27.7.17

Gerhana Dua Pekan - Taman Fiksi

Luna menunda langkah untuk memasuki lobby demi mengamati laki-laki yang tengah lekat menatap dinding kaca itu.  Kedua tangannya kaku menghujam ke dalam saku celana.  Mata laki-laki itu menyimpan mendung.  Seperti kompak dengan cucuran hujan di luar sana.
Dari film-film romantis yang pernah dilihatnya, ada semacam gelombang hawa hangat yang terkirim dalam sebuah tatapan yang membuat si objek cepat atau lambat akan sadar.  Dan Luna terlambat untuk mengalihkan pandangannya.  Laki-laki itu sudah memutar badan tepat menghadap padanya.
“Hai.”
Sapaan itu nyaris bersamaan saling mereka lontarkan.
“Mau jemput Ara?  Dia tidak bilang kalau sedang kunjungan ke klien?”
Gerakan jari menggaruk ikal di belakang telinga itu terlihat klise bagi Luna.  Kilas seringai malu di wajah Sanya justru lebih mewakili isi hati laki-laki itu.  Luna menikmati gerak-gerik canggung yang tersaji di hadapannya.
“Aku pikir mungkin Ara balik dulu ke kantor.”
Luna menunjuk jam dinding di atas pintu masuk.  Jarum pendeknya bertengger tepat di angka sembilan.
“Sudah selarut ini.  Hanya manusia bodoh yang lebih memilih berada di kantor daripada tidur nyaman di rumah.”
Satir kalimat itu sebetulnya Luna tujukan untuk dirinya sendiri.  Dia bermaksud menghibur Sanya dengan gurau menyedihkan itu.
Berhasil.  Wajah Sanya sedikit lebih cerah dengan seulas senyum hasil pancingan canda Luna.
“Kalau begitu, aku antar pulang?  Masih hujan di luar.”
Luna menggeleng cepat.
“Kamu kan, sudah tahu di mana rumahku.  Hanya 15 menit jalan kaki dari sini.  Aku bawa payung.  Lagipula mobilmu juga hanya bisa sampai ujung gang.  Tawaran menumpang yang tanggung.”
Sanya terkekeh.  Lagi-lagi Luna menikmatinya.  Suara tawa renyah yang begitu dia rindukan.
“Kalau begitu temani aku makan, bagaimana?  Kafe sebelah  masih buka.  Sekalian kamu menunggu hujan sedikit mereda.”
“Kamu masih penggila pasta, kan?”  Sanya melancarkan godaan untuk menghilangkan ragu yang tersirat di kerut kedua alis Luna.
Kepalang tanggung buat Luna.  Apa salahnya menjalankan peran sebagai manusia bodoh?  Label yang belum lama tadi dia sematkan di dahinya sendiri.  Dan apa salahnya sedikit mengulang masa lalu?
“Baiklah, kalau begitu.”
Kakinya pun bergerak mendahului Sanya.
***
Ketukan jari pada mejanya membuat Luna mengangkat wajahnya.  Entah sudah sejak kapan Ara berdiri bersandar pada pagar kubikel yang mengitari meja Luna.
Luna tidak menyadari keberadaan segelas jus di ujung mejanya kalau saja Luna tidak menunjukkannya.
“Makasih ya, sudah menemani Sanya semalam.”
Luna menurunkan headset dari telinganya.  Ada secuil kecewa karena Sanya menceritakan peristiwa semalam pada kekasihnya.  Jika tidak ada rahasia, tidak ada lagi yang istimewa.
“Eh, iya.  Sama-sama.  Makasih juga sudah ditraktir sama cowok kamu.”
Luna mengamati sosok Ara yang selalu terlihat cantik, chic, dan menganut gaya mode yang berlawanan dengannya.  Sepatu berhak stiletto yang tidak akan pernah sanggup dipakainya.  Setelan blazer yang membuatnya sesak hanya dengan melihatnya.  Juga tas tangan yang tidak akan mampu memuat segala peralatan tempur yang biasa Luna bawa.
“Kamu baru datang, atau baru mau pergi?”
Ara memutar bola matanya.  Bahunya terangkat dan terhempas seiring hembusan napas panjangnya.
“Baru mau berangkat.  Makanya aku buru-buru makan siang, dan masih sempat belikan kamu ini.”  Ara mendorong gelas jus dengan ujung jarinya.  “Jeruk kiwi.  Kesukaan kamu, kan?”
Ara tersenyum menggoda dengan melambai-lambaikan jemarinya dan menghilang di balik pintu.
Luna tertegun.  Jus yang sama dengan yang dia pesan semalam, saat menemani Sanya.
Tiba-tiba sudut matanya menangkap kedip pada pesawat telepon mejanya.  Sengaja Luna mematikan deringnya diwaktu-waktu genting diakhir bulan seperti ini.  Terlanjur melihat, mau tidak mau Luna mengangkat gagang sewarna gading itu.
“Luna, minta tolong ya, temani Sanya ke pameran buku di Gelora.  Kamu suka berburu buku, kan?”
“Eh, ya.”
Rupanya Ara yang menelponnya dari meja resepsionis di lobby.  Dia sedang menunggu jemputan mobil kantor.
“Kalau begitu kamu akan lebih betah menemani Sanya ketimbang aku.”
Berikutnya hanya ‘eh, ya’ yang keluar dari mulut Luna.  Kata Ara, Sanya sudah setuju, dan akan menjemput kapan saja Luna siap.
Luna hanya tidak cukup yakin, akan sejauh mana dia bisa menjaga rasa di hatinya.
***
Luna bergegas dan nyaris melompati setiap genangan air di setapak beton yang membawanya ke ujung gang.  Celetuk menggoda dari mulut sekawanan pemuda di pos ronda di mulut gang tidak diindahkannya.
