di Kafe Jingga”
@@

Dan, di sinilah aku. Di Merlion Park, di pinggir Singapore River, seberang gedung Esplanade. Aku berjanji untuk bertemu dengan Si Introvert itu di dekat patung Merlion. Untuk apa lagi, kalau bukan untuk urusan kelima surat untuknya yang nyasar ke lokerku.
Dua hari sebelumnya, aku dan Milli telah bertemu dengan gadis itu. Rauda namanya. Ia begitu terkejut melihat kedatanganku dan juga Milli di Kafe Jingga. Setelah Milli menjelaskan tentang kelima suratnya yang salah alamat, Rauda pun mulai bercerita. Tentang ia dan Kayon yang sama-sama kidal. Tentang pertemuan mereka di club ANTARI (Anugerah Tangan Kiri). Lalu mereka saling jatuh cinta, sebelum akhirnya Rauda memutuskan Kayon secara sepihak, tanpa ada satu penjelasan pun kepada cowok itu.
”Jadi, apa alasanmu memutuskan hubungan?” tanyaku tanpa basa basi. Milli menyodok perutku dan aku meringis karenanya.
”Aku tak mau membuatnya sedih Kak, karena hidupku tak akan lama lagi. Aku penderita Paru-paru Obstruktif Kronis,” jelasnya sambil menunduk.
Rauda mengirimkan surat-surat pendek itu, karena ingin meminta maaf kepada Kayon. Ia juga ingin menjelaskan alasannya meminta putus dari Kayon. Dan satu lagi yang lebih penting, ia ingin menyumbangkan ginjalnya kepada Mamanya Kayon, bila kematian telah menjemputnya.
Entah kenapa hatiku tiba-tiba berdesir. Aku jadi terkepung oleh rasa haru dan merasa kasihan dengan nasib gadis itu. Di depan Milli, aku berjanji akan menemukan Kayon di Singapura, untuk menyerahkan surat-surat yang telah ditulis oleh Rauda. Lalu Rauda juga mengutarakan niatnya untuk menuliskan selembar surat lagi dan menitipkannya kepadaku. Berdua dengan Milli, kutunggui gadis itu menulis surat.

Kugenggam erat surat yang dititipkan oleh Rauda untuk Kayon. Kemarin, seperti anak kecil, aku membujuk Mama agar diperbolehkan ikut terbang ke Singapura. Sebetulnya, Mama sering menawariku untuk ikut, saat Mama sedang ada urusan ke Singapura. Seminggu dua kali, Mama pergi ke Singapura untuk bertemu dengan rekanan bisnisnya. Mama keheranan, karena sebelum-sebelumnya aku selalu menolak ajakannya, dengan alasan tak mau ketinggalan pelajaran.
”Ini menyangkut urusan kemanusian, Ma. Please!” Mama hanya tersenyum sambil mengucel rambutku. Jadilah aku ke Singapura dengan penerbangan yang pertama.
Setengah jam sudah aku menunggu kedatangan Kayon. Aku hampir putus asa, ketika tiba-tiba kulihat kelebat bayangan tubuhnya, dari arah gedung Esplanade, sedang menyeberangi jembatan menuju ke Merlion Park. Aku berhasil meneleponnya, setelah mendapatkan nomer ponsel Kayon dari pegawai Tata Usaha sekolah. Tentu saja dengan bantuan Milli.

”Kamu ingin menemuiku untuk sebuah urusan penting? Urusan apa?” tanya Kayon dingin.
”Tentang surat-surat itu, ehm...”
”Bukankah urusannya sudah selesai? Bukan aku yang menulis surat-surat itu.”
”Iya, memang bukan kamu, tapi seorang gadis bernama Rauda.. Sekarang aku membawa surat yang kelima dan keenam untukmu.”
Mendengar kata Rauda, mata Kayon terlihat lebih menyipit, lalu kedua bibirnya mengatup seperti menahan sebuah kesedihan. Aduh.. Mama. Kenapa aku masih merasa cemburu? Kembali kusadari bahwa ternyata aku telah gagal move on. Kuserahkan kedua surat Rauda tanpa berani menatap wajahnya lagi.
Untuk beberapa jenak ia terdiam setelah membaca surat, lalu mengambil napas panjang.
”Apa yang dikatakan Rauda?” tanyaku tak sabaran, meskipun aku sudah bisa menduga-duga tentang isi surat Rauda yang terakhir.
”Ia ingin menyumbangkan ginjalnya untuk Mama,” bisik Kayon hampir tak terdengar.
Aku menggigit bibir tanpa bisa berkomentar apa-apa. Sejenak aku dan Kayon sama-sama terdiam, sebelum dering ponsel dari tas punggungku mengacaukannya. Ternyata dari Milli.

”Isya, Rauda meninggal dunia Sya. Kamu harus bisa mengajak Kayon pulang!” Ucap Milli dari sebrang sana sambil diselingi tangis. Aku berusaha menghentikan tangis Milli sambil menanyakan kebenaran berita itu. Dan berita dari Milli ternyata benar. Lututku tiba-tiba goyah. Telepon belum sempat kututup karena mendadak tanganku terkulai lemas. Tak tahu lagi aku bagaimana caranya menyampaikan berita itu kepada Kayon.
”Telepon dari siapa?”
”Dari Milli. Rauda sudah... meninggal... Kay,” ucapku lirih dan terbata. Maafkan aku, karena terlambat menyampaikan surat-surat itu. Lanjutku dalam hati.
Yang terjadi selanjutnya adalah dua tubuh yang diam membeku seperti patung ikan berkepala singa di Merlion Park. Aku tak bisa mengira sebesar apa perasaan kehilangan yang sedang melanda hati Kayon. Sekarang ia telah kehilangan Rauda. Mungkin sebentar lagi ia akan kehilangan Mamanya yang tak kunjung mendapatkan pendonor ginjal. Yang jelas, perasaan bersalahku ribuan kali lebih besar. Jauh melebihi perasaan bersalahku saat menggunjingkan ‘kelebihan’ tangan kirinya itu bersama teman-teman di kelas beberapa waktu lalu.@end@



1 comment:

Mc Assaifi said...

cerita fiksinya keren banget..