“Beginilah nasib jomblo paling tenar sekampung.  Memang kenapa kalau sekali-kali malam minggu keluar rumah?”  Gerutu Luna bercampur geram lembut aliran udara dari lubang AC.
“Mungkin mereka iri.  Teman kencanmu ganteng begini,” kelakar Sanya memancing tawa ragu Luna.
Kencan?  Begitukah Sanya menganggap ‘hangout’ berdua mereka beberapa hari ini?  Luna mengenal kencan sebagai bentuk dari suatu hubungan spesial.  Bolehkan aku menganggap hubunganku dengan Sanya ini istimewa?  Luna menyimpan dialog penuh tanya dalam benaknya.
“Hey,” sentuhan jari Sanya pada punggung tangan Luna jelas membuat jantungnya memompa darah lebih cepat.
Kening Sanya berkerut saat menangkap kejut di bahu Luna.  Pandangannya bergantian antara kemacetan malam minggu dan Luna.
“Jangan melamun.  Ayo, tunjukan arah warung steak andalan kamu itu.”
Luna mengulas senyum tipis.  Semburat merah jambu di pipinya terselamatkan oleh minimnya cahaya yang masuk ke dalam mobil.  Dia malu sendiri, saat menyadari romansa yang dia harapkan mungkin hanya sebatas khayalannya saja.
***
“Luna, sesibuk itukah Ara?  Sampai akhir minggu pun dia harus keluar kota  untuk kunjungan nasabah?”
Luna masih ingat roman muka itu meski sudah bertahun berlalu.  Raut wajah kesal dan tidak sabaran yang dulu sering Sanya perlihatkan tiap kali Luna membuatnya kecewa.
“Setahuku ada orang baru di unit Ara.  Sepertinya Ara yang diminta Pak Bos untuk mengenalkan orang baru itu ke klien-klien.  Terutama klien besar.”
Mungkin Sanya bisa menerima penjelasan Luna.  Meskipun rahangnya masih mengeras dan geliginya menggigit bibir seakan geram.
“San, Ara tahu, kalau malam ini kamu keluar sama aku?”
Seperti tersengat sesuatu, tiba-tiba saja warna wajah Sanya berubah.  Seringai bibirnya mengiringi tatapan mata yang bersinar bengal.
“Tidak.”
Hanya ‘Oh’ yang keluar dari mulut Luna.  Dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.  Mungkin Luna sudah boleh merasa senang karena akhirnya ada satu rahasia lagi yang menyenangkan untuk disembunyikan.
“Kamu tahu?  Dua bulan yang lalu aku melamar Ara.”
“Oh, selamat ya.”  Cih, Luna sebal dengan basa-basi spontan yang meluncur begitu saja.  Padahal kesenangannya sedang menguap perlahan.
Tak disangka Sanya menggeleng.  Garpu di tangan kirinya mengetuk piringan hotplate membentuk irama yang aneh.
“Ara belum menjawab apa-apa, Luna.  Dia hanya meminta supaya aku menunggu.”
Jauh di dalam dada Luna seperti tercubit.  Heran.  Dia seperti bisa merasakan gemuruh di dada Sanya sekarang ini.  Seorang laki-laki mapan dengan tampang lumayan diminta menunggu saat melayangkan pinangan.  Sudah gilakah kamu, Ara?
Kalau saja Ara tahu.  Sesal yang yang harus Luna tanggung karena ceroboh telah melepaskan Sanya dulu.  Saat mereka masih berseragam putih abu.
“Lalu, kamu merahasiakan ini dari Ara, karena ingin membalasnya?”
Sanya memincingkan mata sebelum melepaskan tawa.
“Kamu juga main rahasia, kan?  Ara tidak tahu kan, kalau kita pernah pacaran waktu SMA?”
Luna bisa merasakan wajahnya menghangat.
“Informasi tentang kita pernah pacaran waktu masih abg tidak terlalu penting.”
Tawa Sanya semakin gelak.
“Aku masih ingat waktu kita bertemu lagi.”
Ya, Luna juga tidak bisa lupa bagaimana dia nyaris gagal menghembuskan udara yang keluar dari paru-parunya.  Mungkin seperti itu rasanya menderita asma, pikir Luna.
Waktu itu Luna terpaksa menjadi penerima tamu di acara Gala Dinner yang diadakan perusahaannya.  Semua staff back office bertugas di acara tersebut, tanpa kecuali.  Lalu Ara, sebagai staff marketing, menjadi tamu yang datang bersama lelakinya, Sanya.
“Padahal kamu cukup bilang kalau kita pernah satu sekolah.  Jadi kita tidak perlu pura-pura belum saling kenal.”  Akhirnya tawa Sanya berhenti juga.
“Lalu, kalau Ara tanya-tanya tentang kamu waktu SMA dulu, bagaimana?  Aku akan lebih sulit lagi menutup-nutupi…”
Sanya memotong.  “Ya, mukamu memang terlalu jujur.  Masih seperti dulu.”
“Jadi, lebih baik seperti ini, kan?”  Luna melepaskan napasnya perlahan untuk menenangkan degup aneh di dalam dadanya.
Luna menganggap diamnya Sanya sebagai suatu penerimaan.  Dia tidak ingin menyiksa diri dengan menebak-nebak apa yang sedang bermain dalam benak Sanya. 
“Berbeda denganmu dulu.  Menjalin hubungan dengan Ara seperti naik roller coaster dengan  mata tertutup.  Kamu tidak akan pernah tahu apakah di depan sana kamu akan terbalik, atau menanjak tajam hingga terengah, atau bahkan terjun bebas tanpa persiapan.  Adrenalinmu memang akan meningkat, tapi sungguh kadang rasanya begitu memualkan.”
Luna menatap bahu Sanya yang luruh.  Dia ragu apakah saat ini dia berada di waktu dan tempat yang tepat?  Jika ada yang bisa disebut sebagai suatu kesalahan, mungkin malam itu.  Malam saat Ara tanpa sengaja mempertemukan kekasihnya dengan cinta masa remajanya.
Tapi mau tidak mau Luna tergoda untuk bertanya.  “Denganku dulu bagaimana?”
Jawaban Sanya membuat Luna menyesal telah bertanya.
“Denganmu dulu, aku selalu tahu.”
Kemudian genderang di dada Luna semakin riuh bertalu.
***
“Luna,” Ara berdiri setengah merunduk di samping meja Luna.  Dia tidak ingin terlihat dari dalam ruangan Pak Bos.
Luna memutar bangkunya dan mendapati sebuah buku mendarat di pangkuannya.
“Apa ini?  Buat aku?”
“Buat Sanya.”  Jawab Ara dengan setengah berbisik.
Lalu cerita Ara mengalir dengan cepat.  Sanya tidak menjawab panggilan telepon dan tidak membalas pesan darinya.  Ara berkesimpulan kekasihnya itu marah.  Dan buku sebagai usaha untuk menawar hatinya.
Luna tidak tahu harus bagaimana menanggapi cerita Ara.  Mana mungkin Luna bilang kalau seharian kemarin dia bersama Sanya mengunjungi hampir semua museum yang ada di Jakarta?
Justru Luna merasa sangat buruk karena kemarin dia merasa tersanjung tiap kali Sanya mengacuhkan dering telepon selulernya.  Dan semakin besar kepala ketika akhirnya Sanya bahkan mematikan teleponnya.  Berbeda dengan detik ini, sehari yang lalu Luna merasa istimewa.
“Kamu mau aku yang berikan buku ini ke Sanya?”
Ara menggeleng.
“Hanya ingin tahu.  Dia suka tidak buku sejenis ini?”
Sekilas Luna sudah membaca sampul bukunya dan sekali lagi dia mengamatinya.  Biografi seorang tokoh ekonomi dunia.  Ara benar-benar seorang marketing sejati.  Sayangnya dia kurang mengenali selera baca kekasihnya.
Luna tersenyum.  “Dia akan suka buku apapun yang kamu beri.”
***
“Justru kemajuan buat Ara.  Sebelum-sebelumnya dia selalu memberi benda-benda yang hanya menempel di badan.  Bukan benda-benda yang meninggalkan kesan.  Seperti buku, misalnya.”
“Kamu sekarang suka biografi?” ujar Luna menyela.
Di tempat yang berbeda Sanya menggeleng.  Lalu menjawab, ‘tidak’, saat sadar lawan bicaranya tidak bisa melihat gelengan kepalanya.
“Tapi aku menghargai usaha Ara.”
Luna menyimpan tanggapannya dalam hati.  Ada sedikit sebal mendengar kesan nada membela dalam ucapan Sanya.
“Lalu, kamu memang marah pada Ara?”
Hela napas tertahan tertangkap oleh telinga Luna.
“Bukan marah.  Hanya butuh waktu untuk berasa dan berpikir.”
Apakah ada aku dalam alam pikirmu?  Tentu saja Luna hanya melabuhkan pertanyaannya dalam angan.
“Tidak menjawab telepon dari Ara juga bukan marah namanya?”
“Itu karena aku sedang bersama kamu, Luna.”
Mungkin kemudian Sanya sadar kalau ucapannya keliru.  Karena setelah itu keduanya terdiam.
Luna memainkan ikal kabel telepon dengan gelisah.  Pandangannya lepas membentur daun pintu ruangan Pak Bos.  Sedang ada meeting di balik pintu itu.  Ada Ara juga di situ.
Kalau saja dulu Luna tidak berkeras mengakhiri hubungannya dengan Sanya setelah lulus SMA, mungkin tidak akan pernah ada Ara yang satu kantor dengannya, ataupun Ara-Ara yang lain.  Luna begitu mengenal hati Sanya, seperti dia memahami betul hatinya sendiri.
“Luna.”
Luna terhenyak saat Sanya mengulangi panggilannya.
“Andai boleh berandai-andai.  Kalau saja dulu aku lebih berkeras dan tidak menyerah begitu saja dengan kemauan kamu.  Mungkin cerita kita akan berbeda.”
Hey…, Luna jengah saat menyadari ucapan Sanya yang sewarna dengan suara dalam benaknya.  Namun, berandai-andai adalah godaan setan.  Dia harus menyingkir sekarang.
“San, Ara sudah selesai meeting.  Jemput dia sekarang.”
***
“Aku bakal kangen sama kamu, Na.”
“Kita masih bisa janjian ketemu, kapan saja, Ra.”
Luna merasakan telapak tangannya mulai basah dalam genggaman Ara.  Tidak, dia tidak sedang gelisah.  Bahkan dari seluruh staff di departemennya, hanya Luna yang tidak terkejut dengan berita pengunduran diri Ara.  Semalam Sanya memberitahunya.
“Bersama Ara memang penuh kejutan.  Rupanya dia sibuk belakangan ini untuk mempersiapkan penggantinya.”  Bara bahagia dalam kata-kata Sanya tidak menyisakan apapun di dada Luna.
“Tanpa berbicara denganku, dia sudah memikirkan semuanya.  Dia ingin fokus mempersiapkan pernikahan kami.  Dia menjawab ‘ya’ atas lamaranku tanpa berkata ‘ya’, Na.”
Luna tidak dapat mengingat gumam klise apa yang dia katakan pada Sanya.  Dia hanya merasa gerhana itu sudah beranjak pergi.  Dua pekan berperan sebagai bayangan, kini dia tidak lagi menghalangi sang matahari.

*****

Coklat Koin - CoGirl Web

‘Selamat, ya…’
Pesan pendek itu tergores dengan tinta gel biru, diatas kertas toska berbentuk wajik. Kecil saja. Tersemat dengan benang wol biru tua yang mengikat sekantong cokelat koin. Beta tahu siapa pengirimnya tanpa perlu melihat gaya tulisan yang sudah sangat dikenalnya itu. ALFA.
Alfa mulai suka memberinya cokelat koin sejak Beta masih TK. Tiap ada tes semester dan pulang lebih awal, Alfa akan menjemputnya. Menunggu dengan sabar di pagar sekolah sampai Beta keluar dari kelas dan berlarian menghampirinya. Bukan Alfa yang disambutnya dengan girang, melainkan dua keping cokelat koin di tangan Alfa.
“Dari kakak kelas, ya? Hebat loh, baru dua minggu jadi murid baru, kamu sudah ditaksir kakak kelas.”

Mia ikut terkejut ketika melihat Beta mengeluarkan kantong cokelat berbungkus kertas emas dan perak itu dari laci meja. Tapi melihat muram di wajah Beta membuat Mia buru-buru menutup mulutnya yang sudah setengah terbuka. Dia sudah bersiap hendak memekik norak andaikata Beta pun melakukan hal yang sama. Namun hanya helaan napas yang terdengar berat saja yang dikeluarkan Beta. Kantong cokelat koin tadi berpindah ke dalam ransel Beta, tanpa keinginan untuk membukanya.
Sementara di balik kaca jendela, seseorang memperhatikan dan kemudian pergi dengan senyum tertahan di wajahnya.

@@

Beta menatap lekat wajah Mia. Mulutnya terkatup rapat namun matanya bergerak energik. Sesekali memincing, seolah ingin menembus isi kepala kawan barunya itu. Bisakah Mia menyimpan rahasia? Beta mungkin bisa mengabaikan teman-temannya yang lain, tapi mana mungkin dia tidak mengacuhkan Mia yang duduk sebangku dengannya.
Baru saja Mia bercerita kalau teman-teman tahu tentang pemberian cokelat tempo hari. Ada satu anak yang melihat ketika Alfa menyelinap ke dalam kelas, dan tentu saja kejadian berpotensi gosip itu kini sudah diketahui oleh hampir separuh angkatan murid baru. Entah apakah berita itu tersebar di kalangan kakak kelas juga, Beta tidak terlalu peduli.

“Mi, Alfa itu abang aku.”
Seperti dugaan Beta, Mia pasti kaget. Benar saja, mata Mia nyaris lepas dari rongganya.
Beta membuang pandangannya keluar jendela kantin. Menyebut nama Alfa dan mengingat bahwa Alfa adalah kakaknya membuat dada pedih dan mata pedas.
“Tiga tahun yang lalu orangtua kami berpisah, begitu pula kami.”
Mia bisa melihat guncangan itu di mata Beta. Tergesa dia berpindah duduk dan merengkuh bahu Beta.
“Sudah. Aku sudah cukup tahu.”
Beta merasa tak salah memilih teman sebangku dan dengan membagi kisahnya, Beta telah memutuskan untuk menjadikan Mia sebagai sahabatnya.

@@

Kerut di dahi Papa makin dalam ketika memeriksa formulir angket ekstrakulikuler yang membutuhkan tandatangannya.
“PMR?”
Beta menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya. Gaya khasnya jika memohon. Matanya membeliak jenaka, merayu Papanya.
“Kenapa bukan sinematografi, atau … ini, majalah dinding. Kamu suka kegiatan seperti itu, kan?”
Beta diam saja. Sinar matanya meredup. Cukup menjadi syarat untuk Papa mengerti situasi.

“Ada Alfa, ya. Kamu masih marah pada abangmu? Terakhir kali dia menelepon Papa, dia bilang senang sekali bisa satu sekolah denganmu. Dia kangen kamu.”
Papa hanya bisa memandangi poni Beta yang menjuntai menutupi wajahnya yang menunduk.
“Papa tahu, kan, sebenarnya aku marah pada siapa.”
Keduanya terdiam. Papa pura-pura memperhatikan tayangan film di tv yang sudah sejak 15 menit tadi dia acuhkan. Dia mencoba menebak jalan cerita yang terlewat, namun sia-sia. Beta telah menyita seluruh konsentrasinya.

 Beta tak kalah resah. Siapa yang tak merindukan abang seperti Alfa? Namun rindu itu kalah, terhajar oleh sepi dan marah saat dia ditinggalkan.
-Mama perlu orang yang bisa mengingatkannya untuk sesekali berhenti. Andaikan Papa bisa, saat ini kita berempat masih akan tetap bersama. Kau masih terlalu kecil, adikku. Jadi ikhlaskan aku menjaga Mama kita.-
Itu petikan surat pertama dari Alfa, satu minggu setelah Beta dan Papa pindah ke sudut kota yang lain. Tapi bagian hati Beta untuk Mama telah beku. Itu sebabnya dia erat menggenggam tangan Papa ketika Hakim bertanya dengan siapa dia memilih ikut. Beta tak bergeming meski mukanya basah oleh air mata dari perempuan yang telah melahirkannya, sebab sepanjang ingatan Beta, Mama acap mengabaikannya.

@@

“Bet, Mama titip salam.”
Sejak masuk kantin tadi, Beta sudah menangkap sosok Alfa. Dan karena mereka bersaudara, Beta yakin dengan segera Alfa akan merasakan kehadirannya.
Mia menyingkir begitu terlihat Alfa berjalan menghampiri. Mendengar semua cerita Beta membuat Mia mengerti seberapa penting waktu bertemu bagi kakak beradik itu. Beta juga tidak berusaha menahan Mia. Mungkin kali ini dia ingin memenangkan rasa rindunya.

“Aku …, aku ceritakan kabarmu pada Mama setiap hari.”
Diamnya Beta bukan karena ego. Ingin dia memeluk lengan Alfa seperti kebiasaannya dulu bila sedang gemas. Tapi baru Mia yang tahu siapa Alfa. Bisa-bisa seisi kantin gempar.
Beta menebak tinggi Alfa sekarang. Tiga tahun yang lalu Beta masih setinggi telinga Alfa. Sekarang mungkin beda mereka lebih dari satu kepala. Bahu Alfa kini lebih lebar dari terakhir kali Beta melihatnya. Ikal ekor udang Bago ditengkuknya sudah hilang. Berganti dengan bayangan kelabu sisa bercukur. Abangnya tampak dewasa. Tahun depan sudah masuk perguruan tinggi. Bagaimana kalau Alfa kuliah di kota lain? Ketakutan kembali menyergap Beta.

“Mama masih sering pulang malam?”
Alfa menggeleng. “Sejak empat bulan yang lalu, Mama mutasi ke bagian yang lebih banyak kerja di kantor. Keluar kota juga sudah jarang sekali.”
“Mbok Nah, masih?”
“Masih, kalau tidak siapa yang cuci baju seragamku?” Roman kocak yang dipasang Alfa memancing secarik tarikan bibir di wajah Beta.
“Salam, ya, buat Mbok Nah.”
Alfa mengangguk. Sorot matanya berharap, menunggu sesuatu keluar dari bibir Beta.
“Untuk Mama?”
Beta bangkit berdiri. “Kabarkan saja kalau aku … sehat.” Ada yang membayang di matanya, saat Beta mengucapkan kalimat itu.
Alfa terpekur di tempatnya. Dalam hati dia mengeluh, ‘Mama, apa yang sudah kau lakukan pada anak gadismu?’
@@

Ini Aku Nala - Majalah Gadis

Intuisi adalah bisikan hati.  Seharusnya aku dengarkan saat bangun pagi tadi, saat tiba-tiba saja seragam olahraga yang sudah kusiapkan dari semalam menebarkan aura horor.
Aku tidak bisa berkelit.  Begitupun tiga temanku yang lain.  Mereka harus berada satu regu denganku, yang hanya akan membuat mereka harus bekerja lebih keras supaya nilai kelompok kami tidak buruk.  Oh, semoga mereka tidak kesal.
Takut-takut kuhampiri teman-teman satu regu yang sudah mulai berdiri berkelompok.  Meski mereka tersenyum namun gemetar di kedua kakiku tidak juga reda.  Begitupun geliat di dasar perutku.
“Kamu pelari pertama, ya.  Lari saja sekuat yang kamu bisa, Nala.”
Tidak kuperhatikan siapa yang berbicara karena aku sibuk mengangguk kuat-kuat.  Seolah-olah setiap hentakan kepala bisa mengatur irama jantungku yang berdentam tanpa harmoni.
Ketika semuanya berakhir, aku mendapati diriku terhempas di rerumputan di tepi lapangan.  Tidak buruk, reguku berada di urutan ketiga dari enam regu.  Perlahan aku bisa merasakan otot-otot di seluruh tubuhku melemas dan telapak tanganku kembali memerah jambu.
***
“Katanya Mamanya Danis juga koleksi anggrek.  Aduh….” Mata Nurma memejam gemas sebelum kembali terbuka lebar ke arahku.  “Kamu datang, kan, Nala?”
Tentu saja tidak.  Itu jawaban jujur yang spontan keluar dari hati.
Tapi untuk Nurma, yang keluar adalah jawaban : belum tahu.
Aku pura-pura mencurahkan perhatian pada buku yang terbuka di depanku.  Seketika logaritma menjadi tidak seberapa menakutkan ketimbang sebuah undangan ulang tahun.
Jawaban pendekku rupanya tidak begitu berarti bagi Nurma.  Selintas kerling saja aku sudah tahu apa yang sedang dia kerjakan dengan pensil di tangannya.  Melukis anggrek.  Andai Nurma sedikit memaksa supaya aku hadir, meski hanya basa-basi, mungkin hatiku akan tergerak.
***
Berat rasanya melangkahkan kaki menuju kantin.  Tapi Mama bilang aku harus berusaha.
Sudah pasti akan ramai.  Membayangkannya saja sudah membuat dahiku basah.
Pundakku luruh di dinding sisi luar kantin.  Berada di tepian sudah menjadi kebiasaanku karena selalu ada tempat untuk bersandar saat kedua lututku goyah.  Tak apa meski aku akan terlihat seperti tanaman merambat di sini.
“Hei, kamu kenapa?”
Sial.  Aku bertahan untuk terus menunduk.  Namun pemilik suara itu justru membungkuk untuk melihat wajahku lebih jelas.
“Kamu pucat.  Masih bisa jalan?  Aku antar ke UKS, ya?”
Aku merasakan kotak bekal yang jatuh menimpa kakiku karena kedua tanganku spontan bergerak menutupi wajahku setelah sempat mata kami bertemu.  Aku tidak mengenalnya.  Belum pernah bertemu dengannya.
“Buruan ke UKS deh, kalau pingsan di sini bakalan repot ngangkutnya…”
Seloroh anak-anak lain yang berdiri di belakang murid asing itu membuat badanku meluncur ke bawah, berhenti pada posisi berlutut.  Aku paham.  Aku hapal betul reaksi mencemooh semacam itu.
“Tolong…, pergi…pergi…  Biar aku di sini saja.”
Sepertinya cowok tadi kakak kelas.  Tangannya bergerak mengambil kotak bekal yang terjatuh tadi dan meletakkannya di pangkuanku.  Pandanganku masih kuarahkan pada bebatuan bulat di bawah kakiku. 
Dengan mata kuikuti ketiga pasang kaki yang bergerak menjauh.  Setelah akhirnya sanggup mengangkat kepalaku, aku masih bisa menangkap punggung cowok tadi.  Cowok yang, hmm… ramah.
Aku kembali bisa menguasai kedua kakiku tepat saat bel menjerit.  Misiku untuk menguasai kantin lagi-lagi gagal.
***
Tidak ada yang mau bermain bersamaku.  Kata mereka aku terlalu berat untuk didorong saat kami bergantian bermain ayunan.  Aku yang belum bisa naik sepeda selalu mereka tinggal karena tidak ada yang mau membawaku di boncengannya.
“Nala payah, sih! Nggak usah ikut lompat tali, ya.  Nonton saja di pinggir!”
Vonis mereka jatuhkan.  Setelah berulangkali aku terjungkal saat harus berjongkok memegang tali, dan selalu tersungkur karena terjerat tali karet yang terbentang tak seberapa tinggi.
***
“Nala!  Ada Nurma!”  Panggilan Mama terdengar dari kaki tangga.
“Kamu tidak pergi ke ulangtahun Danis?  Masih belum enakan badanmu?”  tanya Mama saat aku melintas menuju ruang tamu.  Pasti Nurma yang memberi tahu Mama.
Punggung tangan Mama singgah di dahiku.  Tentu saja normal.  Seharian ini aku tidak bertemu dengan siapa-siapa.  Demam tadi pagi karena reaksiku terhadap peristiwa kemarin saja.
“Ternyata rumah Danis dekat dengan rumahmu, ya.  Jadi sekalian saja aku tengok. Kata Bu Guru kamu sakit...”
Nurma yang selalu tersenyum dan tertawa-tawa membuat hatiku menghangat.  Kepala teman satu bangkuku itu bergerak ke kanan dan ke kiri dengan sorot mata yang sepertinya ingin menggodaku.
“Kalau sudah sehat, datang yuk, ke ultah Danis.”
Tiba-tiba aku merasa ciut.  Datang ke pesta?  Bagaimana kalau mata-mata mereka mencemooh?  Bagaimana kalau aku terlihat aneh dengan baju pestaku?
“Temani aku melihat-lihat kebun bunga di rumah Danis.  Mau, kan?”
Otakku masih berproses.  Berusaha untuk sepakat dengan kata hati.
Mataku terpejam.  Biasanya dengan begitu akan lebih mudah menangkap kemana hatiku bergerak.
“Berangkat saja, Nala.  Kamu bisa bawa satu tas rajut yang baru selesai Mama bikin itu sebagai kado.”
Nurma pun memekik senang saat kemudian aku beringsut untuk bertukar pakaian.
***
Mama tentunya sudah berbagi cerita pada Nurma saat aku bersiap-siap tadi, karena selama di rumah Danis dia berusaha untuk selalu bercakap denganku.  Jadi aku tidak sempat memperhatikan sekelilingku dan berhalusinasi seolah-olah semua orang sedang mengamati dan menilai…penampilanku.
Selama sepuluh menit berada di kebun belakang rumah Danis yang menjadi arena pesta, aku sedikit bisa menikmati musik yang mengalun.  Belum ada dahi yang basah dan keringat yang menetes dari puncak hidungku.  Aku membayangkan sedang berada di dalam kamarku sendiri, bersantai dengan iringan lagu dari radio.  Happy place…, happy thought….  Begitu self therapy yang Mama ajarkan padaku. 
Sekalinya aku memberanikan diri untuk mengedarkan pandanganku, mataku terpaku pada sosok yang juga sedang melihat ke arahku.  Sedetik, dua detik, kemudian orang itu melambaikan tangan.  Aku membuang muka dengan gugup lalu mencoba berkonsentrasi pada cerita Nurma tentang aneka rupa anggrek berwarna ungu.
Tapi rupanya Nurma seorang penjaga yang baik, pengawasannya cukup lekat.  Matanya menangkap sekilas lambaian tangan tadi.  Mata kocak itupun membulat.
“Kamu kenal Akmal?  Eh, Kak Akmal?”
“Engg…, siapa?”
Nurma mengarahkan telunjuknya ke belakang punggungku.
“Yang melambai ke arah kamu tadi.”
“Nggak…, aku nggak kenal.”  Kepalaku menggeleng kuat-kuat.
Jadi namanya Akmal.  Sepertinya dia baik.  Tapi teman-temannya kemarin…, aku menggigil selagi mengingat kejadian siang itu.
Kugamit tangan Nurma, mengajaknya menjauh.
“Ayo, kita cari anggrek yang kamu maksud tadi.”
***
Hari ini sudah ketiga kalinya aku makan siang di kantin.  Nurma yang berkeras mengajakku.  Dia berjanji akan menemani dan membantuku mengatasi situasi.  Aku hanya minta supaya kami duduk di meja di sisi terluar, sedapat mungkin menjauh dari keramaian. 
Meja yang kami pilih adalah satu dari tiga meja yang ukurannya paling kecil dengan dua kursi sebagai pasangannya.  Sejauh ini aku bisa bersahabat dengan suasana.
Tiba-tiba terdengar kursi yang ditarik dan sebuah sapaan, “Kamu teman sekelas Danis ya?”
Sontak aku memejamkan mata, menahan perih di pangkal hidungku karena tersedak kuah pedas dari bakso yang aku tengah aku santap. 
Namun Nurma membacanya sebagai serangan panik.  Buru-buru dia mengajak Akmal ngobrol supaya aku punya waktu untuk bermeditasi kilat.
“Kakak kemarin datang juga, ya, di ultahnya Danis.  Tapi kelihatannya anak-anak kelas XII nggak ada ya, selain Kakak?”
Aku bisa merasakan perhatian Akmal beralih pada Nurma.
“Memang nggak ada anak kelas atas yang diundang, kok.  Aku kan masih keluarga Danis.  Aku sepupunya.”
‘Oh’ panjang keluar dari mulut Nurma.  Lalu kulihat dia menatap kaget ke arahku.  Rupanya aku juga bereaksi yang sama.  Mulutku menggumamkan ‘Oh’ meski terdengar samar.
Debaran di dadaku tidak sehebat biasanya bila berhadapan dengan orang asing.  Mungkin keberadaan Nurma yang menjadi penyebabnya.  Di seberang meja dia mengulas senyum menenangkan.
Tanpa aku sadari Akmal memperhatikan telapak tanganku yang membuka dan menutup berulang kali.
“Kamu masih belum sehat?  Tanganmu seperti waktu itu.  Pucat dan basah,” katanya.
Buru-buru kuraih sapu tangan di samping gelas.  Aku selalu membawanya untuk kugenggam bila basah di telapak tangannku tak tertahankan.
“Nala begitu kalau sedang gugup,” sergah Nurma.  Lagi-lagi dia membantuku bersuara.  Tapi tatapan matanya seolah memintaku untuk mencoba berkata-kata.
“I…iya, Kak.  Aku nggak papa, kok.  Terimakasih.”
Tak disangka Nurma bertepuk tangan.  Sepertinya dia terlalu gembira melihat usaha kerasku.  Kelakuan sahabat baruku itu justru membuatku jengah.  Kepalaku kembali tertunduk.
“Oh, aku juga kadang begitu kalau sedang tampil.  Namanya demam panggung.”
Ya, aku tahu dari cerita Nurma, kalau Akmal seorang drummer.  Beberapa kali grup band sekolah yang dipimpinnya meraih juara.  Tapi aku tak pernah tahu hal-hal semacam itu.  Aku terlalu rapat menutup duniaku dari warna-warni di luarnya.
Nurma berdehem.
“Kalau Nala, dia demam panggung karena trauma masa kecil, Kak.”
Satu tendangan kecil di bawah meja cukup untuk menghentikan ucapan Nurma.
Akmal bersandar pada bangku, kedua tangannya berkacak pinggang.  Pandangannya lepas ke depan.
“Begini caraku melawan demam panggung.”  Dia melanjutkan, “Tapi kamu harus bisa menguasai pikiranmu lebih dulu.  Baru setelah itu kamu bisa menguasai duniamu.”
Lalu dia berdiri.  Badannya condong ke arah Nala.
“Cobalah, kapanpun kamu merasa siap, Nala.”
***
Baru-baru ini Akmal memberitahu aku dan Nurma sebuah rahasia.  Di meja kecil favorit kami, Akmal mengeluarkan satu lembar foto dari dalam dompetnya.
“Lucu.  Chubby.  Siapa ini?  Adik kamu?”  Aku sudah lebih santai saat berbicara dengan kakak kelasku ini.
Kuangsurkan foto di tanganku pada Nurma yang disambut dengan mata yang terbeliak.
“Ini kamu, Kak?”
Hah?  Kurebut foto itu dari tangan Nurma dan mengamatinya baik-baik.
Anak laki-laki bertubuh bulat ini, Akmal?
“Aku dulu juga pernah jadi bulan-bulanan teman-temanku.  Memang tidak menyenangkan sama sekali.”
Akmal mengambil kembali fotonya.  “Aku bahkan bisa memuntahkan isi perutku setiap kali orangtuaku memaksa untuk main keluar.”
Aku tahu yang dimaksud Akmal.  Aku juga pernah mengalami rasa mual yang luar biasa setiap kali dilanda ketakutan saat akan bertemu dengan orang-orang yang pernah melukai hatiku.
“Kata terapisku, aku mengalami phobia sosial.”
“Kakak sampai menemui terapis?” potongku.
“Iya, karena waktu itu menjelang ujian kelulusan SD.  Dan traumaku itu sangat mengganggu belajarku.”
Oh, kali ini berbeda denganku.  Justru dengan menutup semua celah yang mengharuskan aku untuk bersosialisasi, aku bisa lebih berkonsentrasi dengan pelajaranku.
“Kamu hanya perlu menerima keadaanmu.  Setelah itu, anggap apa pun yang dikatakan orang lain mengenai dirimu tidak akan membawa pengaruh apa-apa bagimu.”
Kilasan peristiwa berkelebat dalam ruang kenanganku.  Hampir semuanya menyakitkan.  Reflek aku menyusut ujung mataku dengan sapu tangan.
“Jadikan hatimu layaknya bantal.  Serap semua kebaikan di sekitarmu dan tolak hal-hal buruk yang mendatangimu dengan kekuatan lontaranmu.”
Aku masih diam sepeninggal Akmal.  Aku belum pernah sampai harus menemui terapis.  Tapi di hari-hari belakangan ini, hadirnya Nurma dan Akmal menjadi terapi istimewa buatku.
***
Ini hari yang spesial.  Bergandengan dengan Nurma, aku memasuki GOR Pemuda.  Pandanganku lepas pada sekitarku.  Rupa-rupa anak manusia memenuhi tempat ini.  dan tidak satu pun menatapku dengan pandangan mencemooh.  Mereka yang berpapasan denganku hanya menatapku sambil lalu.  Kesadaranku telah pulih.
“Ayo, Nala!  Setelah ini giliran Akmal tampil!”
Setengah berlari Nurma menarikku menembus kerumunan dan baru berhenti setelah kami mencapai bibir panggung.  Tepat saat gebukan drum Akmal membuka lagu.
Aku lihat Nurma melambaikan kedua tangannya, berusaha menarik perhatian Akmal.  Suaranya yang meneriakkan nama Akmal tumpang tindih dengan lantang suara penonton yang ikut bernyanyi bersama.
Melihat semangat Nurma, aku pun mengikutinya.  Penuh semangat aku melambaikan tangan, bahkan sambil melompat. 
Dan berhasil!  Akmal melihat ke arah kami.  Aku menangkap kesan terkejut dari Akmal yang diikuti dengan senyum yang merekah lebar.
Perlahan kubusungkan dada dan meletakkan kedua kepalan tanganku di pinggang.
Aku lihat Akmal semakin bertenaga menggebuk drumnya.  Nurma pun spontan bertepuk tangan dan bernyanyi lebih kencang lagi.  Keduanya seolah mengiringi kelahiranku kembali.
Lihat sahabat, aku bisa!
Lihat dunia!  Ini aku, Nala!
*****




Jendela Kamar Kurcaci Kuri - Majalah Bobo

Kuri membuka mata.  Di atas kepalanya berayun-ayun serangkaian huruf yang disusunnya semalam.  Pelan-pelan dia membacanya, “ Ke pantai.”
Seketika dia melompat dari tempat tidurnya.  Bug! Gedebug!  Suara kakinya beradu dengan lantai kayu.
“Yuhuuu…!  Aku akan ke pantai hari ini!”
Semoga saja dia tidak kesiangan.  Sudah setinggi apa matahari pagi ini?  Kuri mengintip dari jendela.
“Ahhh, mengapa mendung?”
Kuri melihat langit yang berwarna abu-abu.  Seketika hatinya ikut kelabu.  Pemandangan di luar sangat tidak menarik.  Hilang sudah semangatnya pagi ini.
“Sepertinya aku mendadak merasa sakit.”  Dengan lesu Kuri kembali rebah di tempat tidurnya, lalu menarik selimut hingga menutup kepalanya.
Kuri merasa sudah tertidur cukup lama ketika Mama Kurica membangunkannya.
“Sarapanmu hampir dingin, Kuri.”
Ada semangkuk sup jagung di tangan Mama Kurica.
Apa aku benar-benar sakit?
“Katanya Kuri mau pergi ke pantai hari ini, kenapa tidak jadi?  Apa Kuri tidak enak badan?”
Mama Kurica menempelkan punggung tangannya di dahi Kuri.
“Badanmu tidak hangat.  Tapi kenapa Kuri terlihat lemas?”
Kuri menggelengkan kepalanya.
“Aku kehilangan semangat, Mama.”
“Kalau begitu, makanlah, supaya semangatmu kembali.  Kakak-kakakmu sudah berangkat ke pantai pagi tadi.”
Kuri bangun dan duduk bersandar.  “Bukannya pagi tadi mendung, Mama?”
Mama menggeleng.  “Tidak, sayang.  Tadi pagi cerah sekali.”
Dari pintu kamarnya yang terbuka, Kuri bisa melihat kamar Kukis, kakaknya, yang tampak terang.  Sepertinya hari memang cerah di luar sana.
***
Baru menjelang sore saudara-saudara Kuri pulang dari pantai.  Mereka terlihat senang dan  tertawa-tawa riang.
“Lihat!  Aku berhasil mengumpulkan kerang-kerang kecil yang cantik.  Aku akan membuat hiasan dinding dari kerang-kerang ini,” kata Kak Kulila.
“Aku tadi mengumpulkan kerang-kerang besar.  Akan aku masukkan ke dalam akuarium.  Bisa jadi rumah-rumahan untuk ikan-ikan kecilku,” ujar Kak Kukis.
Kuri tersenyum kecut.  Sebenarnya dia ingin mengumpulkan pasir putih dalam botol-botol kecil yang cantik.
Kak Kukis menepuk-nepuk kepala Kuri.
“Jangan sedih Kuri.  Besok kita ke Bukit Capung, yuk!  Kita berangkat pagi, selagi capung-capung terbangnya masih lambat.”
Wajah Kuri berseri lagi.  “Bangunkan aku, ya, Kak!”
***
Kuri yang suka lupa semalam sudah merangkai huruf lagi di atas tempat tidurnya.  Huruf-huruf itu berbunyi : Bukit Capung.
Pagi itu Kuri membacanya dan dia senang karena bisa bangun sebelum dibangunkan oleh kakaknya.  Dia berguling ke samping untuk melihat jendela.
“Yah…, mendung lagi!  Hujan pula!”
Kuri melihat ada tetesan air di kaca jendelanya.  Batal lagi acara jalan-jalannya hari ini.  Hatinya yang gembira tadi mendadak berubah menjadi sedih dan muram.
Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk dan terbuka.  Kak Kukis dan Kak Kulila sudah siap dengan jaring di tangan mereka.
“Ayo, Kuri!”
Kuri menunjuk ke jendela.  “Tapi hujan, Kak.”
Kukis dan Kulila berpandangan.
“Siapa bilang hujan?  Pagi ini cerah, kok!”  kata Kak Kulila.
Kukis menghampiri jendela dan membukanya.
“Lihat, Kuri!  Bukan langit yang mendung, tapi kaca jendelamu yang tidak pernah kamu bersihkan.  Lihat, debunya tebal sekali!”
Ahh!  Sekarang Kuri mengerti, mengapa dia selalu melihat langit yang kelabu.  Tetesan air yang dia lihat pun bukan air hujan, tetapi embun.  Hampir saja Kuri gagal lagi bersenang-senang hari ini, hanya gara-gara dia malas membersihkan kaca jendelanya.
Kuri lalu mengusap kaca jendela dengan kain yang dibawakan Kak Kulila.  Benar saja,  sinar matahari sekarang leluasa memasuki kamarnya.  Hari yang cerah!

*****